Keahlian

Foto: ekrut

“Habis kuliah saya kerja apa? Kira-kira penghasilannya saya nanti cukup apa nggak? Kalau ngelamar jadi dosen, diterima nggak ya? Kalau nggak gimana? Saya kan lulusan luar negeri nih. Tapi masa sih pulang cuma jadi guru doang. Berangkat mah pake uang puluhan juta, terus masa penghasilan cuma ratusan ribu. Gaji guru kan kecil. Gimana kalau nanti nggak punya kerjaan? Gimana kalau nganggur? Aduh malu kayanya.”

Apakah pernah terlintas bisikan semacam itu di dalam benak Anda? Beberapa kali saya menerima curhatan semacam itu dari sejumlah kawan dan adik kelas. Mau pulang ke Indonesia, tapi bingung mau ngapain. Masih di sini, tapi udah bingung memikirkan masa depan. Dan isi kepala masih dihantui kekhawatiran semacam itu. Saya sendiri sejujurnya pernah merasakan kegelisahan semacam itu.

Apalagi waktu itu saya mengambil jurusan filsafat. Tau sendirilah stigma negatif yang kerap kita terima kaya apa. Lulusan filsafat itu, demikian salah satu jokes yang saya simak waktu itu, kalau disuruh kerja bukannya kerja, tapi mempertanyakan hakekat pekerjaan itu sendiri. Apa itu kerja? Untuk apa kita kerja? Apa pentingnnya pekerjaan itu buat saya? Mengapa saya perlu dengan pekerjaan itu? Dan kenapa harus pekerjaan yang itu, bukan pekerjaan yang lain aja? Terus aja kaya gitu. Kagak ada ujungnya lah ngomong ama mereka mah.

Belum lagi dengan stigma bahwa jurusan filsafat itu menelan ajaran-ajaran yang sesat, merusak, udah gitu gelagatnya suka songong lagi. Iya nggak sih? Tapi itu satu stigma yang di kemudian hari tertolak mentah-mentah. Sekurang-kurangnya di lingkungan saya. Saya punya dosen-dosen filsafat di sini yang hidupnya relegius. Tidak seperti yang orang bayangkan pada umumnya. Bicaranya Spinoza, Kant, Hegel, Descartes, Bertrand Russell, Socrates, Plato, dan lain-lain, tapi tiap hari mendawamkan surat yasin.

Dan menasihati para muridnya untuk mendawamkan amalan itu. Ada lagi dosen saya yang lain yang wawasan teologi-filsafatnya benar-benar luas. Tapi sebelum mulai kuliah kita baca al-Fatihah dulu. Masih keturunan nabi lagi. Walhasil, kalau ada anggapan filsafat itu nggak berguna, apalagi menyesatkan, saya nggak menjumpai itu di lingkungan al-Azhar. Yang ada filsafat itu bisa dijadikan alat untuk memperkokoh rasionalitas dan keimanan.

Tapi tetep aja, pertanyaan tadi belum terjawab secara memuaskan. Nanti mau jadi apa? Kerja di mana? Penghasilannya berapa? Cukup apa nggak? Pernah terlintas di benak saya pertanyaan-pertanyaan begitu. Tapi saya tidak terlalu banyak memikirkan jawabannya. Dibiarin gitu aja. Dicuekin lah pokoknya. Pikir saya, tugas saya sekarang adalah belajar. Saya suka dengan ilmu kaya begini. Dan tugas saya sekarang adalah mempelajarinya dengan baik. Titik.

Soal nanti jadi apa, yaudah, itu mah urusan gusti Allah aja. Dan pengaturan Tuhan sudah pasti lebih baik dari rencana manusia. Dan saya selalu teringat-ingat dengan nasihat Syekh Yusri, yang bilang kalau mau jadi orang yang sukses, maka kita harus belajar memaksimalkan tugas kita yang sekarang. Tanpa harus sibuk memikirkan urusan yang akan datang. Tuhan menempatkan Anda sebagai apa? Tunaikan tugas itu dengan baik. Bangun keahlian. Dan dengan cara itulah Anda bisa membangun masa depan Anda.

Saya suka bilang sama adek-adek kelas, kuliah itu tujuan utamanya bukan nyari ijazah, tapi memupuk keahlian. Bukan cuma mengukir prestasi, tapi yang terpenting ialah membangun kompetensi. Ijazah ada, keahlian nggak punya. Ya sama aja. Nggak bakal kepake juga. Apa yang bisa diharapkan dari orang yang nggak punya keahlian? Tapi misalnya Anda nggak punya ijazah ni ya. Atau katakanlah ilang misalnya. Tapi Anda punya keahlian. Ya itulah yang kelak akan dicari orang.

Masa depan Anda ada dalam keahlian itu. Jadi, kalau kata saya mah nggak usah pusing-pusing mikirin nilai kuliah, prestasi kuliah, piala lah, piagam lah, inilah itulah. Buat apa sih? Yang penting kan punya keahlian aja. Bukannya memikirkan hal-hal semacam itu nggak penting. Mungkin itu penting, bagi sebagian orang. Tapi yang jelas itu bukan yang terpenting. Coba Anda pikir dengan matang, kalau kita udah selesai kuliah, kira-kira apa yang akan orang cari dari kita? Prestasi atau kompetensi? Gelar atau keahlian?

Jelas dong. Selama Anda punya keahlian, Anda nggak akan kebingungan untuk nyari kerjaan. Dan ketika itu Anda bisa pulang dengan percaya diri. Tanpa harus tenggelam dalam keresahan seperti tadi. Di mana-mana pekerjaan itu akan mencari keahlian. Semakin banyak keahlian Anda, ya semakin banyak pula peluang kerjaan yang bisa Anda punya. Begitu rumusannya. Jadi, kalau selama kuliah Anda belajar dengan benar, dan memupuk keahlian sedalam mungkin, nggak usah bingung dengan pertanyaan kaya gitu.

Urusan kerjaan mah entar juga dateng sendiri. Kalau setelah selesai kuliah Anda masih bingung mau ngapain, berarti selama ini ada yang salah dengan cara belajar Anda. Atau ada yang salah dengan niat Anda. Kalau udah terlanjur salah gimana? Yaudah. Yang lalu biarlah lewat. Dan Anda belum terlambat. Di zaman sekarang memupuk keahlian itu bukan perkara yang sulit lagi. Internet sudah banyak memberikan kemudahan dalam hidup kita. Apa sih yang nggak bisa kita pelajari lewat internet? Ya Allah hidup udah semudah ini.

Saran saya, selama kuliah, jangan sibuk memikirkan uang, pekerjaan, karir, dan lain sebagainya. Yang Anda pikirkan itu kelak akan datang dengan sendirinya kalau Anda, sekali lagi, menggenggam makhluk yang satu ini: Keahlian! Dan jangan lupa, manusia sudah ditakdirkan hidup dalam kotaknya masing-masing. Tak perlu Anda menerawang isi kotak orang lain, kecuali setelah Anda menyelesaikan tugas di dalam kotak Anda sendiri. Saya merasa nyaman dengan cara pandang kaya begini. Dan, sedikit banyak, saya mendapatkan hasilnya. Selamat mencoba.

Related Posts