3 Tipe Seorang Hamba Dikaruniai Ilmu Al-Qur`an

“Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara merek ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.” (QS. Fatir : 32).

Al-qur`an adalah kalam ilahi rabbi yang sangat mulia, dan diturunkan kepada makhluk paling mulia yang namanya harum dipenjuru langit maupun dunia, beliau adalah Baginda Nabi Muhamad SAW, putranya sayyidina Abdullah dan Quraisy adalah marganya. Beliau menerima wahyu ini pertama kali di gua Hira` dengan wasilah Malaikat Jibril As yang telah lazim kita ketahui bahwa malaikat jibril adalah pemimpinnya para malaikat.

Dengan terpilihnya dua makhluk yang sama-sama agung di alam Nya, bukankah telah jelas dan terang, bahwa sesuatu yang dibawanya pula adalah hal yang sangat agung nan mulia, bahkan jika menuqil dari ayat di atas bahwa hanyalah orang-orang tertentu yang bisa menerima keagungan alqur`an, hanyalah orang-orang pilihan yang mampu menghafalkan al-qur`an. Allahummarhamna bi al-qur`an, semoga kita senantiasa mendapatkan rahmat Allah dengan wasilah Al-qur`an Al-Kariim.

Di abad ke-21 ini banyak anak-anak muda yang sedang berlomba-lomba untuk menghafalkan Al-qur`an, pesantren-pesantren Tahfidz menjadi pilihan terbaik bagi orangtua-orangtua yang menginginkan anaknya menjadi seorang Hafidz dan Hafidzah, berbagai upaya telah di lakukan oleh para guru-guru Tahfidz, terobosan-terobosan metode akselerasi menghafal al-qur`an diciptakan, bahkan seakan-akan di abad ke-21 ini hal-hal yang seperti di atas menjadi bahan perdagangan antar lembaga dan yayasan. Namun, jika kita kembali ke atas, yakni jika kita mendalami dan mentadabburi makna ayat ke-32 surat Fatir bahwa sesungguhnya bukan seberapa bagus dan seberapa hebat metode yang kita pakai untuk menghafal Al-qur`an, namun seberapa pantas kita, untuk menjadi hamba yang dipilih Allah SWT untuk enggenggam setiap huruf, kalimat dan ayat-ayat al-qur`an. Lantas salahkah bagi para guru-guru Tahfidz dalam menciptakan terobosan-terobosan terbaru dalam menghafal al-qur`an…? maka penulis katakan TIDAK tidak salah sama sekali, bahkan itu adalah ide yang sangat brilian sekali, sangat menunjang pada banyaknya kesempatan bagi para generasi muslim untuk menjadi seorang Hafidz dan Hafidzah.

Lantas mengapa penulis mengatakan sebagai ajang perdagangan? karena fakta di lapangan seperti itu, apabila ada seoarang anak yang mondok di salah satu instansi lembaga Tahfidz, dan di sana disediakan metode cepat menghafal, lantas sang anak tidak mampu untuk menghafalnya, maka anak tersebut begitupun orang tuanya kebanyakan menyalahkan guru-gurunya, yang disalahkan adalah metodenya kurang bagus dan kurang sempurna, sehingga seakan-akan orang yang hafal al-qur`an itu di sebabkan oleh seberapa bagus metode yang ia pakai, padahal kenyataannya tidak seperti itu, jika kita kembali mengingat dan mentadabburi makna ayat ke-32 surat Fatir yang maknanya bahwa Hanyalah Hamba-hamba pilihan yang Allah wariskan kepadanya Al-qur`an Al-Kariim (Hikmatun Tafsir Baidhawi).

Berat memang menghafal al-qur`an. Selain hanya menuntaskan setoran hafalan al-qur`an yang berat, perlu kita ketahui bahwa perjuangan seorang hafidz tidaklah selesai ketika ia telah tuntas setoran hafalan 30 juz, akan tetapi perjuangan yang lebih besar dan lebih berat telah menunggunya, yakni apakah bisa ia mempertahankan hafalannya hingga akhir hayatnya. Apakah mampu ia untuk mengamalkan isi-isi al-qur`an yang telah ia hafal bahkan dalam hal ini Sang Maha Kuasa sendiri telah meng-khobarkan kepada kita melalui firman Nya tentang terklasifikasinya seorang Hafidz dan Hafidzah dalam 3 tipe :

  1. Minhum Dzholimun linafsihi

Tipe ini adalah tipe dimana seorang Hafidz dan Hafidzah telah mampu menghafal sebagian ataupun suluruh ayat suci al-qur`an, namun sangat disayangkan sekali karena ia tidak mau mengulang kembali hafalannya bahkan ia telah meninggalkannya dan lebih ngeri lagi ia tidak mampu bahkan tidak pernah mengamalkan apa-apa yang telah diperintahkan Allah SWT yang tertuangkan di dalam Al-qur`an.

  1. Minhum Muqtashith

Tipe ini adalah tipe dimana seorang Hafidz dan Hafidzah telah mampu menghafal sebagian ataupun seluruh ayat suci al-qur`an, dan ia mampu mengulang kembali hafalannya dengan di takrir (diulang-ualang) setiap hari, namun ia masih belum ada kemampuan untuk melakukan sepenuhnya perintah Allah SWT yang tertuangkan di dalam al-qur`an.

  1. Minhum sabiqun bilkhairat

Tipe ini adalah tipe dimana seorang Hafidz dan Hafidzah telah mampu menghafal sebagian ataupun seluruh ayat suci al-qur`an dan ia mampu istiqomah untuk mengulang kembali hafalannya dalam kesehariannya serta ia mampu untuk engamalkan setiap perintah Allah SWT yang telah dituangkan di dalam al-qur`an.

Dengan begini penulis menghimbau pada segenap generasi muslim yang ingin menghafalkan al-qur`an untuk terus memperbaharui dan menjaga niatnya, agar senantiasa berada dalam koridor nauangan dan mau`nah Allah SWT, semoga kita semua bisa menjadi ahlu al-qur`an, kekasih allah dan semoga dari kita semua yang sedang menghafal dan yang sudah selesai hafalannya semoga tergolong dalam katagori hamba Allah yang Sabiqun bilkhairat amien ya rabbal alamiin.

Catatan : mengenai makna tafsir umumnya tentang ayat di atas yang bisa ditemui di beberapa kitab adalah sebagai berikut :

Minhum Dzolimun linafsihi :Adalah tipe orang yang terdominasi pada amal kejelekannya.

Minhum Muqtashid :  Adalah tipe orang yang telah tahu akan ilmu agama tapi terkadang ia juga melanggar peintah agama tersebut (Ibadah dikerjakan tapi maksiat juga jalan)

Minhum sabiqun bilkhairat : Adalah tipe orang yang amal kebaikannya lebih unggul dari pada amal keburukannya, sehingga amal keburukannya bisa tertutupi oleh amal kebaikannya.

Refrensi : Tafsir Al-Baidhawi karangannya Syaikh Al-islam Nashir Al-Dhin Al-Baidhawi

Namun, dalam artikel ini penulis ingin lebih memfokuskan lagi pada pemaknaannya, supaya bisa lebih mudah difahami dan dimengerti.

Related Posts