Intoleran dan Tidak Ada Paksaan Dalam Iman

Ada pembagian teritori iman yang kerap tumpang tindih : benarkah masing-masing kita diberi wenang menakar iman — lantas menafikkan iman yang kebetulan berbeda.

Menyebut bahwa Allah punya isteri dan anak adalah penodaan — tapi haruskah dipidana dan dibui ? Bukankah anjing juga ridha diciptakan Allah sebagai hewan najis lagi haram ? Lantas kenapa ada yang mengutuk ?

Apakah merusak tempat ibadah atau menampik semua tata cara dan kredo iman yang diyakini dengan cara paksa dibolehkan ?

Inilah iman yang saya imani dalam memandang iman yang berbeda — dalam perspektif teologis yang diajarkan nabi saw :

Pertama, Allah tidak memaksa siapapun untuk beriman kepada Nya — tidak ada paksaan dalam agama, sebab telah jelas antara yang haq dan yang bathil. Allah akan memberi petunjuk atau hidayah kepada siapapun yang menghendaki, dan akan menyesatkan kepada siapapun yang menghendaki. Tanpa paksaan. Jalan hidayah dilakukan dengan kesadaran.

Kedua, terhadap yang berbeda iman, berlaku prinsip bagiku agamaku bagimu agamamu, tidak mencampur iman dengan kebatilan dalam satu amalan — menarik garis demarkasi tegas iman Islam dengan iman lain tapi bukan mengenyahkan apalagi meniadakan. Hanya Islam saja yang benar dan diridhai bukan berarti meniadakan iman yang lain.

Ketiga, jika Allah menghendaki maka semua kita akan dijadikan satu umat saja satu iman saja satu agama saja satu manhaj saja satu madzab saja satu bahasa saja satu suku saja satu ras saja— tapi Allah menjadikan beragam, berbeda-beda untuk saling mengenal dan berlomba berbuat bajik. Tuhan Ahad umat beraneka.

Ke empat, Islam mengharamkan umatnya menghina sesembahan agama lain, menghina rupaka, atau menghancurkan gereja, sinagog, pure, vihara atau membakar kitab suci atau membunuh pemuka agama dengan cara zalim.

Ke lima, Islam mengharamkan menyiarkan agama dengan cara curang semisal propaganda dusta, hasud, dendam, mencela, menghina, memfitnah dan cara-cara lain yang tidak patut. Sebaliknya mengedepankan kejujuran, taawun, bahkan bila terpaksa, saat terjadi perang pun harus tetap kedepankan akhlakul karimah. Prinsip Al Islamu ya’lu wala yu’la alahi bermakna Islam adalah mulia dan jauh dari sikap rendah budi.

Ke enam, toleransi dalam Islam bermakna tidak saling mencampur antar iman, menghormati iman lain bermakna menjaga garis batas tegas, dengan prinsip : bagimu amalmu bagiku amalku— dengan begitu tidak saling merusak, tapi hidup berdampingan, meski tidak saling bersetuju.

Kompetisi iman menjadi tidak menarik, jika pertandingan berlangsung tidak sportif, memakai standard ganda dan Islam dijadikan tertuduh. Sebagai biang dan sumber berbagai tindakan radikal dan terorisme — sudah benderang bahwa Islam sangat toleran, sangat moderat bahkan masjid-masjid sudah terbuka lebar — lantas bagainana dengan iman yang lain ?

Prinsip Tuhan Ahad umat beraneka adalah niscaya, sebagai bentuk ridha atas penciptaan dari Yang Maha Mutlak Benar Allah tabaraka wataala — umat beraneka, iman beraneka, agama beraneka, manhaj beraneka, madzhab beraneka, bahasa beraneka, adalah kehendak Allah Taala — bukan untuk ditiadakan, tapi dijadikan kompetitor untuk berlomba berbuat kebajikan — Wallahu ta’ala a’lam

Related Posts