Kembali Mengurai Akar Masalah Antara Asy’ariyah, Hanabilah dan Taimiyah (Wahhabiyah) tentang Al-Qur’an dan Sifat Kalam

ilustrasi: darut tauhid

Berikut ini adalah tahrir mahallin niza’ antara Asy’ariyah, Hanabilah dan Taimiyah [Salafi Wahabi] terkait dengan sifat Kalam Allah. Semoga Allah memberikan ilham kebenaran dan bukan fitnah.

PENDAPAT PERTAMA:

Pendapat pertama mengatakan bahwa pelafazhan al-Qur’an adalah makhluk. Ini adalah pendapat Imam al-Karabisi, Imam al-Bukhari, Imam Muslim dan lain-lain. Tetapi khusus Imam al-Bukhari, beliau meyakini bahwa kalam Allah memiliki suara berdasarkan hadits-hadits Nabi yang diyakini shahih sebagaimana akidah Hanabilah.

PENDAPAT KEDUA:

Pendapat kedua adalah pendapat Asy’ariyah. Dalam hal ini, mereka terbagi menjadi dua kubu:

Kubu pertama [jumhur Asy’ariyah] yang membedakan antara makna dan ‘ibarah mengatakan bahwa al-Qur’an memiliki dua pengertian, yaitu:

[1] Al-Qur’an bermakna Kalamullah yang bukan ‘ibarah [ungkapan] dari kalam nafsi, yang berarti tidak berupa suara dan huruf.

[2] Al-Qur’an bermakna ‘ibarat dari kalam nafsi Allah. Yaitu lafazh-lafazh yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan yang membacanya mendapatkan pahala.

Al-Qur’an pengertian yang pertama bukan makhluk, sebab ia bermakna sifat Allah yang menetap pada dzat Allah. Sementara al-Qur’an dengan makna yang kedua adalah makhluk, karena ia adalah lafazh yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang merupakan ‘ibarah dari kalam Nafsi yang sebelumnya tidak ada.

Kubu kedua dalam madzhab Asy’ariyah meyakini bahwa tidak ada beda antara makna atau ‘ibarah al-Qur’an. Menurut pendapat ini, al-Qur’an adalah Kalamullah dan bukan makhluk. Atau bahasa mudahnya tanpa memerinci apakah al-Qur’an ‘ibarah kalam nafsi atau tidak.

Sebagian ulama’ Asy’ariyah kontemporer menyebut bahwa pendapat ini lebih sesuai dengan akidah salaf, walaupun pendapat pertama juga bagian dari madzhab salaf [pendapat Imam Ibn Kullab dll]

PENDAPAT KETIGA:

Pendapat ketiga adalah pendapat Ibn Taimiyah. Ia mengatakan bahwa al-Qur’an adalah hadits [baru] atau muhdats. Dan menurutnya, Kalamullah memiliki suara dan huruf sebagaimana akidah Hanbali.

Pendapat ini membedakan antara istilah “hadits” [baru] dengan istilah “makhluk” dan menyelisihi jumhur ulama’. Karena menurut jumhur, antara istilah “hadits” dan “makhluk” tidak ada beda sama sekali.

Pendapat Ibn Taimiyah diatas menyelisihi jumhur ulama’ Islam, karena:

1. Menisbatkan tajaddud dalam Kalamullah atau al-Qur’an [Allah berkalam, kemudian diam, berkalam lagi, diam lagi, dan begitu seterusnya]. Dan ini adalah karekteristik al-Qur’an yang hadits atau muhdats menurutnya.

2. Meyakini sifat hadits [baru] seperti berkalam yang baru dan menetap dalam zat Allah [qiyamul hawadits bi dzatillah].

PENDAPAT KEEMPAT:

Pendapat keempat adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal [pelopor Hanabilah Atsariyyah]. Beliau tidak menerima tiga pendapat diatas. Menurut beliau, al-Qur’an adalah Kalamullah yang berupa suara yang qadim [tidak makhluk atau hadits] dan tidak pula dibedakan antara al-Qur’an adalah ‘ibarah kalam nafsi atau tidak sebagaimana Asy’ariyah.

KESIMPULAN:

1. Akidah Asy’ariyah terkait Kalamullah berdasarkan hujjah yang kuat dan ilmiyah; tidak ta’thil dan tetap tanzih. Dan bagi Hanabilah, walaupun mereka tidak setuju dengan keputusan akidah Asy’ariyah ini, tapi mereka hanya menyebut sebagai bid’ah yang ringan [khilaf dalam furu’ akidah].

2. Akidah Hanabilah yang menetapkan huruf dan suara dalam Kalamullah juga memiliki hujjah yang kuat walaupun lemah menurut Asy’ariyah, tapi khilaf antara mereka sejatinya hanya khilaf dalam furu’ akidah, walaupun fakta sejarah mencatat mereka pernah khilaf yang menjurus panas.

3. Akidah al-Bukhari dalam satu tertentu sama dengan Asy’ariyyah, yaitu menetapkan lafazh al-Qur’an adalah makhluk dan berbeda dengan Imam Ahmad.

4. Akidah Ibn Taimiyah sebagian mengikuti Imam Ahmad bin Hanbal, tapi sebagian yang lain menyelisihi jumhur ulama’.

Wallahu A’lam.

Related Posts