Kemunduran Umat Islam: Perspektif Amir Syakib Arslan (Part. 2)

Pada dasarnya, kemunduran dan kelemahan yang menimpa umat Islam tidak terjadi di dataran Nusantara dan Melayu saja, hampir seluruh negara Islam mengalami hal yang sama. Begitupun umat Islam yang berada di negara mayoritas non-muslim, keadaan mereka juga tidak jauh berbeda. Demikian Amir Syakib Arslan membuka bahasannya mengenai faktor kemunduran umat Islam. Setelah itu beliau mengajak pembaca untuk bernostalgia dengan kejayaan bangsa Arab masa lalu. Dengan apa dan bagaimana bangsa Arab menjadi jaya, dulu, saat Islam membumi kali pertama di tanah yang gersang itu (hlm.39). Mengambil pelajaran dari sejarah masa lalu, adalah hal yang sangat perlu: untuk membangun masa depan yang bermutu. Begitu mungkin pesan yang ingin Amir Syakib Arslan kasih tahu.

Kemajuan dan kejayaan bangsa Arab pada masa dahulu dipicu oleh spirit dan ide-ide Islam yang menjadi anutan mayoritas bangsanya. Islam mengubah angkara konflik dan perpecahan menjadi harmoni persatuan dan persaudaraan. Islam juga yang menjadikan bangsa Arab mengalami kemajuan peradaban setelah sebelumnya terkubur dalam kubang kotor kebodohan. Islam membentuk karakter penuh asih nan kasih dalam diri mereka, padahal sebelumnya selalu diselimuti amarah dan nafsu angkara murka. Patung sesembahan lama digantikan oleh keimanan kepada Tuhan yang Maha Esa. Arab telah bermetamorfosis dari bangsa yang tidak dipedulikan, menjadi bangsa yang sangat diperhitungkan, bahkan hampir menguasai seluruh dunia andaikan perpecahan dan perseteruan pada akhir kepemerintahan Sayyidina Utsman bin Affan dan awal era Sayyidina Ali bin Abi Thalib bisa diredakan, nyatanya yang terjadi terus membara, dan melahirkan warisan dendam yang tak berkesudahan (hlm. 41-42).

Beliau melanjutkan, bahwa penting untuk mengetahui apa saja faktor yang mampu membawa bangsa Arab menjadi sejahtera lahir dan batin sekaligus pada generasi Nabi Muhammad saw. dan kurun pertama sesudah kemangkatannya. Sama pentingnya kemudian kita introspeksi, “Masihkah faktor-faktor kemajuan itu lestari dalam denyut kehidupan bangsa Arab dan umat Islam lain diseluruh dunia?” Atau faktor-faktor tersebut telah sirna? Iman tinggal namanya saja, yang tersisa dari Islam hanyalah sebutannya semata, dan Al-Quran sebatas dendangan tanpa makna, petunjuk serta ajaran yang dikandung di dalamnya menguar tak tersisa (hlm.42) Begitukah yang terjadi?

Memang begitu faktanya. Maka kita harus menyadari dan mawas diri, kemuliaan dan pertolongan yang Allah swt. janjikan hanya berlaku bagi orang-orang yang beriman, bukan orang yang mengaku beriman tetapi lakunya jauh dari nilai-nilai keimanan; diperuntukkan bagi orang-orang Islam, bukan mereka yang mengaku Islam tetapi tidak mengindahkan tuntunan-tuntunan keislaman. Nabi Muhammad saw. dan para generasi setelahnya telah memenuhi tuntutan Allah swt., maka Allah swt. memenuhi janji-Nya. Nabi Muhammad saw. telah “menolong” Allah swt. maka petolongan Allah swt. selalu menyertai setiap langkahnya.

Demikian Amir Syakib Arslan membuka jawabannya terhadap pertanyaan Syech Basyuni Imran. Dengan pengantarnya saja kita sudah menemukan jawaban general mengenai apa sebenarnya yang membuat kehidupan umat Islam dewasa ini terpuruk, lemah, dan mengalami kemunduruan dalam berbagai sektor, sekaligus kita tahu makhraj (problem solving) yang harus kita lakukan untuk keluar dari keterpurukan ini. Tetapi bukan Amir Syakib Arslan namanya jika tidak bisa mengurai persolaan ini dengan lebih detail lagi.

Dalam bab selanjutnya beliau melakukan uapaya komparasi antara keadaan dan gaya hidup orang-orang muslim dengan orang-orang Eropa pada masa itu, dan efek dari gaya hidup keduanya…

Bersambung…

*Bagi yang ingin kitab pdfnya bisa hubungi langsung penulis melalui akun Facebook beliau Muhammad Jazilunnazal. Kitab yang sangat penting.

Related Posts