Apakah Serambi Masjid Termasuk Masjid?

foto: nu online

Serambi dalam fikih kita disebut dengan rahabah. Yaitu bangunan di luar ruang utama masjid yang dipagar demi untuk meluaskan masjid. Hukum rahabah dalam literatur fikih kita termasuk masjid atau berlaku hukum-hukum masjid, baik diketahui ia diwakafkan jadi masjid atau tidak. Namun, apabila ia dibangun baru setelah masjid berdiri, maka ia bukan termasuk masjid.

Demikian perincian hukum serambi menurut sebagian ulama’ atau kyai-kyai di Indonesia. Dan ibarat kitab-kitab fikih Syafi’i secara tekstualis memang mendukung perincian tersebut.

Tetapi, menurut sebagian ulama’ atau kyai Indonesia, serambi masjid bukan termasuk masjid dengan melihat konteks ‘urf (adat) yang berlaku di Indonesia yang tidak seperti dalam kitab-kitab salaf. Tetapi ia dibangun sebagai fasilitas (irtifaq/marafiq) misal tempat main anak-anak yang datang ke masjid, untuk tempat ibu-ibu yang haidh dan mengikuti pengajian di masjid, tempat makan bancaan (sedekah makanan saat khatam al-Qur’an dan dimakan bareng-bareng dimasjid), dan lain-lain.

Konsekwensi dari pendapat terakhir ini adalah:

1. Tidak boleh shalat tahiyatul masjid di serambi

2. Saat khutbah atau saat khatib sudah duduk diatas mimbar untuk khutbah, makmum sudah tidak boleh shalat apapun di serambi. Baik shalat tahiyatul masjid, shalat qodho’ shalat wajib, atau shalat yang lain.

3. Tidak sah untuk i’tikaf.

4. Wanita haidh boleh duduk disana.

5. Yang membawa najis masuk ke serambi tidak terkena hukum haram.

6. Tangga ke lantai atas tidak boleh berada di serambi.

7. Anak yang belum tamyiz (umur 7 tahun) tidak makruh masuk atau main di serambi.

8. Dan lain-lain.

Wallahu A’lam.

Related Posts