Pesan Kiai Muhammad Al-Fayyadl untuk Anak Muda Zaman Now

K. Muhammad Al-Fayyadl paling depan

Pas hari lebaran kemarin Gus Fayyadl mengirimkan voice ucapan selamat hari raya idul fitri dan permohonan maaf kepada saya. Saya merasa sangat sungkan sekali, tidak enak alias merasa “cangkolang” kepada beliau, yang seharusnya saya terlebih dahulu mengucapkan selamat hari raya idul fitri dan permohonan maaf malah justru beliau yang duluan.

Di dalam voice itu beliau juga berharap bisa bersilaturahmi dalam keadaan yang lebih sempurna. Satu sisi merasa sungkan dan di sisi lain merasa bahagia karena masih diingat oleh guru. Tapi bagi saya, yang jauh lebih penting bukan hanya ketersambungan fisik dengan guru tapi justru ketersambungan batin (silaturruh).

Alhamdulillah 3 hari yang lalu, saya dipertemukan oleh Allah dengan beliau secara langsung di Pondok Pesantren Darus Sholihin Puger Jember setelah sekian lama hanya berkomunikasi lewat media sosial.

Satu pesan yang akan selalu saya ingat dari beliau ” jangan ragu untuk melakukan kemaslahatan untuk umat, klo itu maslahat wajib dilanjutkan. Sebagai contoh maslahat: dengan toko buku sampean, apa bisa ketika sepeninggal sampeyan kelak, amal tersebut bisa dirasakan terus manfaatnya oleh orang lain. Ini dimensinya perjuangan” pesan beliau.

Dan ada satu pesan lagi yang cukup menyentak bagi saya pribadi “Santri zaman now, maunya wat magawat maloloh (sok-sokan terus). Akhlaknya hilang kepada para ulama dan sesepuh. Anak anak dan cucu sampean kelak jangan sampai menjauh dari ulama dan kiai pesantren yang memiliki keihklasan tinggi. Jangan jauhi dari pesantren, tetap takdzim tetap belajar, tetap kritis. Dan sopan santun adalah kuncinya”. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan.

Tak bisa saya dipungkiri, sejak bermuwajahah dengan beliau, saya tidak hanya menganggap beliau sebagai guru pergerakan dalam mendukung dan selalu dalam barisan kaum mustad’afin tapi juga guru spiritual saya selalu membuka jalan untuk melihat kebesaran dan kekuasaan Allah. Ada pergerakan ruhani, pergerakan intelektual, dan pergerakan fisik, tiga-tiganya harus berjalan secara simultan untuk mendapatkan kemenangan dan keadilan yang hakiki, kemenangan yang diridhai Allah SWT. Alhamdulillah wa syukru lillah.

*Sumber tulisan dari Facebook Moh. Syahri tanpa pengeditan apapun

Related Posts