Mencintai Orang Alim atau Orang Saleh Yang Hakiki

Imam al-Ghazali Ra. ketika menutup kajian Mahabbah (cinta) dalam kitab fenomenalnya yaitu Ihya ‘Ulumiddin berkata tentang cinta tersebut :

أَنَّ كُلَّ مَنْ أَحَبَّ عَالِمًا أَوْ عَابِدًا أَوْ أَحَبَّ شَخْصًا رَاغِبًا في علم أَوْ فِي خَيْرٍ فَإِنَّمَا أَحَبَّهُ فِي اللَّهِ ولله وله فيه من الأجر والثواب بقدر قوة حبه.

“Siapa yang mencintai orang alim atau orang salih, maka sebenarnya ia hanyalah mencintai Allah dan baginyalah pahala seukuran cintanya dia.”

Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad Ra. seorang ulama karismatik sekaligus Penyusun Ratibul Haddad berkata :

لا يصح وجود المحبة إلا بموافقة المحبوب فيما يأتي ويذر حسب الاستطاعة.

“Tidak sah adanya cinta kepada seseorang alim atau salih kecuali dengan mengikuti akhlah mereka sebisa mungkin.”

Imam Hasan Ra. juga ikut komentar tentang syarat cinta yang hakiki kepada mereka, Beliau berkata :

يا ابن آدم لا يغرنك قول من يقول المرء مع من أحب فإنك لن تلحق الأبرار إلا بأعمالهم فإن اليهود والنصارى يحبون أنبياءهم وليسوا معهم.

“Wahai anak Adam : Janganlah engkau tertipu akan perkataan seseorang tentang “ المرء مع من أحب. (seseorang akan berada dengan orang yang ia cintai)

Sebab engkau tidak akan bergabung dengan orang-orang baik, melainkan dengan mengikuti akhlak mereka.”

Kemudian Imam al-Ghazali Ra. berkata :

وهذه إشارة إلى أن مجرد ذلك من غير موافقة في بعض الأعمال أو كلها لا ينفع.

“Dari keterangan Imam Hasan tersebut, bahwa mencintai orang alim atau salih tanpa mengikuti sebagian atau semua akhlak mereka, cinta seperti itu tiadalah manfaatnya. (CINTA PALSU)

Cintai Orang Alim dan Salih dengan mengikuti akhlak mereka, maka cintamu akan menjadi cahaya bagimu dunia dan akhirat

(Coretan Sang Pencari Cinta)

📗 Ihyaa ‘Uluumiddin Juz 2 Hal. 16٠ & 166.

📗 an-Nafaais Al-‘Ulwiyyah Hal. 78.

Related Posts