Di Madura, “Kocor” Merupakan Kue Sakral dan Tanda Sahnya “Abhakalan”

Foto: Edgunn/shutterstock

Salah satu tahapan yang tidak boleh ditinggalkan ketika hendak mau menikah adalah abhakalan atau bertunangan terlebih dahulu. Di Madura, tradisi abhakalan ini rasanya kurang sah jika saat mau melamar calon tunangannya tidak membawa kue gorengan yang bernama kocor (kucur).  Jika pembaca yang budiman bukan orang Madura dan punya rencana ingin melamar orang Madura, maka kurang “waw” sekalipun jajan lamarannya harganya mahal, bentuk jajannya unik, jajan makanan para selebritis, hasil adonan dari tangan cheff ternama dan sebagainya, percuma, kalau tidak ada kocor. Apalagi jajan lamaranya hanya berupa kerupuk-cambah saja misalkan, ya, jangan coba-coba. Kocor itu nomor satu, Saudara.!

Kocor bagi masyarakat Madura merupakan jajan yang sangat urgen dan khas sekali dalam tradisi abhakalan. Biasanya kocornya minimal 30-40 biji. Dan orang Madura lazim menyebut tradisi abhakalan  ini dengan sebutan Amain Kocor. Jajan gorengan yang terbuat dari gula merah, gula pasir, tepung beras dan tepung terigu ini menjadi salah satu tanda pengesahan budaya yang sangat erat kaitannya dengan adat istiadat, keyakinan dan preskripsi yang meningkat di masyarakat Pulau Garam ini. Terlebih di desa saya, Desa Rajun Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep dan sekitarnya, no kocor, no party.

Tradisi abhakalan di Madura lazimnya adalah keluarga pria terlebih dahulu mendatangi rumah si wanita. Dalam mengunjungi itu, keluarga dari pihak si pria beriringan (yang membawa jajan lamarannya adalah para wanita atau bhini’an yang terdiri dari keluarga inti, tetangga dan keluarga dekatnya) membawa sejumlah barang dan makanan atau seserahan (bhan-gibhan) yang beragam, unik dan dibungkus dengan hiasan yang rapi dan indah.

Barangnya tentu saja berupa emas (gelang atau pun kalung), sandal, baju, krudung, parfum, perhiasan Make Up dan sebagainya. Sedangkan bentuk makanan atau jajan lamarannya berupa pisang, donat, leppet, bajik, lemper, ketan, dodol dan jenis jajanan yang lain. Namun dari sebagian jenis makanan di atas, tidak boleh lupa jajan gorengan lamaran yang bernama kucur ini. Tak ada kucur saat lamaran abhakakan, bagi orang Madura itu rasanya kurang menggayengkan dan dianggap kurang paham tengka (moralitas) atau tatakrama.

Setelah beberapa hari kemudian, maka giliran dari pihak wanita yang mendatangi rumah si pria. Ia juga datang beriringan dengan membawa macam jajan atau bhen gibhen yang beragam. Salah satunya tetap membawa jajan gorengan, kucur. Orang Madura biasa menyebutnya dengan sebutan Mabelih, Mapole otabeh Balessen.

Nah, Jika kamu bukan orang Madura lalu datang ke Madura, maka jangan heran bila ada orang Madura bertanya begini:

“Bha’an andhi’ bhakal malah, Cong?” (kamu udah punya tunangan nggak, Cong?”)

Jika kamu menjawab tidak, kemungkinan besar dan memang lumrah kamu akan dilanjutkan dengan perkataan seperti ini:

“Beh, tulih abhakalan, pas bileh sengiba’ah kocor ka romanah oreng ben, Cong” (Loh, cepat-cepat tunangan, terus kapan kamu yang akan bawa kucur ke rumah orang (rumah calon tunangan) kamu, Cong.”) Bukan “kapan kamu kawin agar jomlonya tidak lama, ya nggak.” Tapi “kapan kamu bawa kocor ke rumah calon mertuamu?”

Jika misalkan ada orang luar Madura atau pun orang Madura tapi belum tau tentang arti pentingnya kocor dalam tradisi abhakalan ini, lalu bertanya kenapa ya kue gorengan jadul yang sudah familiar itu sangat sakral dan urgensi sekali bagi orang Madura dalam tradisi abhakalan?

Jadi begini. Konon, gula (baik itu gula pasir ataupun gula merah) dalam kocor dengan rasa manisnya itu mencerminkan tentang sebuah kemanisan dan keharmonisan bagi kedua pasangan setelah nantinya ia menikah dan mengarungi kehidupan bersama.

Sedangkan berasnya, itu merefleksikan tentang akhlak yang mulia dan suci. Sebab beras itu sendiri warnanya putih, dan putih melambangkan tentang kesucian. Itulah mengapa kocor tidak boleh ditinggalkan bagi masyarakat Madura dalam tradisi abhakalan.

Sebelum saya mengakhiri tulisan ini, saya ingin tegaskan kembali bahwa kue gorengan yang bernama kocor ini memiliki peranan yang besar dan penting dalam tradisi abhakalan bagi masyarakat Madura. Jika kamu malas bikin, beli dan membawa kocor, atau hanya mampu bawa 2 biji kocor saja saat lamaran tunangan, mending (sementara) urungkan dulu niat tunangan kamu itu. Percuma, selain kurang “waw”, kamu dan keluargamu juga akan dikira enggak paham tatacara lamaran tunangan ala orang Madura.

Kecuali kamu bilang, “mohon maaf, saya dan keluarga saya tidak bisa bikin dan tidak mampu untuk beli kucur dengan jumlah yang banyak, keluarga saya hanya mampu untuk membeli 7 unit mobil merek Lamborghini Aventador dan 3 pesawat terbang Garuda .” Insyaallah nilai ke-waw-an kamu dan keluargamu di mata calon mertuamu akan naik tiga ratus persen.

“Hahaha, areah tengka kanak, aiii”.

Related Posts