Taqlid yang Benar Menurut Salaf-Saleh?

Islustrasi: Grandi Calibry

Taqlid bukanlah aib, bukan cela, juga bukan sesuatu yang buruk yang harus dihindari bergantung kapasitas keilmuan seseorang— sebaliknya akan menjadi cela ketika orang awam tanpa ilmu memaksakan diri menjadi mutabi dengan cara shahafi (otodidak).

Apakah karena sudah membaca satu ayat dan satu hadits tentang sesuatu lantas pantas menyebut diri muttabi?

Karena ingin kembali kepada Al Quran dan as Sunah. Ada kecenderungan berguru kepada geogle lantas ia persalahkan Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad. Maka Iapun membenci para imam dan mujtahid —- ia belajar sendiri dan mengambil jalan otodidak (sahafi) kadang menjadi khawarij kadang menjadi liberal.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
‘Barang siapa yang menyangka bahwa dia tidak menganggap taqlid dan tidak bertaqlid dalam beragamanya kepada siapapun, maka ini adalah ucapan orang fasiq” —I’lamul Muwaqqin.

‘Orang awam harus taklid pada ulama mereka, karena orang awam tidak memiliki kapasitas keilmuan untuk memahami argumen tingkat tinggi. Inilah yang menjadi penghalang antara orang awam untuk mencapai argumen sendiri. Ulama sepakat bahwa orang awam wajib taklid pada ulama mereka, itulah yang dimaksud Allah dalam Al Quran surat An-Nahl [16] ayat 43
—Ibnu Abdil Barr (W 463H) dalam Jami’ Al-Bayan.

Kapan seseorang bisa disebut muttabi’ dan muqalid ?

Apakah setiap yang membaca HPT atau buku tanya jawab agama kemudian mengamalkan disebut muttabi’ ?

Sedang yang membaca kitab Al Umm dan Ar risalah kemudian mengamalkan disebut muqalid ?

Apakah mereka yang mendengar ceramahnya ustadz : Basalamah, Adi Hidayat, Jawaz otomatis menjadi mutabbi’ ?
Sedang jamaah yang mendengar Mbah yai Manan, Mbah Yai Jamal disebut muqalid ?

Apakah yang mendapatkan ilmunya dari media sosial: yutub, Ig dianggap muttabi’ ?

Sedang yang belajar di mushala di kampung pada guru-guru ngaji dianggap muqalid ?

Apakah antum merasa sudah menjadi muttabi’ atau muqalid ?

Jadi para ulama membolehkan orang awam untuk TAQLID mengikuti Imam Mazhab yang empat berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl [16] : 43)

Firman Allah Ta’ala : “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (QS Fush shilat [41]:3)

Beragam cara diambil para ulama dalam istimbath hukum, ada yang bermadzab, ada yang tidak bermadzab — tapi tidak bagi awam macam saya — saya tetap bertaqlid kepada ulama, baik yang bermadzab atau yang tidak bermadzab. Sebab saya tak punya kemampuan untuk berfatwa apalagi mengambil hukum sendirian.

Dengan tidak bermaksud saling menyalahkan sebab kedua nya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing —- sebagai sebuah metode, manhaj adalah pilihan, keduanya bertujuan sama mendapatkan kebenaran, setidaknja mendekati kebenaran. Berharap Shalat, haji, sedekah dan amal saleh lainnya yang kita kerjakan memiliki kemiripan dengan Rasulullah saw meski tidak persis sama.

Imam Asy-Syafi’i berkata “Ketika hadits shahih ditemukan, maka itulah mazhabku(pendapatku), Taqiyuddin as-Subuki, Ma’na Qaul al-Imam al-Muthallib, Beirut: Dar al-Basyair al-Islamiyyah, 2015, hal. 1).

Hanya Al Quran yang mutlak benar. Hanya Rasulullah saw yang ma’shum terjaga dari salah — tidak ada satupun manhaj, pendapat atau tafsir yang mutlak benar dan berlaku abadi — termasuk manhaj yang tidak bermadzab (manhaji) semua bisa terkoreksi.

Wallahu taala a’lm.

Related Posts