Masjid NU Pakai Mimbar Apa Podium?

Ilustrasi: NU online

Sejak pagi saya bersama MWC NU Driyorejo, Gresik, Ngaji penguatan dalil Amaliah Aswaja seputar Masjid, dikomandani oleh Lembaga Takmir Masjid setempat. Saya menyampaikan beberapa tanda-tanda yang identik dengan Masjid NU, diantaranya adalah Mimbar.

Pada sesi tanya jawab ada salah satu perwakilan Takmir yang bertanya apakah harus Mimbar yang dimasuki dari depan atau yang dari belakang/ podium? Untuk membeli katanya lebih murah podium dari pada Mimbar.

Secara dalil lebih dianjurkan Mimbar dengan 3 tangga di depan, seperti Sabda Nabi shalallahu alaihi wa sallam:

«اﻧﻈﺮﻱ ﻏﻼﻣﻚ اﻟﻨﺠﺎﺭ، ﻳﻌﻤﻞ ﻟﻲ ﺃﻋﻮاﺩا ﺃﻛﻠﻢ اﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻴﻬﺎ» ﻓﻌﻤﻞ ﻫﺬﻩ اﻟﺜﻼﺙ ﺩﺭﺟﺎﺕ

“Sampaikan pada anakmu yang pengrajin kayu, agar membuatkan kayu untuk sebagai tempat saya berpidato untuk para sahabat”. Maka dibuatlah 3 tangga (HR Muslim)

Tetapi menurut Imam Nawawi tidak harus Mimbar dengan 3 tangga, yang penting tempatnya tinggi supaya dapat dilihat jamaah:

ﻓﻔﻴﻪ ﻓﻮاﺋﺪ ﻣﻨﻬﺎ اﺳﺘﺤﺒﺎﺏ اﺗﺨﺎﺫ اﻟﻤﻨﺒﺮ ﻭاﺳﺘﺤﺒﺎﺏ ﻛﻮﻥ اﻟﺨﻄﻴﺐ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻋﻠﻰ ﻣﺮﺗﻔﻊ ﻛﻤﻨﺒﺮ ﺃﻭﻏﻴﺮﻩ

Ada banyak ilmu dari hadis ini. Diantaranya anjuran menggunakan Mimbar dan anjuran Khotib naik ke tempat tinggi seperti Mimbar atau lainnya (Syarah Muslim, 5/34)

Di beberapa negara berpenduduk Muslim terkadang tangganya berjumlah 11 seperti di Damaskus atau Turki. Kadang tidak memakai tangga di depan tapi naik dari pintu ruangan seperti di Malaysia.

Mimbar bukan tanda-tanda Masjid NU yang sifatnya keharusan. Boleh berupa podium. Sebab kadang Mimbar memiliki harga yang mahal. Tanda Masjid NU yang harus ada adalah Tongkat untuk Khotib. Karena harganya tidak mahal. Kalau tidak mampu beli tongkat bisa pakai tongkat anaknya, yaitu tongkat Pramuka.

Related Posts