Faraid: Ahli Waris Keluarga yang Poligami

Gara-gara ditanya faraid oleh ahli waris keluarga yang #poligami (ruwet, makanya kalau bisa jangan poligami) apa #waris عشرية زيد؛ عشرينية زيد Zaid b Tsabit dan Pengenalan Angka Desimal M Ishom el Saha Zaid b. Tsabit seorang sahabat Nabi yang ditugasi mencatat wahyu al-Quran ternyata juga ahli matematika.

Hal ini terungkap dalam kasus waris Aul yang melibatkan ahli waris seorang saudara laki-laki se bapak atau berarti masalah warisan keluarga yang melakukan poligami. Aul atau kasus selisih lebih antara saham dengan aslul masalah dalam pembagian warisan tidak dijelaskan di dalam al-Quran dan sunnah Rasulullah.

Dalam al-Quran hanya disebut angka pecahan biasa (1/2, 1/3, 1/4, 1/6, 1/8, dan 2/3). Tatkala pecahan ini bergabung satu dengan lainnya seringkali timbul masalah selisih angka, semacam Aul dan Radd. Kasus selisih angka dalam pembagian warisan timbul pada masa khalifah Umar b. Khattab dan salah satu rujukan hukum untuk menyelesaikan masalah ini ialah pendapat sahabat Zaid b. Tsabit.

Ada hal menarik dari pandangan Zaid bin Tsabit, khususnya dalam kasus Aul karena dalam daftar ahli waris terdapat aeorang saudara laki-laki sebapak. Pandangan itu disebut dengan az-ziadat (tambahan bagian warisan). Az-ziyadat dalam pandangan Zaid b. Tsabit ada 4 (empat) macam; yaitu (1) isyriyyah atau sepuluhan; (2) isyriniyyah atau duapuluhan (3) tis’iniyyah atau sembilanpuluhan; (4) mukhtasarah atau penyederhanaan=atau pembulatan.

Keempat-empatnya biasa disambung dengan nama Zaid sebab beliaulah pencetua pertamanya. Kata “puluhan” yang dihubungkan dengan iatilah isyriyyah, isyriniyyah, dan tis’iniyyah dalam teori Zaid b Tsabit erat kaitan dengan pemahaman teologis bahwa angka tertinggi adalah 99. Di jaman itu angka seratus sama halnya angka menjadi muda (turun) lagi. Oleh sebab itu belum ada istilah prosentase di jaman sahabat dan yang baru dikenal adalah pecahan biasa.

Dalam konteks inilah apa yang diteorikan Zaid b Tsabit tentang ziyadat sangat menarik karena model perhitungan inilah muncul tunas model pecahan desimal yang nantinya dikembangkan oleh ahli matematika dan kimia. Isyriyyah sama dengan angka desimal 0.10 apabila dibuat pecahan biasa menjadi 10 ×1/100 = 10/100 × 10/10 hasilnya 1/10. Isyriniyyah sama dengan angka desimal 0.20 jika dirubah ke pecahan biasa menjadi 20 x 1/100=20/100×10/10 hasilnya 2/10. Demikian halnya tis’iniyyah sama dengan angka desimal 0.90 jika dibuat pecahan biasa menjadi 90 x 1/100 = 90/100 × 10/10 hasilnya 9/10.

Sungguh luar biasa kontribusi Zaid b Tsabit dalam ilmu matematika sekalipun beliau juga dikenal sebagai ahli al-Quran. Melalui hasil penelaahan ayat-ayat kewarisan beliau berhasil mengenalkan bentuk angka pecahan desimal kepada umat manusia.

Related Posts