Kenapa Orang yang Tumbuh di Lingkungan Religius Bisa Jadi Ateis?

ilustrasi: detik

Pertanyaan yang cukup menarik untuk dijawab, kenapa orang yang lahir dan tumbuh dewasa di lingkungan religius masih bisa menjadi Ateis? Jawabannya bisa beragam. Tapi, dari sekian banyak jawaban itu, ada satu jawaban yang pernah disampaikan oleh guru kami. Dan saya ingin menyampaikan jawaban itu untuk kesekian kalinya di halaman ini. Kalau ada pertanyaan, kenapa sih orang beragama bisa jadi Ateis? Salah satu jawabannya ialah keberagamaan yang kering. Ya, ateisme kadang terlahir dari keberagamaan yang kering. Maksudnya apa sih keberagamaan yang kering itu? Keberagamaan yang nggak dihayati dengan perasaan cinta. Agama hanya dikunyah sebagai wawasan, tapi tidak memasuki sisi terdalam dari hati dan perasaan.

Ini alasan yang sangat masuk akal. Kok bisa gitu? Coba deh Anda renungkan baik-baik. Kira-kira apa yang akan Anda lakukan ketika Anda sudah benar-benar mencintai sesuatu? Jelas, orang yang sudah mencintai sesuatu tak akan mudah baginya untuk meninggalkan sesuatu yang sudah dia cintai itu. Iya nggak sih? Orang yang jatuh cinta sama manusia aja kadang rela mengorbankan nyawa. Apalagi dengan orang yang sudah tenggelam dalam perasaan cinta terhadap Tuhan dan para kekasih-Nya. Seribu satu pemikir datang untuk meragukan agama Anda, kalau Anda sudah mencintai agama itu, mustahil Anda meninggalkannya. Apalagi kalau Anda punya setumpuk argumen kokoh yang membuktikan kebenaran agama itu. Wah itu semakin susah lagi.

Di sinilah pentingnya ilmu-ilmu rasional seperti ilmu kalam, logika, dan ilmu tasawuf itu dipelajari secara berimbang. Coba deh Anda amati dan perhatikan, ada nggak sih orang Muslim yang menekuni dunia Ilmu kalam dan tasawuf, misalnya, lalu di kemudian hari tiba-tiba menjadi Ateis? Kayanya orang kaya gitu nggak ada wujudnya di dalam sejarah. Sulit dibayangkan ada manusia semacam itu. Melalui ilmu kalam, agama datang untuk mengetuk nalar kita. Dengan setumpuk uraian yang ada di dalamnya, ilmu itu ingin bilang, bahwa semua dasar-dasar keyakinan yang diajarkan dalam agama kita itu ada bukti-buktinya, bukan hanya sebatas dogma yang diwariskan secara turun temurun, lalu diimani begitu saja. Islam tidak mengenal dogma semacam itu.

Tapi, kepuasan nalar saja kadang tidak cukup. Soalnya ada juga orang yang sudah mantap secara intelektual, tapi isi hatinya kadang masih disisipi kebimbangan. Dan di sinilah pentingnya mempelajari ilmu hati, atau yang dikenal dengan istilah ilmu tasawuf itu. Melalui tasawuf, agama datang untuk mengetuk sisi batin kita. Mengajarkan kita untuk mencintai Tuhan, juga menuntun kita untuk senantiasa berjalan di belakang kekasih-Nya. Boleh dibilang, inilah sebenarnya yang terpenting dari semua ajaran agama itu. Kalau penghayatan sufistik ini hilang, maka agama akan terasa kering, nggak berguna, dan pada akhirnya ditinggalkan begitu saja. Karena itu, kalau ada orang yang lahir dan tumbuh di lingkungan religius, lalu tiba-tiba menjadi Ateis, mungkin kita nggak perlu heran. Karena orang yang belajar, paham bahkan fasih bicara agama belum tentu menghayati pesan-pesan agama itu sendiri.

Orang yang punya banyak wawasan tentang agama belum tentu menghayati pesan-pesan agama, dan mengaktualisasikan pesan-pesan itu di dalam kehidupan nyatanya. Kalau ada anak kiai jadi Ateis itu mah nggak aneh. Di Mesir malah pernah ada seorang hafizh qur’an, suka ceramah di mimbar-mimbar, menulis buku tentang Islam, pernah sekolah di al-Azhar, tapi di kemudian hari dia memutuskan diri untuk menjadi seorang Ateis. Saya dapat cerita ini dari Syekh Yusri. Lalu di kemudian hari saya membeli sebuah buku, dan saya temukanlah sejarah perjalanan hidup orang itu. Dan ternyata benar. Dia jadi Ateis. Padahal hafal quran coba bayangin. Dan karena itu beliau sering bilang, bahwa yang bisa menjaga kita dari kekufuran itu sebenarnya bukan hafalan qur’an, melainkan rasa cinta dan ketergantungan batin kita kepada Rasulullah Saw. Lagi-lagi itu soal hati. Lagi-lagi itu soal cinta. Dan penghayatan semacam itu hanya bisa kita temukan di dalam ilmu tasawuf.

Jadi, kalau ada orang pernah jadi Muslim, lalu tiba-tiba menjadi Ateis–kita berlindung kepada Allah dari keyakinan semacam itu–kemungkinan besar mereka nggak pernah mereguk indahnya kearifan para sufi, juga tidak mempelajari ilmu akidah sampai benar-benar matang. Rasanya saya sulit membayangkan orang-orang yang pernah menelan kitab-kitab Imam al-Laqani, al-Ghazali, al-Baqilani, al-Razi, apalagi karya-karya tebal milik at-Taftazani dan al-Jurjani, ditambah mempelajari kitab-kitab tasawuf dasarlah katakan, lalu tiba-tiba menjadi Ateis. Wah itu kayanya mustahil banget. Belum bicara dalil aja udah kenyang duluan. Kalau Anda masih bertanya di mana pentingnya menelaah karya-karya semacam itu, fenomena sekarang adalah jawabannya. Betapa mudahnya orang meninggalkan agama, karena mereka tidak punya bukti kuat lagi untuk tetap mempertahankannya.

Keimanan itu bukan barang murah. Nabi, para sahabat dan kaum salafushalih terdahulu bahkan rela mengorbankan harta dan nyawa mereka demi mempertahankan, serta menyebarluaskan, prinsip-prinsip keimanan itu. Karena itulah yang kelak akan menentukan masa depan kita di alam akhirat. Hidup di dunia cuma sebentar. Tapi akhirat menjanjikan keabadian. Dosa kita mungkin banyak. Tapi cahaya keimanan bisa meredupkan itu. Karamah seorang Muslim itu, kata Syekh Yusri, sempurna ketika dia wafat dengan membawa keimanan. Kalau Anda perlu dalil, bukti, dan apa saja yang dapat mengukuhkan keimanan Anda, para ulama kita sudah menuliskan semuanya. Tugas kita tinggal mempelajarinya aja. Yang nggak bisa bahasa Arab, buku terjemahan udah banyak. Yang nggak suka baca, video pengajian udah ada di mana-mana. Tinggal maunya aja.

Related Posts