Keilmiahan Para Muhadis Dalam Membuat Kaidah “Semua Sahabat Adil”

Ilustrasi: Istimewa

Pernah sekali dalam pengajian kitab Jarh Wa Ta’dil bersama muhadis besar Syekh Nuruddin Itr, buku beliau sendiri, saat itu pembahasan tentang maratib (tingkatan) para periwayat hadis. Di mana tingkat paling tinggi dalam periwayatan adalah saat seorang dinamakan sebagai sahabat Nabi saw, derajat itu menjadi paling tinggi keadilannya, bahkan melebihi para imam, karena ta’dilnya dari Allah langsung, radhiyallahu anhum wa radhu anhu, jadi ini sudah final.

Beliau juga menjelaskan, kalau bukan karena Ahlul Ilm memberi istilah “keadilan” dalam masalah ini, maka beliau akan malu menggunakan istilah “adil” dalam membicarakan sahabat. Padahal seharusnya kita menamakannya sebagai “fadhilah sahabat,” karena keadilan sahabat ga perlu dipertanyakan lagi, level yang kita bicarakan tentang mereka harusnya “fadhilah” atau keutamaan karena mereka menjadi contoh bagi kita.

Hanya saja karena term atau istilah Ahlul Hadis dalam kritik hadis memakai istilah “‘adalah” maka beliau harus menulis seperti itu sebagai tanggung jawab ilmiyah. Begitu lah beliau mengajarkan kita bagaimana beradab pada para sahabat. Bahkan dalam ilmu murni seperti ilmu Jarh Wa Ta’dil yang dituntut untuk “membuang” perasaan, kita juga tetap diajarkan tentang bagaimana beradab pada para sahabat.

Tapi, masalah berbicara tentang adab ini bukan berarti sama sekali tidak membuang sisi ilmiyah atau kritis, buktinya ketika beliau berbicara tentang dhabitnya (uji hafalan) para sahabat dalam periwayatan, beliau mengatakan sahabat bisa salah, bahkan sahabat sendiri yang mengkritisinya, seperti ketika Umar meminta Abu Musa Al-Asy’ary mencari saksi untuk memastikan apakah riwayatnya benar dan beliau berhasil membuktikan kalau riwayat beliau benar, atau ketika beliau mengkritik riwayat Fatimah binti Qais.

Dari situ kita bisa simpulkan bahwa kritik dalam hafalan itu sudah ada, dan para muhadis dalam kitab-kitab mereka tidak diam saat ada hafalan yang salah dari para sahabat, mereka akan menjelaskannya dengan melihat riwayat lain. Karena dari sisi ilmiyah, yang ada jaminan adalah terjaganya keadilan para sahabat, bukan membuktikan bahwa para sahabat tidak mungkin salah. Sifat adil itu untuk memastikan bahwa para perawi tidak melakukan kebohongan ilmiyah, inilah yang terjaga dari sahabat dengan rekomendasi langsung dari Allah dan Rasul-Nya melalui dalil naqly, siapa lagi yang tazkiyahnya lebih kuat dari keduanya?

Sedangkan sifat dhabit itu untuk memastikan bahwa hafalan mereka tidak salah dalam meriwayatkan hadis, para sahabat tidak makshum, mereka bukan Nabi, mereka memang dijamin tidak berbohong, tapi mereka bisa lupa, makanya para ulama kadang mengkritik riwayat beberapa sahabat dari sisi ini. Bahkan ini dilakukan sejak zaman sahabat sendiri, seperti contoh di atas, jadi jangan salah memahami bahwa keadilan para sahabat itu bahwa muhadis mengatakan mereka makshum atau tidak pernah salah, apalagi ditujukan untuk “mendewakan” sahabat, sifat adil itu hanya memastikan bahwa mereka gak bohong, tapi salah? Ya bisa salah, gak ada pertentangan antara adil dan membuat kesalahan. Kalau makshum baru noh gak mungkin salah.

Nah, sikap ilmiyah ini terus dipertahankan para ulama. Tapi apakah para ulama tidak kritis ketika berbicara tentang keadilan sahabat? Tentu saja, selain dari dalil naqly, mereka juga melakukan istiqra (yang merupakan cara rasional dalam penelitian ilmiyah) terhadap para perawi dari sahabat, sebagai contoh saat banyak yang memfitnah Abu Hurairah bahwa riwayat beliau bermasalah, karena beliau dianggap dekat dengan beberapa penguasa Dinasti Umayyah, para ulama mengecek seluruh hadis yang beliau riwayatkan dalam kitab yang masyhur, ternyata di semua hadis beliau juga ada sahabat lain yang meriwayatkannya dari jalur lain, jadi ga ada yang karangan beliau sendiri. Dan uniknya, taukah siapa yang melakukan penelitian itu? Ulama dari Syiah Zaidiyah!! Mereka mencintai sahabat kawan!!

Banyak juga yang mengatakan bahwa di antara sahabat ada yang pernah berzina sampai dirajam, bagaimana kita mengatakan bahwa mereka adil? Bukankah syarat adil itu menjauhi dosa besar? Iya, tapi para muhadis melakukan istiqra untuk meneliti berapa hadis yang beliau riwayatkan? Jawabannya nol, jadi kepentingan ilmiyah untuk melihat sifat “adil” beliau dari sisi ilmiyah kritik hadis tidak ada. Walau demikian kita juga perlu melihat bahwa bagaimana Nabi memuji sahabat ini setelah dirajam, seandainya taubatnya dibagi pada penduduk Madinah maka akan banyak sisa taubatnya, begitulah keikhlasan sahabat ketika bertaubat, tidakkah adil orang demikian?

Levelnya bukan lagi adil, bahkan level fadhilah, di mana beliau bisa jadi contoh bagi semua penzina dan pendosa setelahnya. Bahkan jika kamu berdosa sebesar itu kamu jadikan sahabat sebagai qudwah bagaimana seharusnya kamu setelah berbuat dosa. Taubatlah seikhlas taubat beliau, di mana taubatnya itu bisa menggetarkan langit dan menampakkan tajaly sifat alghafur Allah di muka bumi. Bukankah thesis awal tentang fadhilah sahabat terbukti disini.

Itu hanya sebagian contoh. Begitu juga kasus lain, tentang kesalahpahaman bahkan fitnah kepada para sahabat, seperti tuduhan pada Aisyah, Usman, Abu Musa, Nuaiman, dll -radhiyallahu anhum-. Para ulama telah meneliti satu persatu tuduhan itu dan setiap riwayat mereka, sehingga ketika mereka mengatakan semua sahabat adil, itu adalah hasil penelitian ilmiyah baik aqli atau naqly, bukan karena fanatik. Keilmiyahan inilah yang membuat hadis dalam kitab Ahlussunnah dijadikan rujukan hukum, gak cuma oleh ulama Ahlussunnah tapi juga kelompok lain seperti Khawarij, Muktazilah, Syiah Zaidiyah, Ibadhiyah, dst.

Hampir semua kelompok dalam Islam menjadikannya rujukan karena mereka tau tentang keilmiyahannya. Maka sangat aneh jika ada santri yang mengaku Aswaja tapi malah meragukan keadilan para sahabat, dimana mereka hanya memuji sahabat karena tradisi dan taklid saja, walau dalam hatinya ada keraguan, bahkan sampai berfikir Sayidina Utsman melakukan nepotisme, bahkan ada juga yang ketika berbicara tentang sahabat dengan tidak sopan dan secara tidak langsung dia berfikir bahwa kyainya lebih paham “lslam” daripada sahabat dan level kiainya diatas sahabat.

Padahal kyainya memuja dan mengidolakan sahabat, bahkan merasa debu di sandal sahabat lebih mulia dari dirinya. Jika debu dari sendal sahabat saja begitu levelnya, apalagi sahabat pilihan? Hanya saja gurunya mengenal sahabat, sedangkan dia tidak, itu perbedaan level ilmu. Jadi ketika ulama mengatakan bahwa kita diam saja terhadap khilaf sahabat, bukan karena takut dikritik ilmiyah dan taashub, itu untuk orang awam yang gak sempat meneliti, karena kalau dengar setengah-setengah pasti akan salah paham jadi mending diam, dan menjauhi berbicara tentang syubhat.

Diatas itu nasehat ulama pada kita awam.

Sedangkan bagi santri ya levelnya beda lagi, iman pada keadilan sahabat harusnya bukan taklid tapi ilmiyah, dia harus paham kaidah ‘”semua sahabat adil,” gak sama dengan “semua cowok sama aja,” karena yang satu ilmiyah dan satunya lagi taashub akibat ngambek karena pernah disakitin. Dan jika sudah mencapai ilmiyah maka mereka akan mencapai level memahami bahwa seharusnya kita mengatakan fadhilah sahabat bukan lagi keadilannya, sebagaimana yang dijelaskan Syekh Nuruddin Itr di atas, beliau sampai pada kesimpulan seperti itu karena memang sehari-hari beliau hidup “bersahabat,” jadi beliau sangat mengenal sifat mereka. rahimallah syaikhana. wallahualam

Related Posts