Menjadi Pribadi yang Transformatif 

Dokumentasi penulis

Judul : Self-Transforming Refleksi Menuju Aktualisasi Diri

Penulis : Dr. Muqowim, M.Ag.

Penerbit : Rumah Kearifan (House of Wisdom)

Cetakan : Pertama, Desember 2021

ISBN : 978-623-6782-35-4

Peresensi : Moh. Mizan Asrori*

 

Bagi sebagian orang, dunia digital lebih berisik dari dunia nyata. Media sosial menjadi tempat favorit menumpahkan keluh kesah. Banyak yang mencurahkan isi hatinya dalam dunia maya. Ada yang mengaku over thinking sampai susah tidur, stress, dan depresi. Mungkin mereka bingung tentang tujuan hidup, arti hidup, bahkan alasan tetap memilih hidup sampai detik ini.

Kebingungan dan kehampaan dalam hidup dirasakan oleh satu dan mungkin banyak orang di dunia ini. Bingung mau melangkah ke mana dan hampa walau sudah memiliki banyak harta. Bahkan ada yang merasa sepi di tengah keramaian dan lalu lalangnya manusia lain dengan kesibukannya masing-masing.

Padahal manusia hari ini hidup di tengah kemajuan dan perkembangan teknologi yang sedemikian rupa. Kebutuhan menjadi lebih mudah terpenuhi berkat bantuan teknologi yang diciptatemukan oleh manusia. Idealnya, semakin orang mudah meraih keinginan, semakin bahagia hidupnya. Tapi, kenyataan berbanding terbalik.

Mungkinkah manusia sedang kehilangan sebuah harta karun bernama “nilai”? Jawabannya hanya bisa diketahui melalui self reflection dan melihat lebih jauh ke dalam diri. Tentu pengalaman hidup setiap individu berbeda-beda, sehingga hasil yang diperoleh pun tidak sama. Bisa saja orang yang selama ini terlihat bahagia, jauh di lubuk hatinya ia sengsara. Begitu juga orang yang tampak merana, siapa sangka ia menjadi orang yang bisa menerima.

Pembahasan seputar masalah kehidupan manusia hari ini menjadi awal dan pengantar dari buku yang ditulis oleh salah satu pendidik di UIN Sunan Kalijaga, Muqowim. Buku yang terdiri dari 30 sub pembahasan dengan topik yang sangat menarik ini sangat menyentil dan dekat dengan kehidupan para pembaca. Setiap masalah yang dijadikan contoh benar adanya. Entah ini berangkat dari pengalaman pribadi atau dari para klien yang pernah berkonsultasi kepadanya. Bisa juga muncul dari luasnya bacaan dan relasi penulis.

Buku ini banyak berbicara tentang bagaimana seharusnya jalan ideal bagi seseorang dalam menapaki kehidupan sehingga menjadi pribadi yang transformatif. Seni mengenali diri sendiri, nilai yang harus dipegang, merangkai tujuan hidup dan mewujudkannya, interaksi dengan manusia lain dan lingkungan, dan sejumlah pelajaran penting tentang kehidupan mewarnai buku ini.

Satu contoh menarik dalam buku ini yang barangkali sering kita abaikan adalah soal perjalanan ke dalam diri (inner journey) dan melihat jauh ke dalam diri sendiri (inward looking). Kita seringkali terlalu fokus pada kekurangan orang lain sehingga lupa menengok diri sendiri. Padahal dengan menjadi pribadi yang melihat ke dalam diri, kita bisa sadar siapa diri ini, dari mana berasal, ke arah mana tujuan hidup, dan sekarang sedang berada di posisi apa. Hikmahnya, sederet pertanyaan tersebut akan menuntun kita untuk membangun relasi dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan alam (hal. 13).

Ini baru secuil dari kandungan buku yang tidak tebal namun sarat makna. Kelebihan buku ini terletak pada susunan kalimatnya yang ringkas namun menyimpan ragam kandungan pelajaran yang bisa dipetik banyak orang tanpa melihat latar belakangnya. Buku ini juga mampu menghadirkan keseimbangan antara permasalahan yang sangat kompleks dengan solusi yang tidak hanya terkesan menyuruh namun juga disertai bukti ilmiah. Sehingga orang yang membaca buku ini akan berkali-kali merasa tersentil tapi tak sakit hati.

Selain itu, membaca buku ini tidak menjenuhkan, karena sub bab pembahasannya tersaji dalam lembaran yang tidak banyak. Ada sub bab yang hanya terdiri dari 2-3 lembar, kemudian lanjut ke topik berikutnya. Bagi tipikal pembaca seperti saya yang tidak terlalu suka dengan pembahasan yang panjang, buku ini sangat cocok. Bahkan sebenarnya, buku ini sangat layak dibaca saat kita menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan 30 topik pembahasan. Konsep yang bisa dipakai adalah sehari membaca satu sub bab kemudian mempraktikkannya. Sehingga saat bulan Ramadan usai, buku ini juga rampung dibaca.

*) Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Konsentrasi Bimbingan dan Konseling Islam

Related Posts