Ijtihad itu Tunduk pada Nash

 حَدَّثَنِي يَحْيَى، عَنْ مَالِكٍ، أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُوُفِّيَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ، وَدُفِنَ يَوْمَ الثُّلَاثَاءِ، وَصَلَّى النَّاسُ عَلَيْهِ أَفْذَاذًا لَا يَؤُمُّهُمْ أَحَدٌ، فَقَالَ نَاسٌ : يُدْفَنُ عِنْدَ الْمِنْبَرِ، وَقَالَ آخَرُونَ : يُدْفَنُ بِالْبَقِيعِ، فَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ ، فَقَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ” مَا دُفِنَ نَبِيٌّ قَطُّ إِلَّا فِي مَكَانِهِ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ “، فَحُفِرَ لَهُ فِيهِ، فَلَمَّا كَانَ عِنْدَ غُسْلِهِ أَرَادُوا نَزْعَ قَمِيصِهِ، فَسَمِعُوا صَوْتًا يَقُولُ : لَا تَنْزِعُوا الْقَمِيصَ، فَلَمْ يُنْزَعِ الْقَمِيصُ، وَغُسِّلَ وَهُوَ عَلَيْهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Hadist di atas, ada pada kitab Muwattha’ karangan Imam Malik dalam Bab Janazah”. Nomor hadist 620 versi aplikasi Jami’u Kutubu al-Tis’ah.

Syekh Sa’id Al-Kamali yang bermadhzab Maliki menjelaskan bahwa hadist ini memberikan bukti bahwa ijtihad menjadi gugur di hadapan nash.

Hadist di atas menjelaskan letak makam Nabi yang diperselisihkan para sahabat. Sebagian sahabat merekomendasikan agar Nabi dimakamkan di mimbar Nabi Muhammad SAW. dan sebagian sahabat yang lain merekomemdasikan untuk dimakamkan di pemakaman Baqi’.

Perselisihan para sahabat nabi perkara lokasi pemakaman Nabi Muhammad SAW. bukan tanpa alasan. Masing-masing kubu yang terdiri dari para sahabat, memiliki alasannya masing-masing.

Kubu yang merekomendasikan agar Nabi di makamkan di mimbarnya mempertimbangkan bahwa Nabi pernah bersabda:

مابين بيتي ومنبري روضة من رياض الجنة

“Antara rumahku dan mimbarku adalah taman (raudhah) dari taman-taman surga”

Sedangkan kubu yang merekomendasikan pemakaman Nabi diletakkan di Baqi’ beranggapan bahwa di pemakaman Baqi’ banyak para sahabat Nabi dimakamkan di sana dan Nabi sering mengunjungi pemakaman Baqi’.

Dua kubu sahabat yang sedang berselisih itu terjadi sebelum ada kabar dari Sahabat Abu Bakar as-Siddiq RA. yang menyampaikan sebuah riwayat hadist bahwa beliau telah mendengar dari Rasulullah SAW. bersabda “Para Nabi tidak pernah dimakamkan kecuali pada lokasi dimana Nabi itu diwafatkan”.

Syekh Said Al-Kamali mengungkapkan bahwa perselisihan dua kubu sahabat merupakan problem ijtihad dengan latar belakang pengambilan hukum yang berbeda sebagaimana diatas. Disamping dua kubu sahabat tersebut tidak menyebutkan nash yang secara gamblang mengarahkan lokasi pemakaman Nabi.

Sedangkan apa yang disampaikan oleh Sahabat Abu Bakar RA. merupakan nash yang statusnya di atas ijtihad. Oleh karena status nash berada di atas ijtihad, maka bisa disepakati bahwa pemakaman Nabi Muhammad SAW. berada pada lokasi di mana Nabi meninggal. Persisnya di kamar Sayyidah Aisyah RA.

Terkait status nash berada di atas ijtihad ini, Syekh Said Al-Kamali menunjukkan tiga ayat yang melandasi konklusi logika bahwa nash berada di atas ijtihad. Yang itu artinya, konklusi logis itu tidak memiliki landasan.

Pertama, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka.”

Kedua, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوٓا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Ketiga, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَىِ اللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Dengan demikian, Syekh Said Al-Kamali menegaskan bahwa jika ditemukan sebuah dalil nash dari kalamullah, atau dari hadist Nabi Muhammad SAW maka tidak ada opsi lain selain apa yang telah ditentukan.

Shalat Janazah Tanpa Imam

Hadist di atas, lagi-lagi menyimpan sebuah pelajaran penting selain yang telah dituturkan.

Pada Hadist yang ditakhrij secara tunggal oleh Imam Malik ini menjelaskan bagaimana praktik shalat jenazah atas Nabi Muhammad SAW. Para sahabat tidak melakukan praktik shalat jenazah seperti umumnya.

Para sahabat melakukan shalat jenazah kepada Nabi Muhammad SAW sendiri-sendiri tanpa ada imam yang memimpin komando shalat.

Menurut Syekh Said al-Kamali, hal tersebut terjadi karena beberapa kemungkinan. Kemungkinan adalah faktor kamar Nabi Muhammad SAW. yang sangat kecil; atau kemungkinannya karena pasca wafatnya Nabi Muhammad dikarenakan tidak ditemukannya Imam yang pantas untuk memimpin shalat jenazah atas Nabi; atau kemungkinannya disebabkan agar seluruh sahabat Nabi dapat melaksanakan shalat jenazah sehingga masing² sahabat memperoleh fadilah menyolatkan jenazah Nabi.

Tetapi sebagian ulama berpendapat bahwa peristiwa tersebut tidak bisa dinalar. Ulama ini berargumen bahwa apa yang dilakukan oleh para sahabat tersebut merupakan ranah peribadatan (amrun ta’abbudi). Nalar tidak sanggup menjangkaunya.

Dan ketidaksanggupan menalar ranah peribadatan merupakan hal yang lumrah juga terjadi baik karena dalil al-Quran maupun al-Hadits.

Selanjutnya dikatakan oleh Syekh Abu al-Qasim as-Suhaili al-Andalusi al-Maliki bahwa bershalawat kepada Nabi merupakan perintah dari Allah SWT.

Semua orang² mukmin wajib hukumnya mentaatinya karena itu merupakan perintah dari Allah SWT. Namun shalawat yang kita baca bukan dalam rangka mendoakan Nabi Muhammad. sekalipun lafadz dalam shalawat berarti doa untuk Nabi.

Kitalah yang membutuhkan doa, bukan Nabi. Nabi tidak membutuhkan doa² kita sebab posisi Nabi disisi Allah telah mencukupi akan doa itu.

Apa yang berlaku dalam pembacaan shalawat sejatinya juga berlaku pada kasus menyolatkan jenazah Nabi. Artinya, sekalipun kandungan yang berada pada shalat jenazah adalah doa, ketika menyolatkan jenazah Nabi, maka hal tersebut tidak berguna.

Wallahu a’lam

Nb: edisi revisi

Link ngaji muwaththa’ Syekh Said al-Kamali = https://youtu.be/vXtG3_KXtsY

Related Posts