Mewujudkan Tim yang Solid dan Berkelanjutan 

Sumber: 168solution

Judul : Team Transforming: Refleksi Pengembangan Softskill Interpersonal

Penulis : Dr. Muqowim, M.Ag.

Penerbit : Rumah Kearifan (House of Wisdom)

Cetakan : Pertama, Maret 2022

Peresensi : Moh. Mizan Asrori

Beberapa komunitas, organisasi, dan perserikatan menjamur setelah era reformasi. Keran kebebasan berkumpul menjadi angin segar. Orang-orang merayakannya dengan berkelompok menjadi sebuah tim dengan ciri khas dan coraknya masing-masing. Ada yang fokus pada advokasi lingkungan. Banyak juga yang memilih untuk mengusung visi misi kepartaian yang pada ujung perjalalanannya adalah menjadi pemangku kebijakan. Semuanya dilindungi oleh undang-undang di negeri ini.

Namun, seberapa lama sebuah komunitas bisa bertahan dan sampai kapan proses regenerasi dan konsolidasi berlanjut, setiap kelompok memiliki nasibnya sendiri. Ada yang kandas di tengah jalan, saat baru memulai. Yang lain terseok-seok dalam perjalanannya. Bahkan ada yang belum maju sudah mundur terlebih dahulu.

Begitulah dinamika organisasi yang bisa kita lihat di sekeliling kita. Bagi sebagian orang mungkin mendirikan organisasi bukanlah hal sulit, tapi mempertahankan dan memajukannya bukanlah hal mudah. Karena organisasi tentu tidak berdiri sendiri, melainkan didirikan oleh beberapa orang yang sepakat menjadi satu dalam naungan organisasi. Konsekuensinya, akan banyak kepala yang bernaung di bawah payung organisasi. Ketika banyak kepala sangat mungkin memunculkan banyak pendapat.

Ketika dihadapkan pada perbedaan pendapat, pandangan, dan –mungkin juga– kepentingan, saat itulah organisasi diuji. Untuk menghadapi itu semua, buku ini hadir dengan kandungan isi yang sangat menarik. Terutama bagi para orang yang ahli dalam mengorganisasi yang lebih dikenal dengan sebutan organisatoris.

Buku ini merupakan kelanjutan dari buku Self-Transforming. Jika buku pertama mengarah kepada perbaikan diri menuju pribadi yang positif, bermakna, dan otentik, maka buku kedua ini ditujukan bagi mereka yang ingin memperbaiki atau mengubah hubungan antar tim. Tentu keduanya memiliki keterkaitan. Sebab, manusia tak akan pernah lepas dari kehidupan bersosial, dari yang terkecil sampai terbesar. Termasuk keluarga, sebagai unsur kelompok masyarakat paling kecil juga merupakan sebuah tim yang menuntut hubungan antar individu di dalam tim.

Pada pembahasan pertama, penulis buku menyajikan sajian yang sangat menggugah selera pembaca. “Aku, kamu, dan kita” menjadi judul pilihan penulis untuk membuka buku yang merupakan produk Short Course selama 30 hari ini. Bagi kita, susunan kata yang menjadi kalimat tersebut terlihat sepele dan sudah biasa terdengar. Tapi tahukah Anda, bahwa tiga kata itu dibahas satu persatu dan diungkap maknanya dalam beberapa paragraf yang kalau kata generasi sekarang dibilang isinya daging semua.

Contohnya, saat membahas “kita”, selain mengurai definisi, penulis mengungkap tabir hikmah di balik penggunaan lema ini dalam keseharian maupun dalam lingkup tim. Ternyata kata “kita” dapat digunakan untuk tujuan merekatkan kebersamaan dan mengelupas friksi yang ada dalam sebuah tim. Sehingga yang ditonjolkan tidak lagi perbedaan, melainkan persamaan (hal. 5). Hal ini selaras dengan ucapan Gus Dur, Bapak Bangsa Indonesia, bahwa semakin berbeda kita maka semakin jelas di mana titik-titik persatuan kita. Alhasil perbedaan menyatukan, bukan membuat kita terkoyak-koyak.

Itu baru satu kata yang diurai dengan sangat jernih dan gamblang. Penulis menggunakan bahasa yang lugas, tak jauh berbeda dengan buku pertama. Pembaca juga dimanja dengan narasi-narasi yang menggugah emosi jiwa. Kadang kita dibuat mengangguk pelan berkali-kali sembari tersipu malu, karena yang disampaikan ada pada diri kita. Kita tersentil tapi tidak sakit hati. Kita merasa diperingatkan tapi tidak merasa digurui.

Pada konteks tim, terdapat dua hal yang dapat menjadi cikal bakal konflik dan peredam konflik. Keduanya dibahas dalam pembahasan keenam. Dua hal itu adalah judging dan understanding. Ya, menghakimi dan memahami. Keduanya bisa menjadi pemicu munculnya sebuah konflik di internal tim. Saat sebuah tim dihadapkan pada masalah, orang-orang dalam tim tersebut bisa memilih salah satu di antara keduanya. Apakah mau spontan menghakimi atau bersabar dan berusaha memahami. Yang jelas keduanya memiliki dampak pada sebuah tim. Yang pertama lebih banyak mengarah dan menyebabkan hal negatif, sedangkan yang kedua lebih bermuatan hal positif (hal. 27).

Tentu yang tak bisa dilepaskan dari buku ini adalah kekayaan referensi dan perenungan yang mendalam pada hal-hal –yang mungkin menurut kita– sederhana. Buku ini mengemas makanan ringan menjadi kaya akan kandungan gizi tapi tetap ringan untuk dinikmati. Kehadiran buku ini tentu sangat bermanfaat bagi tim yang baru dibangun, sudah lama dibangun, maupun yang berkembang pesat. Sebab setiap tim pasti memiliki tantangannya tersendiri yang dapat menjadi ancaman untuk mundur atau peluang untuk maju. Hubungan individu di dalamnya adalah salah satu faktor penting yang menentukan masa depan tim tersebut dan buku ini menjawab hal itu. Selamat membaca.

*) Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Konsentrasi Bimbingan dan Konseling Islam.

Related Posts