Dalil, Fahmu Dalil dan Istidlāl

Ilustrasi: islampos.com

Jauh sebelum saya mendapat hadiah kitab dari shahib yang baik hati yang sudah saya posting sebelumnya (walau judulnya saya sensor), saya sudah mendapatkan beberapa fakta tentang adanya sebagian dalil yang digunakan (istidlāl) tidak pada tempatnya. Dalilnya shahih, tapi pemahaman dan istidlālnya keliru. Dan sebagian fakta itu sudah pernah saya lontarkan di majelis para ustadz.

Misal hadis A digunakan untuk berdalil dalam masalah ini, padahal tidak ada seorangpun dari para ulama salaf atau mutaqaddimun (pendahulu) yang memahami demikian. Kesimpulan itu semata dari pemahamannya sendiri yang lebih mengedepankan makna dzahir (tekstual)nya, tanpa merujuk kepada keterangan para ulama mujtahidin atau para imam-imam besar di bidangnya.

Coba bayangkan, jika kesalahan istidlāl atau pemahaman terhadap dalil itu di bidang akidah (dan ini sudah terjadi), lalu kesalahan itu digunakan untuk menyesatkan bahkan mengkafirkan (mensyirikan) sesama muslim yang dianggap melanggar dalil tersebut, duhai betapa besar kerusakan yang akan terjadi ? Apalagi jika sudah kadung tersebar ke seantero jagad, duh betapa ngerinya dan betapa beratnya pertanggungjawaban yang harus di pikul kelak di hari kiamat.

Dalil yang valid (shahih) saja tidaklah cukup, sampai diiringi dengan pemahaman dan istidlāl yang shahih (benar) pula. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Wallahu a’lam.

 

Related Posts