Perhatikan Tujuan Mengutip Referensi

Ilustrasi; jektv

Beberapa penulis salah paham dalam menampilkan sebuah kutipan atau referensi. Mungkin maunya agar terlihat banyak membaca dan berwawasan luas sehingga menampilkan kutipan referensi sebanyak mungkin. Namun hasilnya bukan malah terlihat pintar dan mencerahkan, justru malah terlihat tidak punya originalitas. Bukannya membuat orang kagum, justru membuat orang bertanya-tanya apa pencerahan baru dari tulisan si penulis.

Mengutip itu fungsinya hanya tiga:

1. Sebagai penguat sebuah statement penting yang seharusnya dikatakan oleh orang yang punya otoritas. Dengan kata lain, kalau statemen itu tidak penting, semua orang tahu atau tidak perlu penguat dari otoritas, maka seharusnya tidak perlu kutipan.

2. Sebagai penjelas di mana posisi penulis dalam peta pemikiran para tokoh yang berbicara tentang topik yang sama. Dengan kata lain sebagai bukti bahwa pemikiran orang lain tidak sama dengan apa yang penulis perkenalkan. Kalau semua sama dari awal hingga akhir, bahkan cara menjelaskan suatu masalah pun sama, maka lampirkan fotokopi saja lebih praktis daripada menulis.

3. Sebagai bukti kebenaran sebuah statement yang dinisbatkan pada orang lain. Dengan kata lain, ketika penulis menyebut pemikiran atau pernyataan tokoh tertentu, pemikiran dan pernyataan itu betul-betul valid dan bisa dikroscek.

Kalau tidak untuk tujuan itu, maka sebaiknya tidak perlu mengutip tetapi merangkai bahasa sendiri. Dengan demikian, tulisannya akan tampak bertenaga. Tapi tidak perlu terbebani juga dengan ini, toh setingkat profesor saja banyak yang tulisannya “kurang bertenaga” meskipun banyak menampilkan referensinya.

Related Posts