Meritokrasi dan Nepotisme (2)

“Lah ini mau saya lanjutkan,” tukas saya. “Dalam halaman selanjutnya dikatakan bahwa landasan kewajiban seorang khalifah harus dari kalangan Quraisy setidak-tidaknya memiliki dua dasar. Dasar pertama karena ada hadist, dasar kedua sebab wujudnya ijma’.”

“Kopine endi rek (kopinya mana).” Celetuk salah satu kawan saya, mencoba untuk membuat suasana cair. “Lah iyo,” teman saya yang lain ikut nimbrung. Biasanya memang kalau kami diskusi, tak pernah lepas dari kopi.

“Jadi pada saat terjadi perdebatan tentang siapa yang akan menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah saw., Sayyidina Abu Bakar ra. menyampaikan sabda Nabi Muhammad saw. yang redaksinya gini:

الأئِمَّة من قُرَيْش

“Pemimpin harus berasal dari Quraisy.”

Sebelum Abu Bakar ra. mengemukakan hadist ini, orang-orang Anshar tetap “ngotot” hendak mengangkat Sa’ad ibn Ubadah sebagai pemimpin. Bahkan orang-orang Anshar sempat menawarkan win win solution dengan mengatakan:

منا أمِير ومنكم أمِير

“Gini saja, kalian mengangkat pemimpin dari kalangan kalian sendiri, sedang kami juga akan mengangkat pemimpin dari kalangan kami sendiri.”

Tetapi setelah mendengar hadist ini, semua sepekat untuk mengangkat pemimpin dari kalangan Quraisy. Dan Abu Bakar ra. terpilih sebagai khalifah.”

“Mungkin saja itu hadist rekayasa Abu Bakar ra. untuk mendapatkan legitimasi kepemimpinan dari umat Islam!” Wah ngeri betul ini pertanyaan. “Bentar,” saya seruput kopi, kemudian saya sulut rokok. “Wuhhss… Nikmat sekali Marlboro ini.”

“Bang, Abu Bakar ra. saat menyampaikan hadist ini, sahabat Anshar yang awalnya ngotot ingin menjadikan Sa’ad ibn Ubadah sebagai pemimpin, berubah pikiran dalam sekejap. Padahal tensi perdebatan sempat sangat sengit dan panas. Kenapa? Karena mereka tahu kedudukan dan kualitas sosok Abu Bakar ra. Mereka semua mengenal dan tahu betul siapa Abu Bakar ra. Sosok yang jujur, luhur, dan manusia paling utama setelah Sang Baginda. Gak mungkin Abu Bakar ra. berbohong, apalagi dengan mencatut nama Nabi hanya demi ambisi kekuasaan.”

“Lagian, Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani menyatakan bahwa hadist ini diriwayatkan oleh sekitar 40 sahabat. Bayangkan, 40! Bukan cuma Abu Bakar ra. Bahkan ya Bang, Abu Bakar ra. pernah mendatangi Sa’ad ibn Ubadah, orang yang paling dirugikan dengan hadist ini, dan mengatakan:

والله لقد علمت يا سعد أن رَسُول الله ﷺ قالَ- وأنت قاعد-

“قُرَيْش وُلاة هَذا الأمر”

“Demi Allah, sesungguhnya engkau tahu wahai Sa’ad kalau Rasulullah saw. dulu pernah bersabda ” Orang Quraisy adalah pemimpin urusan ini” dan engkau duduk menyimaknya sendiri waktu itu.

Apa jawaban Sa’ad Bang?

فَقالَ لَهُ سعد: صدقت

Sa’ad menjawab: “Engkau benar Abu Bakar.”

“Jadi Bang, pertanyaan yang berbau tuduhan seperti yang njenengan kemukakan itu konyol.” Mahasiswa itu garuk-garuk kepala. “Kami dididik untuk kritis Kang!” Kilah dia sambil cengar-cengir. “Iblis juga kritis Bang. Hati-hati, jangan terjebak dengan diabolisme intelektual, bisa serius resikonya.”

“Terus Kang, kenapa harus Quraisy? Ada apa dengan Quraisy?” Mahasiswa tadi masih belum puas sepertinya. “Kenapa? Ya itu tadi Bang. Ada hadist dan ijma’. Dua dalil ini sudah kuat sebagai tendensi atau dalam nomenklatur ushul fiqh biasa disebut illat. Ada apa dengan orang Quraisy? Lah ini soal hikmah, bukan illat lagi Bang. Hikmah gak ada pengaruh sama hukum, dan sifatnya interpretatif yang relatif.”

Sebelum saya baca kelanjutan ibarat yang membahas hikmahnya, saya mengambil pack Marlboro saya, dan ternyata telah kosong.. Wah-wah…. Mana kiriman masih lama lagi… Payah!

Bersambung.

Related Posts