Berakhirnya Linearitas Kelimuan dan Pembaharuan Pemahaman Keagamaan

Ilustrasi: Pustaka.id

Tema mengenai HAM, Keadilan Gender, Wasathiyah, dan tema-tema yang selalu menjadi perbincangan di kalangan akademisi dan cendekiawan tidak akan pernah punah untuk terus dilestarikan. Mengingat hal tersebut merupakan sebuah pesan agama yang harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena agama merupakan pemegang kendali dalam keberlangsungan hidup umatnya yang memuat perintah dan larangan dengan tujuan menjadi manusia yang bermanfaat dan mengabdi sebagai hamba yang baik dan benar.

Tema-tema tersebut berangkat dari perkembangan zaman yang begitu pesatnya sehingga globalisasi dan segala pernak-perniknya mulai merambat segala dimensi kehidupan manusia. Salah satunya ialah perkembangan ilmu pengetahuan dan sains yang mengubah cara dan corak pandang umat manusia dalam beragama. Sehingga diskursus mengenai sains dan agama tersebut terbagi ke dua golongan besar yaitu; golongan yang setuju berhubungan dan tidak setuju berhubungan.

Pemahaman yang lebih tepat untuk dipilih ialah golongan yang setuju akan sains dan agama saling berhubungan satu sama lain. Seperti yang diutarakan oleh Komaruddn Hidayat dalam bukunya Wisdom Of Life (Agar Hidup Bahagia Penuh Makna) bahwa sanya parenial wisdom dan formula sains tidak boleh salinh bermusuhan, bertengkar, ataupun mengedepankan diri satu sama lain, melainkan mereka saling mengisi, saling bergandengan tangan, tidak boleh berpisah atau bermusuhan. Kalua ini terjadi, bangunan peradaban dan kebudayaan akan cepat musnah dan keropos.

Lebih jauh lagi dalam buku karya Prof M Amin Abdullah dengan judul Multi, Inter, dan Transdisiplin ini menjelaskan historisitas antropologis bagaimana hubungan sains dan agama yang bercorak biner ini terdapat tiga lapis yang mencakupinya ; Mentifact, mencakup value, tata nilai, kepercayaan, pemikiran, ide, dan world view secara levih umum. Socifact, ketika ide, nilai, dan pemikiran tersebut masuk ke wilayah social sehingga membentuk kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi, mazhab, sekte, paguyubanm komunitas, organisasi berikut pranata social yang menyertainya serta behavior (perilaku), sikap, dan pola-pola hubungan dan interaksi social yang kompleks. Artifact, hubungan antara keduanya diwujudkan secara fisik seperti, bangunan tempat beribadah, Lembaga-lembaga (social-keagamaan, Pendidikan, ekonomi, dll). (hal. 5-6)

Lebih lanjut bahwa hal tersebut sulit untuk digabungkan ialah karena masing-masing orang dan kelompok (socifact) seringkali terkurung dalam jaringan taqalid-taqalid, preunderstanding, habits of mind, adat kebiasan (mentifact) yang telah dimiliki, bahkan membelenggunya. Sehingga hal ini akan berbenturan dan sulit untuk memasuki fase penyempurnaan atau pembaruan (hal. 6-7). Artinya hal tersebut akan tetap mengatakan bahwa antara sains dan agama tidak bisa untuk dipertautkan karena memiliki dimensi yang berbeda.

Hal ini juga di dasari kepada kondisi umat beragama pada umumnya, lebih suka memilih pilihan either or artinya memilih salah satu dari dua jenis pilihan yang tersedia (sains atau agama). Corak berpikir Binary (memilih antara dua pilihan yang tersedia) yang saat ini dikritisi oleh ilmuan Muslim kontemporer, karena corak seperti ini akan mengantakan kepada pehamanan yang tertutup dan antagonistik, dan kurang kondusif untuk mengantarkan kepada tatanan pola piki masyarakat yang terbuka dan banyak pilihan (hal 8)

Atas landasan seperti inilah yang ingin diakhiri oleh beliau dalam buku multi, inter, dan transdisiplin ini. Yaitu mengakhiri linearitas dalam memahami agama terutamanya studi agama. Karena paradigma integrasi-interkoneksi keilmuan adalah sebuah keniscayaan untuk keimuan agama di masa sekarang, apalagi masa yang akan dating. Jika hal ini tidak dilakukan implikasi dan konsekuensinya adalah akan lebih rumit baik dalam tatanan social, budaya, lebih-lebih politik. Linearitas ilmu agama akan mengantarkan kepada pandangan yang myopic dalam melihat realitas kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara, dimana semakin hari masalah yang dihadapi semakin kompleks bukan malah semakin sederhadan. (hal 26)

Lanjutnya, dalam hal 26, hal tersebut sangat sulit juga untuk dilaksanakan atau tingkat ketersapaan dan dialognya. Akan tetapi hal ini perlu upaya ekstra keras dan kesinambungan dari para pemikir yang membawa wawasan baru guna mendorong upaya ini. Yaitu mempertautkan agama dan sains dalam kehidupan masyarakat yang semakin hari semakin kompleks. Serta untuk mengakhiri linearitas dalam satu bidang ilmu terutamanya ilmu agama.

Diperlukan sebuah sikap atau upaya dalam mengantisipasi sebuah paradigma baru yang dapat diterapkan dalam sebuah tatanan nilai, moral, dll yang sudah melekat baik local maupun global. Sebuah paradigma yang dapat merangkul semuanya, tidak menghilangkan atau bahkan membenci satu sama lain. Serta dapat merambat ke segenap dimensi kehidupan tanpa membedakan sebuah identitas atau malah merendahkan satu sama lain.

Istilah yang tepat untuk menjawab hal tersebut ialah dengan sebutan Glokalisasi atau dengan paradigma “act locally and think globally”. Yaitu sebuah paradigma yang berarti “bertindak dan berbuatlah di lingkungan masyarakat sendiri menurut aturan-aturan dan norma-norma tradisi local serta berfikir, berhubunganm dan berkomunikasilah dengan kelompok lain menurut cita rasa dan standar aturan etika global). (hal. 30)

Mengapa demikian karena tata nilai, aturan, norma dsb dalam sebuah lokalitas juga sudah ada dan hal itu harus digunakan dalam lingkupnya sendiri. Akan tetapi dalam lokalitas juga akan bertemu dengan lokalitas lainnya juga sehingga hal ini diperlukan yang Namanya sebuah sikap atau pemikiran yang global yakni tidak gampang menyalahkan atau bahkan menimbulkan kekerasan. Oleh karenanya hal ini dapat juga dikatakan sebagai sebuah linearitas yaitu mempertahankan sebuah suatu hal yang dimilikinya dan menganggapnya yang paling benar diantara yang lainnya.

Act locally and think globally ialah sebuah ibarat yang dapat dianalogikan sebagai sebuah ungkapan bahwa sesuatu yang baru ini tidak lepas dari sesuatu yang lama artinya ilmu pengetahuan yang saat ini berkembang tidak lepas dari ilmu pengetahuan yang berkembang sebelumnya. Salah satu misalnya ialah seperti ilmu asbabun nuzul ada yang Qadim dan Jadid atau lama dan baru. Asbabun Nuzul lama bukannya tidak diperlukan bahkan hal ini merupakan sebuh keharusan, namun pengetahuan tersebut perlu untuk didialogkan dan diperjumpakan dan diperkaya dengan pengetahuan asbabun nuzul jaded. (hal.252)

 Sebuah linearitas ilmu dan pendekatan monodisiplin (jalur tunggal disiplin) dalam rumpun ilmu-ilmu agama akan mengakibatkan pemahaman dan penafsiran agama akan kehilangan kontak dengan realitas dan relevansi dengan kehidupan sekitar. Karenanya dibutuhkan budaya berpikir baru yang secara mandiri mampu mendialogkan agama, sains, dan etika menjadi niscaya dalam kehidupan multireligi-multikultural dan terlebih di era multikrisis ini. (hal.320)

Oleh karenanya buku ini merupakan sebuah penawaran baru dalam menjalani kehidupan manusia saat ini ditengah berkembang pesatnya pengetahuan dan tekhnologi serta krisis yang sering terjadi. Problemtika-problematika seputar HAM, gender, keadilan, dsb perlu dipahami secara multidisiplin, transdisiplin dan interdisiplin. Pemahaman dalam satu disiplin atau linearitas keilmuan akan menyebabkan pemahaman yang myopic sehingga dampak paling ekstrem adalah baku hantam dan perkelahian yang tak kunjung usai.

Penulis             : M Amin Abdullah

Editor              : Azaki Khoiruddin

Nama Buku     : Multidisiplin, Transdisilin, & Transdisiplin (Metode Studi Agama dan Studi Islam di Era Kontemporer)

Tahun Terbit   : Cetakan III Februari 2021

Penerbit           : IB Pustaka PT Litera Cahaya Bangsa

Nomor ISBN  : 978-623-91744-2-2

Tebal Halaman: 368 Halaman

Related Posts