Jihad Ofensif, Masih Relevankah Hari ini?

Mayoritas para fuqoha jaman dulu berpendapat bahwa jihad ofensif atau yang mereka istilahkan dengan (jihad at-tholab) adalah fardhu kifayah. Bahkan ada yang mengklaim bahwa pendapat tersebut adalah ijma’ atau konsensus para ulama. Artinya adalah wajib bagi umat Islam untuk menyerang negara kafir minimal sekali dalam setahun, jika tidak (dan tanpa alasan yang jelas), maka semuanya ikut menanggung dosa. Mayoritas para fuqoha jaman dulu juga menetapkan bahwa pada dasarnya status hubungan internasional antara negara Islam dan selainnya adalah perang.

Namun setelah kekhalifahan Utsmani runtuh dan kemudian negara-negara Islam bebas dari imperialisme, dan setelah PBB dibentuk untuk menjaga perdamaian dunia, pendapat bahwa tidak ada jihad ofensif dalam Islam dan bahwa pada dasarnya status asal hubungan internasional adalah perdamaian semakin populer. Wallahu A’lam apakah dua pendapat ini dipengaruhi oleh Fakultas-fakultas hukum yang didirikan oleh negara-negara kolonial di negara-negara Islam untuk mengkaji undang-undang Barat? Populernya pendapat bahwa tidak ada jihad ofensif dalam Islam dan status asal hubungan internasional adalah damai juga dipengaruhi oleh ‘ketakutan’ para ulama kontemporer terhadap tuduhan bahwa Islam adalah agama perang yang disebarkan melalui pedang.

Para ulama kontemporer menolak pendapat para fuqoha salaf dengan alasan bahwa pendapat mereka hanyalah ijtihad fiqih yang dipengaruhi oleh situasi dan kondisi zaman tersebut. Dan sejatinya, pendapat para fuqoha kontemporer juga dipengaruhi oleh budaya, situasi dan kondisi dunia kontemporer. Mana yang benar? Wallahu A’lam. Bukan tugas dan wilayah kita untuk mentarjih.

Tapi satu hal yang harus kita sadari bersama bahwa Palestina dicaplok oleh Israel setelah PBB terbentuk. Bahwa banyak negara-negara Islam seperti Irak dan Afghanistan porak poranda diinvasi oleh barat justru didepan mata PBB, alasannya bisa dicari dan dibuat-buat. Dan yang terakhir, PBB dan barat juga tak berdaya menghentikan invasi Rusia ke Ukraina. Siapa yang mau menolong? Jika semua negara-negara kuat sejatinya adalah negara paling munafik dalam mendakwakan kasih sayang dan perdamaian..!

Terlepas apakah ada jihad ofensif dalam Islam dan terlepas apakah status dasar hubungan internasional adalah perang atau perdamaian, sebagai seorang muslim kita perlu untuk menghayati kembali firman Allah SWT dalam surat Al-Anfal ayat 60:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”

Tak ada yang bisa menjamin negara-negara besar kafir seperti China yang hari ini bersahabat dengan kita suatu saat tidak akan menyerang negara kita. Dan sejatinya sejarah akan terus berulang, hanya pelakunya yang berbeda. Negara-negara yang punya sejarah besar di zaman dulu selalu bermimpi untuk mengembalikan kejayaan mereka. Kita umat Islam (negara-negara Islam), jika tidak mempersiapkan militer yang kuat, jika tidak segera membuat aliansi pertahanan bersama dengan landasan ukhuwah islamiyah, bisa jadi nanti akan menjadi negara-negara ketiga yang lemah dan merengek meminta tolong kepada yang lain ketika di invasi oleh musuh.

Wallahu A’lam.

Related Posts