Batas Leluhur

Ilustrasi: istimewa (bincang syariah)

Setiap masyarakat memiliki leluhurnya sendiri-sendiri. Nenek moyang yang diwarisi generasi berikutnya, baik langsung atau tidak langsung. Dalam masyarakat sangat awal di Nusantara, kita sudah memiliki kepercayaan lokalnya masing-masing, dengan penyebutan, dan saya tidak begitu setuju, Animisme dan Dinamisme. Kemudian, terdapat beberapa agama yang juga masuk ke Nusantara, seperti Hindu, Budha, Islam, Kristen, Katholik.

Keberadaan agama tersebut diikuti oleh budaya dan peradabannya masing-masing. Dari latar yang panjang, masyarakat sekarang memiliki leluhur yang beragam. Masyarakat Melayu, (di Riau, misalnya), walaupun pada abad ke-4 hingga ke-7 sudah ada masyarakat dan peradaban (yang dianggap Budha), tetapi masyarakat Melayu mengambil leluhurnya pada peradaban Islam.

Itulah sebabnya, kini, masyarakat Melayu identik dengan masyarakat dan budaya Islam. Praktik hidup dan berbagai orientasi budaya terutama berbasis Islam.

Beberapa kelompok masyarakat di Kalimantan memilih leluhurnya dengan caranya sendiri. Masyarakat Dayak masih ada yang memiliki kepercayaan lokal Kaharingan yang kemudian didekatkan dengan agama Hindu sehingga menjadi Hindu Kaharingan. Sebagian yang lain memilih sebagai masyarakat Kristen. Hal tersebut dikarenakan di luar agama resmi negara, kepercayaan lokal tidak diakui. Walaupun beragama Kristen, sebagai masyarakat Dayak memilih leluhurnya yang sangat jauh sebagai nenek moyangnya.

Masyakat Bali, dengan Hindu, memilih leluhurnya hingga batas awal masyarakat Hindu di Nusantara. Di Papua, walau Kristen, Katholik, dan Islam berkembang, tetapi sangat banyak masyarakat Papua yang memilih leluhurnya dalam batas yang paling jauh tidak terikat dalam konteks agama resmi.

Hal tersebut sedikit berbeda dengan masyarakat Jawa, khususnya Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Memang, masyarakat di Jawa mayoritas beragama Islam. Akan tetapi, masyarakat di Jawa organisasi berbasis agama cukup penting. Mereka orang Islam yang “terikat” dengan doktrin Muhamadiyah, mengambil leluhurnya dalam batas-batas Islam yang tidak dekat dengan takhayul, bid’ah, dan churafat (TBC).

Itu artinya, batas luluhur masyarakat Islam Muhamadiyah sejauh yang dalam sejarah tidak berhimpitan dengan TBC. Masyarakat Islam Muhamadiyah tidak mengikuti berbagai ritual budaya Jawa yang dianggap mengandung TBC. Walaupun, sebagai misal, dulu ada ulama Muhamadiyah yang dekat dengan Kraton Yogya, misalnya, bahkan salah satu perkampungan yang sangat dekat dengan Kraton Yogyakarta adalah Kauman (Muhamadiyah), tetapi untuk urusan-urusan ritual berbasis budaya Jawa Mataram, tidak secara eksplisit diikuti oleh saudara-saudara Islam Muhamadiyah.

Hal tersebut berbeda dengan Nahdlatul Ulama (NU). Kita tahu, dalam ajarannya NU mengambil sanad para wali, dan sebagian dari mereka adalah pula Wali Sanga. Masyarakat Islam NU secara terpadu mempraktikkan Islam dengan ritual-ritual Jawa, dan menulusur dirinya dengan Islam awal di Jawa. Itu artinya, leluhur orang Jawa yang NU tentu hingga Batas Mataram Islam.

Memang, Orang Jawa NU mengakui bahwa di Jawa terdapat peradaban, budaya, dan masyarakat Mataram Kuno yang diperhitungkan telah hadir di Jawa sebagai masyarakat yang mapan. Berdasarkan candi-candi yang ada di Jawa Tengah diperhitungkan candi-candi tersebut sudah ada pada abad ke-4. Hingga rentang abad ke-9-10 Mataram Kuno masih berporos di Jateng, sebelum pindah ke Jatim.

Masyarakat Jawa Kristen dan Katholik juga berbeda. Bawaan masyarakat Jawa Kristen tampaknya tidak fanatik dengan tradisi leluhur. Tampaknya lebih fanatik orang Jawa Katholik yang relatif selalu mendekatkan dirinya dengan lelulur, dan batas leluhur itu hingga ke Mataram Kuno. Namun, dalam praktiknya, Mataram Kuno tidak menjadi bagian yang terintegrasi dengan agama Katholik, kecuali yang kemudian memberikan tanda-tanda keterhubungan dengan jejak-jejak agama Katholik.

Namun, dalam praktiknya, dan dalam sejarahnya, masyarakat Jawa juga memiliki kayakinnan lokal yang kemudian disebut sebagai aliran kebatinan atau aliran kepercayaan. Mungkin sebagian dari mereka, pada awalnya lahir dari keluarga beragama yang resmi. Termasuk, ada yang Muhamadiyah Jawa ata Kristen Jawa. Namun, dalam praktiknya, mereka menjalani keyakinan kebatinan atau kepercayaannya sendiri.

Komunitas ini memilih leluhur juga berbeda-beda. Tergantung mereka tersambung ke jejak-jejak terjauh yang dapat dikoneksikan. Sebagian mereka masih memilih leluhur dengan batas Mataram Islam, sebagian yang lain batas lelulur yang beragama Hindu atau Budha.

Sebagian dari komunitas yang mengambil luluhurnya hingga abad ke-4 itu bahkan berkeyakinan bahwa nenek moyang mereka itu tidak beragama Hindu atau Budha, tetapi keyakinan agama Nusantara yang jauh lebih tua dari pada Hindu atau Budha. Seloroh yang serius itu kadang berujung bahwa ujung dari nenek moyang manusia adalah Adam dan Hawa.

Hal agama Nusantara jauh lebih tua mengingatkan perdebatan tentang asal mula wayang. Komunitas tersebut berkeyakinan bahwa wayang yang dikenal di Nusantara itu asli milik Nusantara/Jawa, bukan dari India. Argumen para penganutnya lumayan meyakinkan. * * *

Related Posts