Melihat Kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz 

Law and justice concept – Themis statue, judge hammer and books. Courtroom.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah pemimpin yang sangat berani mengambil kebijakan. Bahkan ia berani melakukan pembersihan urusan keluarga dari institusi negara. Ini kebijakan yang sulit dilakukan di era sekarang.

Kebijakan Umar bin Abdul Aziz tentu saja disambut dengan suka cita oleh semua kalangan. Tetapi tidak dari kalangan keluarga, kebijakan itu justru membuat keluarga Umar merasa tertimpa musibah yang sangat besar. Tiap malam rumah Bani Umayyah ini gemuruh dengan ratap tangis akibat kebijakan Umar yang dinilai merugikan kepentingan keluarganya.

Berkali-kali dibujuk agar kebijakan itu bisa dirubah. Namun Umar tak mau dan tetap pada keputusannya. Ia menegaskan bagaimana mungkin saya bisa bersikap adil kepada semua orang sementara saya sendiri belum bisa bersikap adil kepada keluarga sendiri.

Umar bin Abdul Aziz bahkan bersumpah untuk mengembalikan seluruh hak-hak masyarakat yang terampas akibat campur tangan keluarga dalam urusan negara. Dalam diri Umar tak ada sikap lunak bagi keluarga, sebab hal itu akan membuat dirinya canggung untuk menegakkan keadilan untuk masyarakat. Jalan pikiran yang mulia dan layak diteladani.

Pelajarannya: pertama, sikap tegas alias tidak mencla-mencle itu sangat dibutuhkan dari seorang pemimpin. Apalagi dalam urusan mengatur negara bangsa. Mengatur keluarga saja butuh ketegasan. Butuh keadilan dan ketegasan. Kedua, berpihak pada kebenaran. Klo keluarganya nggak benar ya jangan dibela. Ketiga, jadilah pemimpin untuk semua elemen masyarakat. Jangan jadi pemimpin yang hanya pro dengan pemodal apalagi untuk sebagian kecil yang memiliki agenda keserakahan dan kerakusan. Keempat, jadilah pemimpin ibarat bapak dengan anak-anaknya (yang dipimpin). Ini erat kaitannya dengan kemampuan mendengarkan, menerima, menampung bahkan segera mengeksekusi hal-hal yang dianggap penting yang dikeluhkan anak-anaknya.

Bagaimana dengan hari ini? Kontras atau tidak, Anda bisa menilai sendiri. Yang jelas era sekarang ini fakta mengatakan ada (kalau nggak berani mengatakan banyak) pemimpin yang mejadikan jabatannya sebagai ladang kehidupan keluarga dan kelompoknya. Nggak usah bicara siapa-siapa. Kita renungkan sendiri.

Karenanya, menurut saya penting untuk belajar dari kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz. Walaupun nggak bisa meniru secara keseluruhan seperti yang konon menerima anaknya di ruangan jabatan tanpa lampu penerang karena Umar beranggapan bahwa lampu penerang adalah fasilitas negara, sementara pertemuan dengan anaknya adalah urusan keluarga minimal ambil bagian-bagian yang tidak merugikan masyarakat secara umum.

*Saya menulis seperti ini berharap juga bisa meniru Khalifah Umar minimal dalam dalam hal-hal kecil.

Related Posts