Memperbaiki Kualitas Bacaan

Mana yang lebih baik, banyak membaca, atau memperbaiki kualitas bacaan? Bagusnya sih dua-duanya. Tapi, kalau disuruh milih, lebih baik Anda memilih yang kedua. Yang lebih berperan dalam membentuk kematangan intelektual seseorang sebenarnya bukan cuma banyak membaca buku, tapi memperbaiki kualitas bacaan itu sendiri. Dulu, waktu masih di tingkat S1, kadang saya punya target untuk melahap buku sebanyak mungkin. Pokoknya harus banyak. Bagus emang.

Tapi sekarang udah nggak begitu. Menguliti satu buku sampai ke akar-akarnya, apalagi kalau itu termasuk buku penting, yang berperan dalam membentuk kualitas intelektual seseorang, itu lebih baik ketimbang banyak membaca buku tapi cuma sekali-sekali doang. Ya kecuali kalau buku yang dibaca memang buku biasa-biasa aja. Atau butuh sebatas referensi. Nggak apa-apa. Sekali-dua kali juga cukup. Boleh semaunya. Yang repot adalah kalau semua buku dibaca dengan cara begitu

Ya begitulah hasilnya. Jadi, yang terpenting itu meningkatkan kualitas bacaan, bukan cuma banyak membaca. Maksudnya kek gimana sih? Begini. Bacaan Anda baru dikatakan berkualitas kalau Anda paham betul isi buku itu, mampu mengulik sisi terdalamnya. Dan, setelah buku itu khatam, ada sesuatu yang baru yang bisa Anda dapat, yang dapat mematangkan sisi keilmuan Anda. Bukan udah selesai baca, abis itu ditaro di rak. Seminggu dua minggu kemudian lupa lagi. Ya kalau membaca kaya begitu mah nggak bakal ada peningkatannya.

Mau baca buku sebanyak apapun, keilmuan kita ya akan gitu-gitu aja. Itulah alasan mengapa ada orang yang banyak membaca buku, tapi kualitas keilmuannya nggak banyak bertambah. Ya karena cara bacanya begitu. Yang dia pentingkan kuantitas, bukan kualitas. Paling wawasan doang bertambah. Kematangan ilmu sih nggak. Jadi memerhatikan kualitas itu penting. Itu kalau Anda membaca buku dengan niatan mematangkan ilmu. Tapi, kalau cuma sekedar rekreasi intelektual, atau mengisi waktu kosong, ya bebas. Mau baca sepotong-sepotong juga bebas.

Dan memang tidak semua buku harus dibaca dengan tingkat keseriusan seperti itu. Semua bergantung pada kebutuhan, pilihan, dan tujuan masing-masing. Saya kira ini penting disadari oleh siapapun yang ingin membaca dengan niatan mematangkan tingkat keilmuannya. Jangan cuma pentingkan kuantitas. Tapi juga perhatikan kualitas. Setelah baca buku itu Anda bisa apa? Tahu hal baru apa? Kontribusinya bagi kematangan intelektual Anda apa? Abbas Mahmud al-‘Aqqad, penulis besar Mesir, pernah bilang, “membaca satu buku tiga kali itu lebih baik ketimbang membaca tiga buku satu kali.”

Kenapa bisa begitu? Karena yang terpenting dari sebuah buku bukan hanya soal wawasan yang tersaji, tapi sejauh mana buku itu mampu membantu dalam mematangkan keilmuan kita sendiri. Dan kematangan itu tidak akan terlahir dari bacaan selintas. Perlu pengulangan, analisis, bahkan hafalan. Ala kulli hal, saya bahagia karena hari ini bisa berkunjung ke pameran buku Kairo, setelah dua tahun lamanya nggak bisa ikut. Ibarat ikan yang tercemplung ke dalam kolam. Seru dan nikmat. Yang lebih nikmat lagi besok isteri saya datang. Mantaplah sudah gabungan kenikmatan dunia dan akherat itu. Alhamdulillahi rabbil alamin.

Related Posts