Pembaca dan Penulis Pejuang, Pablo Neruda

Membaca kisah Pablo Neruda, penyair asal Chile yang konon sempat diasingkan di tepi pantai terpencil. Ia Seorang penulis yang hidup di tengah masyarakat yang tidak suka dan tidak bisa membaca.

Kehidupan Neruda ternyata tidak seperti bayangan kita. Ia justru dihargai oleh orang-orang yang buta huruf di sekitarnya. Mereka sangat menyayangi Neruda dengan sepenuh hati. Puisi-puisi Neruda banyak dibeli dan bahkan diborong oleh orang-orang yang buta huruf.

Buku-buku Neruda memang tidak mungkin dibaca oleh mereka. Tetapi mereka sangat bangga dan hormat dengan Neruda. Buku-buku Neruda yang dibeli dan diborong itu dipajang di almari dengan rapi dan dirawat betul. Sebab apa yang diperjuangkan Neruda sangat berkesan bagi mereka. Ia konsisten dalam membela dan mengadvokasi kepentingan umat yang tertindas meski risiko politik terus menghantuinya. Tetapi Neruda dengan kekuatannya mampu menerimanya tanpa ada ketakutan sedikitpun. Bahkan nyaris tak pernah menerima sikap sial dan tragis.

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, Neruda sangat sabar. Rasa geram tentu saja ada. Namun ia memilih untuk menahan diri. Itu yang disebut di dalam novel Antonio Skarmeta sebagai “Burning Patience”, atau “Kesabaran yang Membakar/Menyala”. Kesabaran yang membakar bukan berarti Neruda bermaksud menghancurkan. Tetapi ia memberikan suasana riang kehangatan untuk tetap bertahan dan terus survive jauh dari kesepian.

Membaca kisah ini, banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Utamanya adalah dalam hal konsistensi, literasi, integritas, keberpihakan dll. Tetapi saya lebih menyoroti bagaimana seorang penulis dan pembaca ulung bisa dihargai dan benar-benar dijaga kewibawaannya oleh orang-orang yang memang tak bisa dan tak tau dengan literasi (buta huruf). Ini benar-benar orang hebat.

Dalam benak saya, Neruda tidak hanya hebat tetapi mungkin juga sakti. Hidupnya benar-benar untuk kemaslahatan umat. Tentu saja bukan sosok yang hidupnya untuk dirinya sendiri, bukan orang yang sering mengingkari janji apalagi mengkhianati komitmen. Ini yang hilang dari kita. Belakangan ini banyak orang yang kehilangan integritas ilmu.

Banyak orang sudah kenal dan bahkan paham dengan kemuliaan agama. Tetapi masih lancar mencaci maki dan menyebarkan kebohongan.

Neruda menulis dan membaca tidak untuk konsumsi pribadi. Ia penulis pejuang. Menulis menggunakan teks tidak hanya sebagai medium retorika tetapi sebagai perubahan sosial, ekonomi dan politik. Sehingga penduduk di sana tidak hanya menghargai Neruda sebagai pejuang tetapi mereka juga menghargai buku-buku byang ditulisnya sebagai medium perjuangannya.

Tak ada satupun seseorang yang bisa dikagumi kecuali ia memiliki integritas, memiliki kepekaan sosial dalam arti kemanusiaan dan konsisten, tidak mencle-cle.

Related Posts