Menemui Syams Tabrizi (Part 4)

Ilustrasi: http://dwellerofearth.blogspot.com

Mengkritik ulama eksoteris

Suatu hari, Syams Tabrizi hadir dalam pertemuan para ulama di Konya yang diadakan di sebuah zawiyah atau pondok. Para ulama itu sedang mendiskusikan sejumlah isu sosial. Kira-kira semacam “Bahtsul Masail” NU. Kitab-kitab referensi diletakkan di atas meja yang telah disediakan. Masing-masing ulama menyampaikan pendapatnya atas isu-isu itu, sambil mengutip hadis Nabi, al-Atsar (pernyataan sahabat Nabi) dan ucapan “Auliya” para waliyullah atau bijak bestari.

Syams Tabrizi tampak resah mendengar dan menyaksikan perdebatan itu. Ia terusik ingin sekali ikut bicara. Ia lalu mengacungkan tangannya, mohon diberi kesempatan bicara. Setelah diberi kesempatan, ia berdiri, kemudian mengatakan:

إلى ما تمضون أوقاتكم في النقل عن فلان وفلان. أليس لديكم شيء جديد تقولونه؟ ومتى سيقول أحدكم: قلبي نقل عن إلهي كذا وكذا. بدلا من أن تستعيدوا كلاما مكررا مسموعا ومعروفا؟ (شمس التبريزي)

Sampai kapan kalian menghabiskan waktu-waktu kalian dengan mengutip kata si anu dan si anu? Apakah tidak ada sesuatu yang baru yang kalian sampaikan? Kapan ada orang yang mengatakan, ‘Hatiku menerima dari Tuhanku begini dan begini, daripada mengulang-ulang kata-kata orang, atau menerima begitu saja pernyataan-pernyataan yang didengar dan yang sudah dikenal?”. (Syarh Qawa’id al-‘Isyq al-Arba’un).

Guru Maulana Jalaluddin Rumi dan sufi “nyentrik” ini tampaknya sedang mengkritik pengetahuan eksoteris, pandangan-pandangan dan metode Bahtsul Masail bernuansa konservatif itu dan belum beranjak ke pemecahan substantif, filosofis, dan sufistik atau esoterik.

Kritik Syams yang tajam itu mengundang kontroversi bahkan kemarahan para ulama eksoteris, ulama fiqh. Tetapi ia tak perduli. Dia kemudian meninggalkan tempat itu, untuk meneruskan perjalanan pencarian seseorang yang sering mengganggu tidurnya.

03.09.21

HM

 

Related Posts