Tidak Hanya Mengaji, Santri Juga Harus Jago Teknologi

Penulis: Adjie Sumantri (Santri Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang)

Santri merupakan sumber daya bangsa yang tidak boleh ketinggalan dalam hal apapun terutama dalam hal teknologi. Sekarang kita telah memasuki Industri 4.0 dan segera menuju 5.0. Penguasaan teknologi menjadi hal yang patut menjadi perhatian bersama. Santri sebagai salah satu elemen penting bangsa harus mulai bergerak supaya tidak hanya menjadi objek bagi pengembangan teknologi.

Tren yang berkembang sekarang adalah penguasaan teknologi didominasi oleh kapitalis yang menyuburkan tumbuhnya elit-elit tekno-oligarki. Negara Indonesia masih menjadi penikmat atau konsumen teknologi dan belum memiliki semangat bersama untuk bergerak. Ancaman lingkungan pun terlihat nyata sekarang, perubahan iklim, eksploitasi sumber daya alam yang hanya berorientasi uang, kerusakan lingkungan adalah sebuah realitas dari keserakahan manusia dan hal tersebut harus menjadi perhatian dan penanganan cepat yang sifatnya mendesak.

Generasi muda sebagai penerus bangsa harus mulai bergerak, mengingat potensi sumber daya manusia Indonesia di tahun 2030 akan mengalami bonus demografi yang mana bonus demografi ini harus dimanfaatkan secara maksimal. Disinilah peran para santri dalam penguasaan teknologi dibutuhkan, kenapa harus santri? Mari kita lihat bersama, sekarang ada lebih kurang 34.000 pondok pesantren yang ada di Indonesia, dimana pesantren-pesantren tersebutlah yang akan melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa di masa depan. Paradigma lama tentang santri hanya pintar ngaji harus diubah, santri tidak boleh ketinggalan zaman, santri juga harus menguasai IPTEK agar tidak ketinggalan zaman.

Demi menciptakan santri yang unggul diperlukan kolaborasi bersama di segala aspek terutama dalam ranah pendidikan. Perlunya memfasilitasi santri dalam hal teknologi bertujuan untuk menumbuhkan minat santri dalam memeriahkan semangat berteknologi guna menciptakan techno talent di masa depan.

Melek teknologi tidak harus bisa membuat sebuah alat canggih yang dapat mendistrupsi dunia, santri bisa mulai dari hal terkecil, yang sekarang sudah menjadi konsumsi sehari-hari bagi masyarakat, yaitu digital.

Santri harus berlomba-lomba untuk mengisi ruang digital dengan konten-konten berfaedah, seperti membagikan konten-konten ilmu lewat beragam bentuk, bisa lewat video, podcast, grafis, bahkan tulisan. Santri bisa membuat kelompok yang mana mereka bisa berkolaborasi secara aktif di media sosial dan menyebarkan narasi islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Dalam dunia teknologi yang lebih luas, ada 3 poin penting yang wajib digaungkan di benak para santri yaitu kreativitas, inovasi, dan kolaborasi.

Kreativitas, di era digital santri wajib menpunyai kreativitas (al-ibdā’), santri harus kreatif dalam melihat ide-ide dan gagasan, kreativitas dikembangkan dengan banyak hal, mulai dari membaca buku, berdiskusi dalam mengambil gagasan dan pandangan modern di kehidupan, dan mencoba menemukan formulasi untuk berani membuat sesuatu yang menarik dan bermanfaat.

Inovasi (al-ibtikār), berinovasi menjadi hal yang sangat penting di era digital, seperti misalnya yang dilakukan oleh santri-santri di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Hikam Malang, penguatan riset ilmiah menjadi ajang untuk berlomba-lomba dalam inovasi, salah satunya presatasi dalam menciptakan gagasan berupa alat pendeteksi pelanggar protokol kesehatan yang telah memenangkan ajang riset internasional.  Semangat berinovasi seperti itulah yang harus dibagun di banyak pondok pesantren yaitu dengan mengenalkan dan memfasilitasi para santrinya dalam dunia riset atau penelitian.

Kolaborasi (at-ta’āwun), dengan berkolaborasi maka tujuan akan lebih mudah dicapai, tidak bergerak sendiri-sendiri, itulah yang diajarkan rosulullah sejak dulu bukan?, dalam mencapai tujuan yang mulia diperlukan kolaborasi bersama, sebagai contoh adalah rumpun keilmuan di Pondok Pesantren Al Hikam Malang, Asosiasi Rumpun Keilmuan menjadi wadah dalam berkolaborasi serta berbagi keilmuan di lingkungan pesantren, jadi para santri tidak hanya mengerti dengan ilmu agama saja, tetapi ia juga dikenalkan dengan ilmu-ilmu lainya seperti ekonomi, pertenakan, bahasa, hukum, komputer, dll. Di dalam sebuah kegiatan juga para santri bersama berdiskusi mengenai topik yang sedang hangat diperbincangkan masyarakat, mereka diajak melihat sebuah topik dari beragam sudut keilmuan, inilah yang memantik kolaborasi dalam menanggapi sebuah isu sosial.

Dengan ikhtiar bersama pengembangan kreativitas, inovasi, dan kolaborasi di lingkungan pesantren sesuai jenjang pendidikanya diharapkan akan melahirkan bibit-bibit unggul santri dalam dunia teknologi. Kita akan melihat bersama kejayaan ilmu pengetahuan islam seperti di masa dulu, kita akan kembali melahirkan ilmuan seperti Al Farabi, Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Ibn Khuldun, versi modern yang akan memperjuangkan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai keisaman. Amiin

Related Posts