Moderasi Hanya Diwarisi Oleh Insan yang Rendah Hati

Banyak muslim yang hanya mengambil potongan ayat “wa kazdalika ja’alnakum ummatan wasathan” sebagai dalil moderasi. Padahal substansi ayat ini ada pada penggalan kalimat sesudahnya: “liyakunu syuhadaa” (supaya menjadi saksi/pemerhati).
Bagaimana dapat berperan sebagai saksi/pemerhati jika sikap jumawa terpatri dalam hati? Jumawa pada diri personal timbul sebab sikap takabbur. Sementara jumawa pada diri kelompok timbul karena sikap ta’assub dan fanatik. Makanya dalam bentang sejarah sering terjadi “kelompok moderat” mengalami pergeseran nilai yang diperjuangkan akibat tertelikung sikap takabbur dan ta’assub.
Saksi/pemerhati (syuhadaa) yang baik dituntut dapat menjadi penyimak yang bijak. Dus, penyimak yang bijak biasanya ia merupakan orang yang rendah hati. Penyimak bukan berarti tidak tahu, yang selalu menjadi objek atau penonton. Seperti peneliti atau wartawan, sekalipun sebetulnya ia tahu dan paham tetapi karena alasan peran maka mereka seperti pihak yang belum tahu dan ingin tahu dari pihak yang diteliti dan diwawancarainya.

Begitu juga saksi/pemerhati (syuhadaa) yang menyimak dengan bijaksana, maka ia dituntut berendah hati dan melawan super egonya. Tapi seringkali ada pertanyaan : bukankah Islam itu di atas (ya’lu wa la yu’la alaih) sehingga kalau dituntut menjadi moderat sama halnya Islam tak boleh di atas? Atau bukankah jika paham yang kita anut tidak diperjuangkan maka akan digeser oleh paham lain?

Ya, pertanyaan itu muncul dikarenakan masih ada rasa jumawa dalam diri. Tahu arti “ummatan wasathan” tapi belum memiliki sikap rendah hati.

Related Posts