Hijrah HIT: Pergeseran Prilaku Keberagamaan Perspektif Fenomenologis

Trend puritanisme dikalangan menengah Islam sungguh menarik, setidaknya bisa menjadi acuan untuk mencandra kecenderungan prilaku keberagamaan muslim kontemporer dari berbagai sudut pandang.

Pertama seorang famili, bekerja di bank milik pemerintah, bankir profesional dengan prestasi bagus— pekerja keras, jujur, ulet dan banyak membantu terutama panti asuhan, donatur tetap LAZISMU dan penyandang beasiswa puluhan siswa. Dikantur ia dikenal sebagai pribadi yang baik bahkan sangat baik, rajin ibadah ramah dan menyenangkan.

Dua tahun lalu saat bertemu di rumah kakek, Ia tinggalkan pekerjaan nya sebagai bankir dengan alasan riba— ia memilih profesi baru sebagai penjual minyak wangi. Ia terkesan dengan sebuah pesan ustadz tentang pesan nabi saw: “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang buruk, bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu, engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya’.

Hari-harinya adalah menunggu azan dan shalat jamaah di masjid, sambil jualan minyak wangi kepada jamaah yang lewat— isteri dan anaknya pun ikut membantu jualan kue dan bothok, ditawarkan kepada ibu-ibu jemaah pengajian Aisyiyah. Saya melihat rona kebahagiaan dan kedamaian meski jauh dari kecukupan dibanding saat menjadi bankir.

Beda lagi dengan kawanku yang satu ini : ia berkeyakinan bahwa selain Allah adalah kecil— maka ia nafikkan semua yang tidak selaras dengan pikirannya, selain hukum Allah adalah sesat dan kafer. Ia sebut Pancasila dan rezim adalah thaghut dan harus dibinasakan.

‘Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” [Al-Maidah/5 : 44]

Ayat ini menjadi alasan kenapa ia halalkan semua darah dan menjadi pembenaran untuk membunuh dan memerangi kekafiran menegakkan kalimat tauhid.

Ketiga adalah tetangga sebelah rumah, seorang yang menurut saya sangat alim — pintar menderas Al Quran dan pandai membaca kitab kuning, pengetahuan agamanya luas ibadahnya sangat khusyu.

Tapi ia tak bersedia menjadi Khattib apalagi ngisi di pengajian ranting rutin seminggu sekali — pada setiap pengajian ia duduk di sebelah mihrab bersandar.

Ia sangat takut dengan ayat ini: ‘Wahai orang-orang yang beriman, mengapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu me nga takan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS ash-Shaff).

Sebab itu ia ogah menjadi khatib atau mubaligh.

Yang terakhir adalah karibku. Orang dengan pikiran paling aneh— ia wakafkan seluruh hartanya untuk membangun masjid, sekolah, panti asuhan dan lainnya— ia menjadi donatur tetap di berbagai lembaga zakat. Ia tidak menghapal Al Quran, ia juga tak punya anak yang bakal memberinya mahkota yang di santrikan di rumah tahfidz, tapi ia membiayai puluhan calon hafidz—

Ia tidak gemar mengaji tapi sering beli mushaf Al Quran kemudian dibag- bagi. Ia juga jarang datang memenuhi undangan pengajian ranting atau cabang, tapi ia selalu sediakan kue atau traktir bakso buat jamaah. Pernah ia bikin sepuluh rombong yang dibagi-bagi gratis pada para penjual bakso, cilok dan melijo.

Dia terkesima dengan pesan nabi saw :”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Sebab setiap kita berbuat baik kepada orang lain, manfaatnya akan kembali kepada kita .

Bagi saya : beragama adalah soal cita-rasa, tergantung selera untuk bisa dinikmati — tujuannya sama : mendapat ridha dan syukur bisa masuk surga — Wallahu taala A’lm.

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Related Posts