Mak dan Sepatu

Sepatu penulis; dokumen pribadi

Sepatu ini menemani saya kurang lebih selama 10 tahun. Tidak hanya dalam menjalani proses pendidikan tapi nyaris semua kegiatan yang menuntut saya harus bersepatu. Misal, seperti pelatihan jurnalistik, undangan seminar kecil-kecilan dan acara lain dari kota ke kota.

Sebelumnya, saya sempat minta untuk dibelikan sepatu kepada almarhum mak melalui sambungan telepon di pondok Sumenep. Sebab dari sejak awal masuk SMA saya memakai sepatu teman saya yang sudah nggak dipakai tapi masih layak dipakai. Sepatunya adalah sepatu pantofel keluaran lama yang mereknya saya nggak tahu alias lupa. Akhirnya sepatu itu rusak dan sulit diperbaiki lagi. Tak ada pilihan lain selain harus minta kepada mak.

Kenapa harus minta kepada mak? Saya nggak tahu. Rasanya dari dulu saya lebih enak dan nyaman minta sesuatu ke mak walaupun pada akhirnya bapak yang ngasih melalui mak. Lebih enak dan nyaman curhat sama mak. Lebih terpuaskan ketika kegundahan hati diceritakan kepada mak. Seolah-olah ada emosional tersendiri ketika menceritakan sesuatu baik suka maupun duka kepada mak.

Ibu dengan tegas menjawab “Iyeh, Cong, are rebu emeleyakinah” “Iya, nak, hari Rabu saya belikan”. Hari Rabu adalah hari pasaran di tempat lahir saya. Hari di mana pasar rame dengan jualan berbagai aksesoris dan keperluan lainnya.

Selama di pondok sambil sekolah satu-satunya permintaan mewah yang pernah saya ajukan kepada mak adalah sepatu. Rabu sudah lewat sepatu nggak datang-datang. Kiriman pun lambat dari hari biasanya. Keterlambatan kiriman tidak hanya dialami satu atau dua kali saja. Saya hanya bisa bersabar dan berharap sepatu segera datang. Saya langsung mikir “oh iya, Mak saya kan bilangnya hari Rabu, entah hari Rabu kapan”.

Setiap hari Rabu saya selalu girang senang dan tentu bahagia sebab sepatu saya akan datang hari ini. Begitu saya berharap. Tetapi harapan itu selalu kandas, kandas dan kandas.

Berbulan-bulan sepatu belum datang, saya mencoba menumbuhkan rasa percaya diri memakai sepatu yang sudah lepas alas bawahnya tapi saya ikat dengan tali rafia hitam. Itu sepatu satu-satunya.

Ketika jam olahraga, saya selalu lepas sepatu karena nggak mungkin sepatu seperti itu dibuat olahraga. Berkali-kali dimarahi guru olahraga dan disuruh push up 10 kali dan keliling halaman sekolah 10 kali karena melanggar aturan nggak memakai sepatu olahraga.

Rabu berikutnya (sekira 8 bulan lewat dari permintaan) akhirnya sepatu itu datang. Saya nggak bertanya kenapa sepatunya lambat. Kakak saya cerita, bahwa yang beli sepatu itu kakak saya. Deg, saya langsung menunduk. Dalam hati saya membatin “mak dari kemarin pasti belum punya uang untuk belikan sepatu saya tapi beliau mencoba meyakinkan anaknya”. Ternyata sangkaan saya salah. Kakak saya yang membelikan tapi uangnya tetap dari mak.

Butuh 8 bulan Mak saya bisa membelikan sepatu. Seingat saya, sepatu itu harganya 115.000. Mungkin masih tergolong sepatu murah dan bukan sepatu pantofel yang berkualitas. Tetapi bagi saya, sepatu itu sangat berharga bukan soal harga belinya tapi pengorbanannya yang tak bisa terbayarkan oleh apapun dibelikan oleh seorang pahlawan sejati dalam hidup saya. Akhirnya sepatu itu saya rawat kurang lebih 10 tahun. Sepatu pantofel itu saya jadikan sepatu olahraga juga berkali-kali. Pokoknya multi fungsi. Seringkali dicemooh oleh teman-teman, mau olahraga kok pakek sepatu pantofel.

Anehnya sepatu itu awet. Hingga saya masuk kuliah sampai 4 tahun selesai sepatu itu tetap terawat dan nyaman dipakai. Bahkan belum pernah sama sekali masuk bengkel sepatu atau tukang sol sepatu. Saya yakin ini sepatu yang berkah. Membelinya pasti karena perasaan cinta dari seorang Mak kepada anaknya. Membelinya pasti karena diniatkan untuk perjuangan seorang anak yang sedang mencari ilmunya Allah.

Bulan kemarin saya pulang pondok dari Malang, sepatu itu saya taruh di kamar pondok dengan kondisi yang masih bagus tanpa cacat. Nggak nyangkanya setelah saya cek sepatu itu sudah rusak. Sedih, iya. Sebab saya nggak paham siapa yang meminjam sepatu itu hingga rusak parah. Dan sedihnya lagi, sepatu itu sudah saya siapkan untuk dipakai di akhir puncak kelulusan saya dari perguruan tinggi. Belum lagi itu pemberian dari seorang Mak yang nggak pernah cerita pada anaknya bagaimana cara medapatkan sepatu berharga itu.

Saya tanya kepada salah satu santri siapa yang minjam sepatu saya. Dan ternyata dia sendiri yang memakainya tapi nggak tahu harus ijin ke siapa karena juga kepepet mau sidang ke kampusnya. Sepatu itu sempat mau dibuang biar nggak ketahuan pemiliknya. Tetapi ia mengurungkan niatnya tidak dibuang. Dikembalikan ke tempat semula dengan keadaan rusak parah dan nyaris nggak bisa lagi diperbaiki karena semuanya sudah jebol dan hancur bawahnya.

Ia minta maaf dan nggak ada kesanggupan untuk menggantinya. Untungnya ia masih murah hati untuk minta maaf. Saya nggak bisa berbuat apa-apa selain harus memaafkan pelakunya. Bahkan saya nggak mengintrogasi kenapa sepatu itu bisa rusak separah itu.

Dalam hati saya membatin, “Mungkin sepatu ini memang bukan berakhir di saya tapi berakhir di teman saya yang juga berjuang untuk mencari ilmu Allah”. Yang penting sepatu ini tetap berkahir di medan perjuangan mencari ilmu Allah bukan berakhir di medan mencari kemurkaan Allah.

Alhamdulillahnya juga, sepatu saya berakhir tidak dalam injakan sepatu kekuasaan. Tapi justru dalam injakan santri yang mencari kemulian yakni mencari ilmu Allah.

Saya ingin mengutip salah satu perkataan mas Heru:

Jika sepatu bajamu robek kakimu masih kuat untuk berdiri.

Jika kakimu dihancurkan tubuhmu masih mampu ditegapkan.

Jika dihempaskan tubuhmu jangan lupa jiwamu akan tetap abadi berkobar dalam perjuangan.

Tekanan,pukulan,cambukan itu hanya terapi belaka bagimu agar terpupuk nyalimu.

Selamat beristirahat sepatuku. Semoga saya dapat sepatu yang lebih berkah dan lebih luas manfaatnya untuk umat. Amin.

Ditulis di Surabaya, 7 November 2021

Related Posts