Fi’il Mudhari’ dan Teologi Asyari

Ilustrasi: (Ma’had Aly Jakarta)

Fi’il mudhari’ atau bentuk kata kerja yang menunjukkan aktivitas yang sedang berlangsung maupun yang akan datang, dalam bahasa Arab menjadi satu satunya kata kerja yang mu’rab (bergonta-ganti harakat dan bunyi akhirannya). Ia dapat berharakat “u” (rafa’) “a” (nasab) dan dibaca sukun (jazm). Di samping ia juga dapat berbunyi akhir “ani”, “una”, “ina” (rafa’) serta “aa” atau “uu” (nasab dan jazm).

Prinsip dasar gramatikal bahasa Arab bahwa kata yang bisa berubah-rubah itu sangat ditentukan oleh suatu yang disebut “amil” (variabel independent). Variabel itu ada yang tampak dan tidak tampak. Pada umumnya variabel yang tampak biasa terdapat dalam subjek, predikat, objek, dan keterangan. Sementara variabel yang tak tampak seperti terdapat dalam kata yang berkedudukan sebagai mubtada’ (disebut amil ibtida’) dan dalam kata kerja fiil mudari’ khusus yang dibaca rafa’.

Hal menarik dalam gramatikal bahasa Arab terdapat pada sesuatu yang disebut “amil”/variabel independent yang tak tampak itu. Kalau kita paham ilmu nahwu, kenapa dalam mubtada’ dan fi’il mudhari’ yang dibaca rafa’ masih perlu penegasan ada “amil”? Bukankah misal “Zaidun qaimun” tak perlu disebut-sebut ada amil yang menyebabkan kata Zaidun dibaca “un”!? Demikian pula misal “Yarzuqu man yasyau” bahwa akhiran 2 fiil mudari’ itu dibaca “u” karena asal usulnya begitu, dan tanpa catatan ada “amil”!?

Kalangan yang berpikir empiris dan pragmatis kemungkinan akan berpikir begitu. Akan tetapi tidak demikian dengan para ahli bahasa (an-Nuhat). Mereka berpikir sistematis bahwa setiap kata yang bisa berubah-ubah bunyi akhirannya pasti ada yang mempengaruhinya. Mereka menyebutnya “amil”.

Fiil mudhari’ dapat mengalami perubahan bunyi pada huruf akhirnya juga pasti ada penyebabnya. Rangkaian kata “yu’minu” “lan yu’mina” dan “lam yu’min” padahal dari kata yang sama bisa berubah bunyi akhirannya, bagi ahli bahasa pastilah ada “amil” yang mempengaruhinya. Kata “lan yu’mina” dibunyikan akhirannya menjadi “na” karena jelas di depannya ada amil nasab “lan”.

Begitu pula bunyi kata “lam yu’min” karena jelas di depannya terdapat amil jazm “lam”. Bagaimana dengan bacaan akhiran “u” pada kata “yu’minu”? Mengapa terjadi demikian?
Di sinilah kita perlu paham kontribusi para ulama penganut teologi Asyariyah dalam studi gramatikal al-Quran yang berbahasa Arab.

Bagi golongan Asyariyah hasil perbuatan manusia tidak semata-mata ditentukan faktor usaha (kasab). Termasuk hasil pekerjaan yang secara kasat mata dihasilkan manusia, seperti penghasilan pedagang: walaupun dia independen bukan suruhan pihak lain tetapi hakekatnya ada “amil” di balik keberhasilan pedagang itu. Kalau pekerja jelas-jelas hasil yang diperoleh sangat dipengaruhi pihak yang mempekerjakannya.

Cara pendekatan inilah yang digunakan dalam memahami fi’il mudhari’ yang dibaca rafa’. Di mana capaian positif aktivitas pekerjaan yang dilakukan seseorang bukanlah semata-mata karena usahanya sendiri akan tetapi ada “amil”.

Dalam kedudukannya menjadi i’rab rafa’, tiap-tia fiil mudhari’ hakekatnya menyimpan “amil” yang tersembunyi (ma’nawiyah). Para ulama nahwu selalu menyebut ada “amil ma’nawi” di balik fiil mudhari’ yang dibaca rafa’. Mereka menentukan itu sebab mereka meyakini bahwa di balik “kasab” atau aktivitas manusia pasti ada campur tangan Allah Swt, Tuhan sebagai amil yang tidak menampakkan wujud lahiriyahnya.

Kalau bukan penganut Asyariyah mungkin kita tidak akan mengenal “amil ma’nawi” dalam fiil mudhari’ yang dibaca rafa’ atau mubtada’ yang dibaca rafa’. Wallahu a’lam

Related Posts