Kiai Pinjam Santri untuk Kompliti Makna Gandul Kitab Kasyifatus Saja

 

Kitab Kasyifatus Saja dikarang Syekh Nawawi Banten sebagai syarah kitab Safinatun Naja. Kitab tipis ini biasa diajarkan kepada santri santri pemula yang baru masuk pondok pesantren. Walaupun tipis jumlah halamannya namun isinya mendalam di bidang fiqh ubudiyah.

Mungkin karena alasan itu Kiai Syamsuri pendiri Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabu, Tanggung Harjo-Grobogan, Jawa Tengah perlu melengkapi makna gandul isi kitab Kasyifatus Saja. Beliau sendiri sebetulnya sudah pernah mengaji kitab itu akan tetapi pada beberapa halaman kitab yang dimilikinya ada baris baris teks yang kosong dan terlewat tanpa makna gandul.

Bagi Kiai Syamsuri Brabu seorang yang mengajarkan kitab kuning hanyalah menjadi penyambung lidah antara pengarang kepada penelaah kitabnya. Ayah dari Kiai Baidhowi ini dikenal tekun memaknai gandul kitab yang dikajinya. Hal ini diakui oleh Kiai Hamid Kajoran yang pernah menebus kitab Shaheh Bukhari milik Kiai Syamsuri yang digadaikan kepada pemilik toko kitab Toha Putra Semarang.

Beliau menggadaikan kitab kesayangannya itu untuk biaya perbaikan lantai meajid pesantrennya. Lama tidak ditebus pemilik aslinya, akhirnya datang Kiai Hamid Kajoran ke toko Toha Putra lalu menebusnya dan kitab ini juga yang dibacakan Kiai Hamid pada waktu mengajarkan kitab shahih Bukhari kepada santrinya.

Sampai akhirnya kitab Shahih Bukhari itu dihadiahkan kepada salah satu antrinya bernama Baidhowi yang tidak lain adalah putra Kiai Syamsuri sang pemilik kitab shahih Bukhari yang bertahun-tahun digunakan mengajar oleh Kiai Hamid Kajoran.

Kitab yang dimiliki Kiai Syamsuri semuanya komplit makna gandulnya supaya lengkap diajarkan kepada santrinya. Tapi di balik itu ada satu kitab miliknya yang kurang lengkap dan tipis pula halamannya, yakni kitab Kasyifatus Saja.

Untuk menambal kekurangan makna gandul kitab Kasyifatus Saja, kiai Syamsuri pernah datang ke kediamana Kiai Ishaq Ahmad pengasuh pesantren Raudhatul Muttaqin Mranggen. Namun dengan alasan kitab Kasyifatus Saja-nya Kiai Ishaq juga tidak lengkap maka Kiai Syamsuri disarankan untuk menemui santri Kiai Muslih Mranggen yang bernama Abdul Basyir Hamzah.

Pada waktu Kiai Abdul Basyir Hamzah didatangi Kiai Syamsuri untuk dipinjam kitabnya adalah masih menjadi santri. Beliau meminjamkan kitab Kasyifatu Saja hasil menyalin dari pengajian yang disampaikan Kiai Muslih tanpa banyak pertimbangan kepada Kiai Syamsuri yang baru dikenalinya. Sebab hal ini sudah diperintahkan oleh gurunya. Sehingga terjadilah, kiai meminjam kitab kepada santri untuk melengkapi makna gandul kitab yang dikajinya.

Kitab Kasyifatus Saja milik kiai Abdul Basyir dipinjam Kiai Syamsuri dalam beberapa tahun. Sampai pada waktunya Kiai Syamsuri tahu bahwa Kiai Abdul Basyir telah diserahi mertuanya, Kiai Mustawam, menjadi pengasuh pesantren Annur Mranggen.

Setelah tahu demikian Kiai Syamsuri yang waktu itu sudah sepuh berkunjung ke kediaman Kiai Abdul Basyir Hamzah untuk mengembalikan kitab Kasyifatus Saja yang pernah dipinjamnya. Merasa canggung didatangi kiai Syamsuri yang sepuh maka kiai Abdul Basyir berkata: “hanya kitab tipis koq kiai hantarkan sendiri. kenapa tidak dititipkan santrinya kiai saja?!”

Kiai Syamsuri membalas: “jangan hanya dilihat tipisnya, tapi yang utama adalah kramat gandulnya”. Maksudnya kiai Syamsuri ingin mengembalikan sendiri kitab Kasyifatus saja kepada pemilik aslinya Kiai Abdul Basyir didorong keinginan beliau untuk mendapatkan barokah kitab Kasyifatus Saja yang telah dimaknai gandul dengan cara susah payah oleh santri yang sudah pernah mengaji.

Related Posts