Lebih Cermat Mengkonsumsi Ayam

Karena rumah mertua dulu dekat dengan pasar di kawasan Tambaksari saya melihat sendiri ayam disembelih tidak tepat, hanya luka gores sedikit di leher tetapi kedua rongga, tempat keluarnya nafas dan makanan, tidak terputus. Sejak saat itu saya mulai selektif makan daging ayam. Saya kuatir mengkonsumsi bangkai, karena ayam tidak disembelih sesuai Fikih.

Ternyata betul demikian keadaan ayam-ayam potong di lingkungan kita, namun jelas tidak dapat dipukul rata karena memang ada yang sesuai Syar’i. Hal ini saya peroleh kepastiannya tadi siang bersama Dr. Ali Arifin, Dekan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya.

Ayam-ayam yang hendak akan disembelih sama sekali tidak mencerminkan ihsan seperti perintah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam. Mulai saat ditimbang ayam-ayam diperlakukan seperti mengangkut barang, dimasukkan ke pick up terbuka, berjejal sesak dengan ayam lain, melek-merem saat di kendaraan, begitu tiba langsung dipotong di pasar tradisional.

Proses pemotongan juga tidak tepat, kadang belum mati dan bahkan cuma luka sedikit di leher langsung dimasukkan ke bak besar yang berisi air panas. Sama sekali tidak memenuhi kriteria Halalan Thayyiban.

Ayam-ayam tersebut menjadi konsumsi terbesar kalangan kita, mulai ayam goreng, sate ayam, soto ayam, mie ayam, ayam geprek, ayam lodho, ayam bakar, kare ayam, nasi goreng, martabak dengan campuran daging ayam, dan sebagainya.

Semoga Allah memberi kemudahan dalam ikhtiar kita mengurangi peredaran ayam yang disembelih tidak sesuai Syar’i dan memberi kesadaran pada masyarakat akan pentingnya makanan yang halal dan bergizi, yang diprakarsai oleh para akademisi dari UIN Sunan Ampel dan bekerja sama dengan MUI Jatim, Dinas Peternakan dan Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen.

 

Related Posts