Mewujudkan Keharmonisan Antarumat Beragama dan Bangsa Representasi Ajaran Rasulullah

 

Ilustrasi; :Lovelifedaily

Setiap agama selalu mengasumsikan kebebasan (doktrin) kebenaran masing-masing, di mana doktrin tersebut dituangkan dalam sistem ajaran, ritual, dan tuntunan. Dalam kemutlakannya, agama berfungsi sebagai pegangan dan tuntunan hidup yang memerlukan kadar kepastian tinggi yang dijadikan pedoman dan prinsip oleh masing-masing pemeluknya.

Begitu juga dengan Islam, dalam ajarannya Islam mengakui bahwa perbedaan dan keberagaman agama menjadi sesuatu yang niscaya dan memang tidak bisa dipaksa menjadi satu. Bahkan memaksa untuk mensatukan semua manusia berada dalam satu agama, yaitu Islam merupakan larangan. Di sinilah Islam dapat dipahami dan diketahui fungsinya sebagai pegangan atau tuntunan hidup dalam bersosial.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) agama diartikan sebagai ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia serta lingkungannya.

Dalam hal ini, agama bisa dimaknai dengan lebih singkat namun padat sebagaimana yang diajarkan dalam ajaran Islam itu sendiri, yaitu konsepsi suatu pemahaman tentang pesan nilai-nilai universal sebagai rahmat seluruh umat. Semangat inilah yang dikandung oleh setiap agama dalam mengajarkan kedamaian dan cinta kasih.

Namun demikian, Islam seringkali dijadikan sebagai alasan konflik oleh sebagian pemeluknya. Bahkan, konflik tersebut cenderung bersifat destruktif dan anarkis. Jika hal ini terus terjadi, agama Islam lambat laun akan kehilangan ruh sucinya, yang berakhir pada hilangnya nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi pokok ajaran dalam ajaran Islam.

Secara historis agama-agama dan berbagai aliran kepercayaan hadir secara bergantian. Namun, bukan berarti kehadiran agama atau kepercayaan baru tersebut serta merta menghapus, menghilangkan, dan menyingkirkan agama dan kepercayaan sebelumya. Karena itu, menjadi suatu kewajaran apabila dalam suatu masyarakat terdapat agama dan kepercayaan yang beraneka ragam bentuknya.

Pluralitas keberagamaan umat manusia telah menorehkan sejarahnya sendiri yang multiwarna. Terjadinya persaingan, sikap saling mencurigai, dan peperangan yang menghilangkan nyawa manusia telah menjadi kenyataan suram, yang dipicu oleh realitas pluralitas agama. Sejarah kelam tersebut telah menyadarkan sebagian umat beragama untuk terus menggali pentingnya nalar agama yang “melampaui” pemahaman-pemahaman atas klaim kebenaran yang “tradisional”.

Di sinilah nilai-nilai tasamuh (toleransi) ala Nahdlatul Ulama (NU) harus dikembangkan dalam rangka mewujudkan kedamaian dan ketentraman dalam beragama, berbangsa, dan bernegara. Hal ini tidak lain selain untuk menunjukkan bahwa agama bukanlah suatu alat untuk menjauhi pemeluk agama lainnya.

Adanya kesadaran sebagaian umat manusia atas pluralitas keberagamaan telah melahirkan fase utama dari sebuah pengharapan akan adanya dialog (tashawur) antarumat beragama. Sepanjang abad kedua puluh, kesadaran pluralitas itu tumbuh subur sehingga berbagai forum dialog terbentuk. Sebuah kesadaraan yang tumbuh akan pluralitas keberagamaan, dibarengi dengan terbentuknya berbagai forum dialog antarumat beragama, merupakan perwujudan nyata akan peradaban baru umat manusia.

Sebuah realitas yang tidak dapat dihindari bahwa dalam kehidupan beragama dengan berbagai bentuk warnanya, perbedaan tidak dapat dielakkan lagi dan menjadi sebuah wujud nyata perihal keniscayaan manusia sebagai makhluk yang memiliki kebebasan dalam beragama. Berbagai perbedaan tersebut dapat memunculkan potensi kompetisi dan permusuhan antarumat beragama sehingga mengakibatkan hilangnya suasana harmonis dan toleransi di dalam kehidupan bermasyarakat. Di sinilah nilai-nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama sangat penting untuk kembali diwujudkan.

Kiai Jamal Ghafir dalam buku karangannya yang berjudul “Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jamaah, Pendiri dan Penggerak NU” halaman 8, mengatakan, bahwa toleransi agama tidak berarti ajaran sebuah agama yang satu dengan ajaran agama yang lain dicampuradukkan. Namun, dengan prinsip hidup yang mengedepankan toleransi dalam kehidupan berkelompok dan bermasyarakat, tradisi-tradisi keagamaan yang dimiliki setiap individu menjadi komulatif dan kohesif yang menyatukan keragaman interpretasi dan sistem keyakinan keagamaan.

Menjaga persatuan dan kesatuan merupakan tugas utama sekaligus tantangan bagi negara-negara modern, termasuk Indonesia. Karena itu, persatuan dengan mengedepankan toleransi antarumat beragama menjadi pijakan utama di dalam membangun stabilitas bangsa dan ketentraman masyarakat.

Rasulullah saw telah mewariskan nilai-nilai dan prinsip-prinsip guna mengatur setiap aspek kehidupan. Sistem tersebut berupa pedoman prinsipil, kaidah-kaidah universal, dan tata aturan yang dengannya memungkinkan kita memiliki karakteristik independen, tegak berdiri di atas landasan manhaj (teolog) akidah yang memiliki tabiat, keistimewaan, dan integritas yang mumpuni serta mengungguli sistem Barat kotemporer.

Pentingnya membangun sebuah keharmonisan dalam suatu bangsa bisa dilihat dari upaya Rasulullah pasca hijrah dari Makkah ke Madinah bersama para sahabat. Pada masa itu, visi dan misi pertama kali yang beliau upayakan tidak lain selain mempersatukan sahabat Ansar dan Muhajir. Hal ini tidak lain selain untuk menumbuhkan kembali betapa pentingnya persatuan untuk menciptakan keharmonisan masyarakat, khususnya masyarakat Islam.

Setelah masyarakat Islam memiliki jalinan dan hubungan erat dalam bingkai agama, Rasulullah berupaya untuk menjalin persatuan dengan pemeluk agama lain. Pasca perang Abwa meletus, dan kemenangan berhasil diraih umat Islam, upaya pertama yang dilakukan Rasulullah adalah menjalin hubungan dengan mereka yang kemudian dikenal dengan istilah perjanjian Islam dengan Bani Dlamrah.

Ketika umat Islam dihalangi untuk melakukan ibadah Haji oleh koalisi kafir Quraisy, yang dilakukan oleh Rasulullah justru tidak memerangi mereka akan tetapi menjalin perjanjian dengan mereka guna menciptakan kedamaian dan persatuan sehingga tidak terjadi genjatan senjata antara umat Islam dan kafir Quraisy, perjanjian ini yang kemudian dikenal dengan suluh hudaibiah.

Dalam kondisi seperti saat ini, agama Islam khususnya memiliki tugas besar yang harus dilakukan oleh setiap pemeluknya dalam melakukan transformasi pemahaman dan pengawalan pada ajaran Islam sebagai agama yang menjunjung nilai-nilai perdamaian dan keharmonisan antarumat beragama, serta menghilangkan nilai-nilai ekstrimisme yang oleh sebagian kelompok dianggap sebagai ajaran Islam, padahal kenyataannya tidak demikian.

Hal ini sangat penting untuk dilakukan, karena selama ini agama Islam memiliki komitmen terhadap nilai-nilai persatuan dan hubungan harmonis antarumat beragama yang mengedepankan kerukunan dan nilai-nilai toleransi antara mereka, sebagaimana kearifan Rasulullah dan para sahabat dalam memahami kultur budaya pada masanya.

Dengan kearifan itulah, ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah diterima oleh banyak masyarakat yang sangat plural, bahkan banyak masyarakat Arab yang berbondong-bondong untuk memeluk ajaran samawi ini setelah mengetahui eksistensi ajaran Islam yang sebenarnya sebagaimana yang telah dilakukan dan ditampakkan oleh Baginda Nabi.

Dalam sejarahnya, selama masih memungkinkan untuk menerapkan perdamaian dan keharmonisan antarumat beragama, Rasulullah tidak menjadikan Islam sebagai bahan bakar dan slogan untuk menciptakan perang (jihad) melawan mereka. Rasulullah menyampaikan ajaran Islam tanpa sedikit pun menjelek-jelekkan ajaran agama lain. Dengannya, keharmonisan dan perdamaian tercipta. Bahkan, tak sesekali terdapat perjanjian damai antara umat Islam dengan pemeluk agama lain dengan tujuan agar perselisihan dan saling menyalahkan tidak terjadi dan keharmonisan bisa mereka nikmati.

Related Posts