Moderasi Beragama: Arogansi Sikap Merasa Paling Benar

Law and justice concept – Themis statue, judge hammer and books. Courtroom.

Bukan agama, manhaj, madzab atau ideologi yang di moderasi tapi sikapmu yang mengambil titik ekstrim yang kemudian dipahamkan secara parsial leterlik itu yang perlu di moderasi.

Arogansi Barat memaksakan nilai-nilai liberal materialistik terhadap Islam juga penting di moderasi.

Lantas Karl Popper berkata: ‘keliru adalah manusiawi, dan saya berbuat manusiawi sekaligus dua. Maka tesis Daniel Bell tentang ‘The End of Ideologi’ pun patah. Risetnya tentang ‘berakhirnya ideologi’ tidak terbukti, sebaliknya perang ideologi makin kencang dengan skala yang lebih luas tapi latent.

Umat Islam menganggap bahwa hanya agama Islam yang benar yang lain salah dan sesat —

Zionis berpegang teguh kepada keyakinan bahwa bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan, lantas menganggap bangsanya yang paling agung dan berhak melakukan apapun yang disuka.

Keselamatan terjadi hanya karena menanggalkan,mematikan dan membuang segala dosa-dosanya dengan percaya, menerima, dan mengakui Yesus Kristus sebagai juru selamat pribadi.

Marxisme bilang bahwa agama adalah candu masyarakat sebab itu harus enyah.

Liberalisme menyebut agama adalah sumber petaka, sumber kemunduran karena dianggap tidak menggunakan akal.

Benarkah hanya NU sebagai representasi ahli sunah wal jamaah lainnya sesat ? Benarkah Salafi Wahabi yang berhak menyandang paling nyunah, paling murni paling otentik dan sangat dekat dengan Al Quran dan as Sunah, yang selainnya adalah sesat dan ahli bid’ah masuk neraka ?

Pun dengan Mu’tazilah, Jabbariyah, Khawarij, Syiah dan puluhan aliran lainya yang semisal meski kecil tapi beringas. Menganggap hanya aliran dan manhajnya yang benar yang lain bathil.

Sikap ekstrim menolak hidup berdampingan, inginnya hidup sendiri meniadakan yang tidak sepemahaman — Dengannya bisa menampik yang tidak sepemahaman dan menolak siapapaun yang berbeda— sikap inilah yang perlu dimoderasi.

Pada awalnya setiap agama punya sikap merasa benar sendiri : tidak Kresten, Katholik, Hindhu, Budha, Islam atau agama apapun selalu dibarengi sikap merasa benar sendiri dan menganggap selain agamanya salah.

Sikap merasa paling benar dan paling baik dari yang lain, adalah niscaya, ibarat pedang bermata dua : satu sisi sebagai sumber kekuatan dan satunya sebagai sumber petaka — satu sisi berfungsi sebagai kekuatan yang mengokohkan, sisi lainnya melahirkan sikap ekstrim yang meniadakan.

Karren Amstrong menyebut bahwa setiap agama, aliran, manhaj pada dasarnya punya titik ekstrim yang tidak bisa bercampur — sebab itu jika ada yang mencoba memadukan antar iman sesungguhnya buang-buang waktu karena pasti hanya lipstik.

Hal pentingnya adalah bahwa pikiran merasa paling benar sendiri bukan monopoli agama Islam yang kemudian menjadi target moderasi, lantas iman Islam dipadankan dengan yang lain — ini pikiran sesat. Agama atau manhaj atau ideologi lain juga sama, tak ada beda.

Moderasi itu adalah sikap dialektik kompromistis, agar tidak kebablasan—moderasi sering dikakukan dengan cara ekstrim dan radikal pula — bahkan ada yang menyamarkan iman agar terlihat baik di depan semua orang, dan itu klise.

Related Posts