Benarkah (Aksen) Bahasa Madura Sumenep Lebih Halus?

Malam ini saya tertawa ngakak sama istri yang notabene asal Sumenep. Pasalnya, melalui jarak jauh, istri membantu mertua atas kendala token listrik yang tidak berhasil diaktivasi. Dua pekan lalu, kebetulan, kami mengalami hal yang sama. Istri menelpon call center PLN pusat. Tidak berapa lama, orang PLN Sumenep menelpon. Tentu saja itu nomor baru. Karena nomor baru, ketika telpon diangkat, istri dan orang Sumenep itu diam. Tentu saja istri saya menunggu siapa yang menelponnya.

Dan, tanpa babibu, orang di seberang itu memulai percakapan, “bede napa? Napana setakbisa…” (Saya masih ngakak sambil nulis ini). Bayangkan, orang tidak dikenal, tanpa kenalan, tiba-tiba tanya gitu dengan intonasi yang aneh di telinga. Hal itu terus berlanjut sampai ke percakapan WA.

“Aneh di telinga” ini adalah pengalaman pertama saya menjadi warga Sumenep 2012 lalu. Sebetulnya, merasa aneh antaraksen bahasa Madura ini sering terjadi dan sering jadi bahan gurauan. Tapi, pengalaman ini bukan soal itu. Ini tentang pertanyaan saya atas berbagai klaim bahwa bahasa Sumenep lebih halus dari bahasa Madura di daerah lain, bahkan disampaikan berbagai buku.

Saya merasa aneh, misalnya, ragam “enggi bunten” nyaris tidak digunakan ketika seseorang ngobrol dengan yang lebih tua. Tentu saja, ini perlu diteliti lebih lanjut. Dengan pengalaman saya di Bangkalan (2011), Sumenep (2012), dan saat ini di Pamekasan, pertanyaan itu terus menggelayut. Dalam beberapa hal, saya melihat bahasa Madura “enggi bunten” juga bergantung pada pola pendidikan “berbahasa” di lingkungan keluarga. Tidak peduli ragam bahasa Madura dari daerah mana. Nyaris sama, berkait pada kebiasaan di lingkungan keluarga.

Jadi, bahasa Madura dialek Sumenep itu halusnya di mana? Pertanyaan ini pernah saya ajukan dalam diskusi di luar forum ketika Radar Madura mengadakan acara bersama Kancakona akhir tahun 2018, kalau gak salah.

Related Posts