Salafi Wahabi Model Beragama Minimalis dalam Perspektif Fenomenologis

sumber gambar: detik

Tesisnya adalah :
Pengamal bid’ah biasanya adalah mereka yang sangat rajin beribadah sehingga tidak cukup dengan apa yang sudah ada,

Penganjur purifikasi adalah mereka yang beragama dengan cara praktis, sederhana, simple tanpa inovasi dan nunggu perintah.

Salafi Wahabi adalah jenis yang kedua— bahkan bisa dibilang bahwa dakwah Salafi Wahabi adalah model dakwah ‘internal Islam’ dari masjid ke masjid, sebab purifikasi dengan jargon kembali kepada Al Quran dan as Sunah hanya spesial buat mereka yang sudah masuk Islam yang kemudian dikategorikan tersesat, kliru, bid’ah, tahayul, khurafat atau lainnya yang kemudian populair dengan sebutan tbc.

Model dakwah ini tentu sangat bertolak belakang dengan model dakwah yang dikembangkan oleh generasi Walisongo yang berorientasi pada ‘dakwah eksternal’ — meng-Islamkan para penganut pagan, penyembah berhala, pengabdi setan, pengguna dinamisme dan animisme, menjadi penganut Islam.

Maka tak urung jika Gus Mus pernah bertutur bahwa dakwah ulama-ulama sekarang (baca Salafi) mengkaferkan orang yang sudah masuk Islam — dakwah ulama-ulama terdahulu (baca Walisongo) meng-Islamkan orang kafer’.

Dengan model yang berbeda itu juga kuat implikasinya terhadap perbedaan konten dan cara dakwahnya — termasuk pilihan tempat : Salafi lebih memilih masjid halaqah eksklusif dan ruang tertutup dengan konten khusus, sebaliknya model dakwah eksternal memilih ruang terbuka, komunikasi massa dan konten konten kreatif dengan mengangkat kehidupan keseharian jamaah yang dituntun dengan Al Quran dan as sunah.

Dua model dakwah ini sangat menarik dibincang sebagai sebuah diskursus model dan strategi dakwah — sebagai ikhtiar menyebar Islam ke semesta.
Saya sedang tidak melakukan sebuah penilaian mana diantara keduanya lebih baik. Meski dari kedua model ini terlanjur melahirkan stigma disparitas Islam modern dan Islam tradisional yang saling berkompetisi ketat, sebagai yang dikehendaki para orientalis untuk memecah umat Islam.

Hanya sebaiknya kedua model dakwah ini akan menjadi lebih baik, kalau ada komunikasi tentang capaian dakwah mana saja yang sudah selesai dan mana saja yang belum selesai, sehingga tidak saling menafikkan apalagi kemudian saling menyesatkan hanya karena beda pilihan model, strategi dan pilihan diksi bid’ah dan sunah.

Model dakwah hanyalah wasilah atau media bukan tujuan —tulis Prof Zamakhsyari Dhofir, dengan kata lain Salafi Wahabi bukan model final umat Islam yang di-ideal-kan sebagai tujuan —sebaliknya model dakwah generasi Walisongo juga bukan model yang harus ditinggalkan — karena dianggap keliru.

Related Posts