Kisah Imam Al-Junaid al-Baghdadi dan Penyakit Mata yang Sembuh Berkat Berwudhu

Salah satu yang menjadi pengetahuan umum yang “dharuri”, pasti diketahui oleh umat Islam ialah perlunya berwudhu sebagai media suci dzhahir (jaba; luar) bagi mereka yang hendak melaksanakan shalat. Selain diperlukan juga suci bathin (jero; dalam) dengan cara menjaga pikiran dan memfokuskan diri untuk menghadap Tuhan, khusyu.

Selain sebagai media shalat, wudhu juga merupakan media untuk “merontokkan” dosa-dosa yang menempel pada diri seorang hamba. Banyak hadist yang diriwayatkan dalam hal ini. Salah satunya hadist Imam Muslim dari Abi Hurairah berikut:

إذا توضأ العبد المسلم أو المؤمن فغسل وجهه خرج من وجهه كل خطيئة نظر إليها بعينه مع الماء أو مع أخر قطر الماء فإذا غسل يديه خرج من يديه كل خطيئة بطشتها يداه مع الماء أو مع أخر قطر الماء فإذا غسل رجليه خرج من رجليه كل خطيئة مشتها رجلاه مع الماء أو مع أخر قطر الماء حتى يخرج نقيا من الذنوب

Ketika seorang hamba yang muslim atau mukmin berwudhu, ia membasuh mukanya seketika itu pula keluar dari wajahnya setiap dosa yang ia lihat dengan matanya dengan air atau dengan tetesan terakhir dari airnya. Ketika ia membasuh kedua tangannya maka keluar (pula) setiap dosa yang diperbuat tangannya beserta air atau tetesan airnya begitupun dengan yang terjadi dengan kaki dan anggota wudhu lainnya. Sehingga ia keluar (setelah berwudhu) dalam keadaan bersih dari dosa”.

Banyak keistimewaan lainnya yang didapat oleh orang yang melanggengkan wudhu. Yang paling masyhur lagi ialah istilah “ghurr muhajjal”, yang bersinar kaki dan tangannya di akhirat, yang biasa dijelaskan oleh guru agama ketika menjelaskan faidah dan keutamaan mudawim al-wudhu.

Salah satu keistimewaan wudhu yang pernah terjadi lainnya ialah sembuhnya mata sang ulama kharismatik asal Baghdad yang juga merupakan rujukan ahlu sunnah wal jamaah dalam bidang tasawuf, Imam Al-Junaid Al-Baghdadi.

Kisah Sakit Mata Imam Al-Junaid yang Sembuh Berkat Wudhu

Siapa yang tidak mengenal Imam Al-Junaid Al-Baghdadi. Salah satu ulama yang menjadi rujukan ahlussunnah wal jama’ah dalam bidang tasawuf, selain Al-Ghazali. Kisah ini berhubungan dengan sang Imam.

Al-kisah, Imam Al-Junaid terkena penyakit mata. Kemudian ia memanggil dokter untuk memeriksanya. “Jika engkau menginginkan matamu sembuh, maka jangan sampai matamu terkena air”, ujar sang dokter menasehati Imam Al-Junaid ketika melihat dan memeriksa matanya.

Namun, ketika dokter pulang, Imam Al-Junaid justru melanggar aturan. Ia pergi berwudhu kemudian melakukan shalat dan tertidur. Sebangunnya Imam Al-Junaid dari tidur, Imam Al-Junaid ternyata mendapati matanya telah sembuh dan seketika itu kemudian ia mendengar suara yang berkata:

ترك الجنيد عينيه في رضائي, فلو طلب مني الجهنميون بذلك العزم لأجبت

“Junaid meninggalkan matanya (tidak memerdulikan akibatnya) karena mengharap ridha-Ku. Jikalau orang-orang yang ditetapkan masuk Jahannam meminta kepada-Ku dengan keteguhan yang sama, maka aku akan mengijabahinya”.

Esok harinya, dokter kembali untuk memeriksa keadaan mata Imam Al-Junaid. Dan betapa terkejutnya ia karena mendapati mata Imam Al-Junaid telah sembuh. “Apa yang engkau lakukan (sehingga matamu sembuh)?”, tanya sang dokter. “Aku berwudhu kemudian melakukan shalat”, jawab Imam Al-Junaid. Sang dokter yang kebetulan beragama Nasrani tersebut kemudian seketika itu beriman. Ia berkata: “ini adalah penanganan (obat) dari sang pencipta bukan makhluk, aku yang sebenarnya sakit mata dan engkau yang menjadi dokternya”. Ujar sang dokter.

Demikian, kisah ini dinukil dari kitab Iryad Al-Ibad ila Sabil Ar-Rasyad karya Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari bab Wudhu.

Wallahu a’lam

Related Posts