NU Anti Kritik?

Di era digital saat ini, ruang publik benar-benar menjadi ujian bagi siapapun. Dalam beberapa hari ini terakhir ini misalkan muncul para aktor panggung digital yang aktif mengkritik NU, salah satu ormas keagamaan yang konon terbesar di Indonesia. Bahkan juga ada yang melanjutkan kritiknya dengan mengarahkan pada sosok kiai atau Gus yang sedang jadi idola di panggung digital. Bukan hanya itu basis teologinya pun dikritik sebagai sumber dari kejumudan yang terjadi di tubuh ormas yang sebentar lagi akan mengadakan muktamar.

Tulisan ini tidak akan membahas tentang bagaimana kritik itu dilakukan? Tetapi justru akan membahas bagaimana respon para pendukung NU terhadap “kritik” tersebut dilihat dari komentar para netizen. Harus diakui dalam era reformasi salah satu ormas yang paling “beruntung” adalah NU. Dulu ada istilah dalam bahasa Jawa “tenguk-tenguk nemu getuk” yang agaknya cocok dengan nasib NU di era reformasi. Tanpa harus punya modal resmi “politik” tiba-tiba saja mendapatkan jatah kursi presiden.

Padahal kelompok nasionalis dan Islam politik yang menyiapkan dengan sangat matang proses peralihan politik di era Presiden Habibie sudah sangat yakin akan mendapatkan bagian “besar” jatah kekuasaan. Alih-alih jatuh ke tangan mereka justru malah jatuh ke tangan Gus Dur yang identik dengan NU. Inilah kemenangan “politik” NU kultural pertama di negeri ini. Meskipun tidak bertahan lama, karena kaum nasionalis dan Islam politik terus berupaya “menjatuhkan” Gus Dur yang memang penuh kontroversi selama jadi presiden. Apapun alasan dia kelompok tersebut yang jelas kedua kelompok tersebut memang merasa “lebih berhak” berkuasa dibandingkan dengan “NU”. Maka ketika keduanya “berkolaborasi” selesai sudah “kekuasaan” Gus Dur. Tapi tidak dengan NU.

Meskipun sebentar, “Era Gus Dur” telah melahirkan “kesadaran” politik praktis dan pragmatis yang cukup kuat di kalangan politisi muda NU yang tersebar di hampir semua partai. Dalam konteks inilah pengaruh politik NU semakin membesar di kalangan Nasionalis atau Islamis. Apalagi setelah Jokowi dengan keyakinan tinggi membubarkan HTI dan FPI.

Pengaruh NU semakin “menonjol”. Meskipun thesis ini masih perlu dipertanyakan apakah karena faktor relasi politik yang menyebar tersebut atau justru karena sedang dimanfaatkan sebagai bemper. Tapi jika melihat geliat anak muda santri di media sosial yang cukup banyak variannya. Bisa dipastikan memang ada dinamika penguatan politik praktis dalam tubuh NU. Apalagi dalam muktamar Jombang nuansa masuknya generasi politik begitu luar biasa nampak.

Sehingga membuat kecewa banyak kalangan yang berharap NU masih “bersih” dari politik praktis. Meskipun harapan itu tetap menjadi sebuah “kemustahilan”, sebab bagaimanapun juga generasi muda NU juga membutuhkan panggung politik. Menariknya Jokowi memberikan dengan senang hati mulai dari “pencanangan” hari santri sampai pada isu memasukkan pesantren sebagai bagian dari sistem pendidikan yang akan mendapatkan “subsidi” negara. “Pemanjaan” terhadap NU inilah yang akhir-akhir ini memunculkan fenomena hadirnya “generasi anti kritik” NU. Umumnya generasi ini lahir sebagai generasi NU politik “digital” , yang melihat proses-proses interaksi dipanggung digital sebagai bentuk kontestasi dan konflik yang harus mereka sikapi dengan tegas dan kadang keras.

Fenomena ini mengingatkan pada sejarah ketika PKI mulai bangkit sebagai kekuatan politik di akhir orde lama. Dimana para pemuda Islam, termasuk di dalamnya “Anshor dengan Banser NU” selalu “diprovokasi” untuk bangkit melawan gerakan politik PKI. Sehingga lahirlah tragedi “September” yang masih menyisakan pertanyaan hingga sekarang ini. Untungnya gejala ini sekarang terjadi di panggung digital. Bukan dipanggung kehidupan nyata. Sehingga penyelesaian konfliknya tidak harus saling “berperang” , tetapi cukup dengan “materai” ataupun di jalur pengadilan.

Di samping melahirkan generasi NU “politik”, reformasi juga melahirkan generasi NU “akademik” yang lebih “dewasa” dalam menyikapi beragam “kritikan” terhadap NU. Namun kebanyakan generasi ini berada di luar struktur resmi NU. Memang mulai ada beberapa tokoh intelektual muda NU dari kalangan kampus yang masuk dalam struktur kepengurusan NU.Namun demikian masih kalah dibandingkan dengan kelompok NU “politik”. Di sisi lain juga muncul generasi “Netral NU”, yang bergerak secara kultural dan tidak mengidentifikasi dirinya dengan NU. Mereka relatif dekat kultur Urban dan cukup berpendidikan. Kelompok ini tidak terlalu fanatik dan cukup terbuka terhadap kehadiran kelompok lain. Bahkan terhadap kelompok Syi’ah ataupun salafi Wahabi yang terus “berkonflik”.

Related Posts