Arkan: Kitab Simpel yang Berpengaruh Karya Syaikhona Yahya Kamal

Foto: Dokumentasi penulis

Arkan adalah kitab kecil yang disusun oleh kiai terkenal pada masanya, yaitu almarhum KH. Yahya bin Faroid. Kitab ini bernama asli Kifayah as-Solat ‘Ala Sabil al-Najah. Beliau adalah pendiri Pondok Pesantren yang sekarang bernama Pondok Pesantren Syaikhona Yahya. Pondok ini berada di Karanganyar, Kamal, Bangkalan. Beliau satu masa dengan Asy-Syaikh al-Allamah Mbah Khalil Bangkalan. Bahkan lebih sepuh lagi secara usia. Cerita yang terkenal bersama Syaikhona Kholil adalah ketika Syaikona Yahya meninggal dan hendak dikuburkan, namun tanah sebanyak-banyaknya tidak mampu menutup liang lahat beliau, tanahnya seakan ikut masuk entah ke mana. Kemudian Syaikhona Kholil yang bertugas membaca talqin datang, melihat peristiwa tersebut mengucapkan kalimat “Barokahna jhek giba kabbi, dhinai nak potona (barokahnya jangan dibawa semua, sisakan untuk anak-cucunya)”. Lantas liang lahat Syaikhona Yahya bisa ditutup dengan tanah.

Saat ini, pondok pesantren warisan Syaikhona Yahya dipegang oleh generasi keempat, yaitu KH. Faroid. Sistem pondok pesantren ini masih tidak berubah dari zaman dahulu. Tetap menggunakan sistem klasik, yaitu ngaji dan ngabdi. Tidak ada sekolah formal untuk para santrinya. Santri yang mencari ilmu di sana, setiap hari hanya mengkaji kitab kuning dan mengabdi kepada kiai.

Sistem ngaji di sana juga cukup unik, yaitu ngaji tontonan, mirip dengan sistem ngaji sorogan. Bedanya seorang kiai yang menuntun santri. Yaitu, kiai membaca kitab terlebih dahulu lalu ditiru oleh santrinya. Sementara sistem sorogan, seorang santri membaca sendiri di hadapan kiai, sehingga santri harus belajar terlebih dahulu sebelum menghadap kepada kiai. Biasanya, ngaji tontonan ini dilakukan bagi seorang yang memulai dari nol, buta dengan pelajaran agama. Kitab yang dilaksanakan dengan sistem ini adalah kitab Arkan (kifayatus Sholah), Duwena bajang (adzkarus Solat) dan pasa (arkanu shiyam). Semua kitab dikarang oleh Syaikhona Yahya kecuali kitab Duwena Bajhang, kitab ini ditulis oleh KH. Burhanuddin Lambhi Cabbi. Ketiganya sama-sama menggunakan tiga bahasa, di antaranya bahasa Arab, Jawa, dan Madura. Ditambah dengan satu penjelasan panjang menggunakan bahasa Madura.

Kitab Arkan ini sangat terkenal pada zamannya, terutama di Timur Daya Kabupaten Sumenep. Kitab ini seakan menjadi kitab wajib di setiap langgar untuk diajarkan kepada seorang santri. Pertanyaan yang pernah penulis dengar dan alami langsung adalah “mare ngaji arkan? (sudah khatam ngaji arkan?)” Pertanyaan ini menandakan sangat pentingnya ngaji Arkan. Jika tidak, maka solat seseorang tidak sah.

Sistematika pembahasan dalam kitab Arkan sangat sederhana, sesuai kebutuhan orang awam, dimulai dari rukun solat, syarat solat dan yang membatalkan solat. Setelah itu membahas tentang fardhunya wudhu’, berikut dengan syarat sah dan batalnya wudhu, selanjutnya membahas najis, syarat-syarat sah sebagian rukun solat, seperti syaratnya niat, fatihah dan lainnya. Kemudian menjelaskan tentang syarat solat Jum’at dan terkhir adalah syarat anut (solat berjamaah). Penulis kitab ini mengkategorikan pembahasan menjadi dua.  Pertama, pembasan dari rukun solat sampai syarat qudwah adalah bagian dari syarat diterimanya solat di dunia menurut kacamata manusia. Kedua, pembahasan tentang syarat diterimanya solat bagi Allah di akhirat. Dari semua pembahasan, kitab ini hanya berjumlah 17 halaman.

Menurut KH. Faroid, Pengasuh Pondok Pesantren Syaikhona Yahya, (penulis mendengarnya langsung pada waktu mengaji kitab Arkan), kitab Arkan adalah kitab tipis yang sudah matang. Ibaratnya seorang ibu memberi makan kepada anak kecilnya, makanan tersebut sudah matang, tinggal menyuapinya kepada si bayi. Artinya kitab ini tinggal disuapkan kepada para santri,  tidak perlu diolah lagi. Bahkan, bahan-bahannya diambil dari bahan makanan yang berkualitas. Artinya, bahan kitab mungil tersebut diambil dari kitab-kitab berkualitas yang panjang penjelasannya dan ditulis oleh ulama-ulama terkenal. Jika melihatnya selintas, kitab Arkan hasil khat KH. Burhanuddin itu, sangat sedarhana. Hal itu dirasakan jika tidak mengikuti sistem tontonan langsung kepada kiai yang sudah hafal dengan tiga bahasa berikut dengan penjelasannya. Seorang santri tdak akan tahu kedalaman kitab tersebut.

Penuturan KH. Faroid bahwa penjelasan dengan menggunakan bahasa Madura pada kitab ini merupakan hasil hafalan langsung secara turun-temurun sampai kepada Syaikhona Yahya. Kitab yang digunakan di pesantren memang tidak mencantumkan arti dan penjelasan yang menggunakan bahasa Madura. Hal itu dilafalkan langsung oleh seorang guru yang hafal di luar kepala. Salah satu contoh ketika memaknai lafadz Basmalah. Berikut cara dan runtutan bacaannya.

Bismillahi//kelawan nyebut asmo Allah//kalabhan nyebut asma Allah//Dining asma Allah panika Bismillah//

 Ar-Rahmani//aran Allah kang murah//sifattha Allah se Murah//artena murah apareng ni’mat dha’ kabula kabbi se mu’min tor se kafir e dalem Dunnya malolo.

Ar-Rahimi//kang Asih// sefattha Allah se Aseh//artena aseh Allah apareng ni’mat dha’ kabulana kabbi se mu’min gu’laggu’ neng e akhirat.

Peradaban Arkan adalah sisa dari santri-santri yang menimba ilmu kepada Syaikhona Yahya atau kepada anak-cucunya. Berkatnya, orang-orang awam mempunyai buku panduan sederhana agar solat mereka sah di hadapan syari’at dan diterima di hadapan Allah, tidak menunggu ikut pengajian dengan kitab-kitab yang tebal dengan berbahasa Arab yang rumit.

Tentu, karya yang mempunyai pengaruh besar tidak luput dari sebuah kritikan. Beberapa orang mengatakan bahwa Kitab Arkan adalah kitab buta, sebab tidak mempunyai sumber yang jelas. Sehingga beberapa penjelasan dikhawatirkan menyimpang. Beberapa orang yang mengatakan seperti ini, mungkin tidak mengetahui tujuan awal dikarangnya kitab tersebut. Di dalam pondok pesantren, kitab ini diajarkan kepada santri baru. Bagi santri lama, mereka mengkaji kitab-kitab yang panjang penjelasannya. Seperti kitab Fathul Qarib atau Fathul Mu’in. Artinya, kitab ini diperuntukkan untuk orang awam yang tidak tahu sama sekali terhadap kitab kuning yang membicarakan tentang solat. Baru setelah memahami kitab ini, seorang santri mendalami kitab Fathul Qarib dan seterusnya sebagai pendalaman..

Di samping itu, suksesnya Arkan di tengah masyarakat sebagai bukti kedekatan kitab dengan kebutuhan masyarakat. Kitab ini isinya mudah ditelan dan diamalkan. Itulah bukti kealiman seorang ulama, Syaikhona Yahya. Sebab, tidak gampang mengumpulkan intisari pembahasan dari kitab-kitab yang panjang penjelasannya, butuh kedalaman ilmu dan tehnik memahami kitab yang mendalam. Wallahu A’lam.

Related Posts