Pak AR Fakhrudin dan Ikhtiar Merawat Kecerdasan Kultural

Masih adakah kecerdasan kultural di Persyarikatan ini ? Bila tertawa susah didapatkan, musik ditiadakan, maulid dibid’ahkan, dan rokok diharamkan ?

Hipotesisnya adalah: Apakah majunya amal usaha berbanding lurus dengan majunya jamaah di akar rumput ?

Lantas cara beragama macam apakah yang hendak dibangun kyai Dahlan dengan mendirikan Muhammadiyah — pertanyaan klise ditengah gurita amal usaha yang hegemonik —benarkah kyai Dahlan bertujuan membangun holding atau company ?

Lcd proyektor mengintervensi pengajian di cabang-cabang dan ranting dengan materi super berat atas nama kembali kepada Al Quran dan Hadits layaknya kelas-kelas sekolah tinggi yang dipaksakan karena para ‘muridnya’ adalah orang-orang sepuh — banyak yang gagal paham atau diam dengan berbagai interpretasi.

Agomo iku ngatur supoyo urep kepenak.

Urep ndek ndonya kepenak, mangan wareg, nyandang apik, paketan panjang, bengi iso ngopi.

Urep ndek akherat kepenak, melbu suwargo dhuwur. Omah apik kari ngenggoni, widodari 73 kari nglayani.

Tugas ulama dan mubaligh menjelaskan yang tidak jelas atau memberi kemudahan bila ada kesulitan— bukan sebaliknja. Termasuk mencari jalan alternatif syukur solutif. Agar hidup bahagia di dunia dan akherat mudah di dapatkan, dengan cara efisien.

Saya termasuk yang paling kawatir ketika ulama-ulama Muhammadiyah bergeser ke kampus — bukan tak suka, hanya mencemaskan pendulum bergeser kuat ke ruang-ruang akademis, elitis dan jauh dari kehidupan real jamaah.

Masa depan Persyarikatan ini makin kuat di struktural karena amal usaha yang kuat tapi dikawatirkan sokongan kulturalnya terus melemah —- banyak warga yang bekerja sebagai tukang angkut kuli bangunan buruh pekebun petani peladang nelayan bakul cilok ‘kesingsal’ tak cukup mampu mengejar pikiran maju para ulama kampus.

Mediasi ini menjadi sangat penting, bukankah para nabi diturunkan dengan bahasa kaumnya meski dengan berbagai catatan dan penjelasan. Pak AR Fakhrudin adalah model yang cukup signifikan bagaimana memediasi ulama kampus dan ulama kultural saat itu meski kemudian hilang seiring bergesernya waktu.

Dalam bahasa sederhana Pak AR pernah menyebut bahwa ranting adalah The Real Muhammadiyah — tempat para jamaah urunan bikin masjid mushala sekolah klinik atau sekedar kue yang dibawa pada pengajian di mushala depan rumah— wajah kultural ini terpelihara di ranting dan cabang-cabang sebagai ruh yang hidup.

Tapi bisa saja semua berganti packaging: tradisi kultural itu telah berubah menjadi seminar, fgd, webinar dst adalah sebentuk selera Islam modern dengan wajah kosmopolit. Pesan-pesan kultural yang melekat pun ikutan bergeser — tapi siapa bisa cegah, dunia terus berubah. Wallahu taala a’lm

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Related Posts