Ngaji Kitab ke Ustadz di Kampung (Part 2)

Dari dua sosok guru di kampung itulah (Ust. Erfan dan Ust. Amir Hasan) saya belajar ilmu agama, belajar memahami agama dari tingkat dasar. Lebih tepatnya belajar ilmu alat untuk memahami agama yang benar dari tingkat dasar.

Harus disadari bahwasanya belajar hal-hal dasar terlebih dahulu adalah sebuah keharusan. Tidak bisa melompat begitu saja. Sebab itu akan merugikan diri sendiri dan bahkan orang lain. Kata imam al-Ghazali

أن يحترز الخائض في العلم في مبدإ الأمر عن الإصغاء إلى اختلاف الناس سواء كان ما خاض فيه من علوم الدنيا أو من علوم الأخرة فإن ذلك يدهش عقله و يحير ذهنه و يفتر رأيه و يؤيسه عن الإدراك و الإطلاع. بل ينبغي أن يتقن أولا الطريقة المرضية عند أستاذه, ثم بعد ذلك يصغي إلى المذاهب و الشبه.

“Seorang pelajar untuk tingkat pertama, sebaiknya jangan terlebih dahulu mendalami perbedaan pendapat, baik itu ilmu² tentang keduniaan atau ilmu² tentang keakhiratan. Sebab hal demikian, bisa menimbulkan keraguan berpikir, membingungkan hatinya, mengendorkan nalar, dan membuat putus asa belajar. Pada tahap awal, seharusnya mengikuti arahan yang diberikan sang guru. Setelah itu baru mendalami lintas mazhab dan tentang syubhat-syubhat.”

Karena itu, pengalaman saya dan teman² di kampung dulu ketika belajar ke ustadz adalah diminta untuk belajar ilmu alat atau Nahwu dimulai dari level paling dasar, seperti jurmiyah, imrithi kemudian syarahnya, fathu rabbil bariyah, amtsilatut tasrifiyah, qawaidul i’lal, nadzmul maqsud dst. Kemudian lanjut fikih mabadi’ safinatunnajah, taqrib, fathul qarib dst.

Metode tadarruj (bertahap) seperti itu adalah praktik yang pernah dilakukan Rasulullah dulu dalam berdakwah. Dan ternyata metode itu masih sangat relevan dan bisa diadaptasikan dalam proses belajar di pesantren. Sehingga tak heran, ustaz di kampung memulai proses belajar mengajar layaknya proses belajar di pesantren. Apa-apa harus melalui proses dan sesuai porsinya.

Seandainya ada yang tanya, kenapa harus ngaji ke ustadz di kampung. Jawabannya sederhana disuruh orangtua dan orangtua percaya dengan kualitas keilmuan ustadz itu. Itu saja.

Mungkin saja orangtua menyadari bahwasanya untuk mencari sosok pemuda yang fakih dan ahli dalam kitab kuning semakin hari semakin susah. Sehingga beliau mendorong untuk memanfaatkan ustadz kampung jebolan pesantren yang betul² diakui kealimannya oleh kiainya masing-masing agar belajar dengan serius untuk modal kelak ketika harus belajar ke pesantren dengan ilmu yang lebih luas, kritis dan kompleks.

Sebagai murid atau santri yang pernah belajar ke ustadz di kampung, saya melihat betul² punya perhatian khusus dengan keilmuan. Bayangkan, pagi sampai sore harus bertani demi memenuhi kewajiban nafkah keluarganya. Malamnya rela meluangkan waktu untuk mengajar santri yang nyaris berjam².

Buat apa punya SDM yang baik dan unggul kalau punya waktu saja sangat mahal. Ini bukan tidak mungkin bisa terjadi. Sebab kesibukan ada di mana-mana sesuai profesinya yang lebih menjanjikan.

Saya ingat betul ketika Ust. Erfan mengajar santrinya beliau dauh seperti ini “Kalau kalian semangat saya akan lebih semangat”. Sambil mendengarkan teman² yang baca kitab beliau dengan santai sambil ngelinting (misel, red: madura).

Hidupnya sederhana. Beliau sosok yang humanis, memperlakukan santrinya seperti sahabat/keluarga sendiri. Telaten, lahjah dan intonasi bacaan kitabnya jelas dan selalu menarik.

Related Posts