Seperti Apa Sih Dunia Pasca-Kematian Itu? - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Minggu, April 14, 2019

Seperti Apa Sih Dunia Pasca-Kematian Itu?

 
NU online

Penulis: Sumanto Al Qurtuby


Atorcator.Com - Seperti apakah gerangan dunia pasca-kematian itu? Tentu saja tidak ada orang yang tahu persis seperti apa wujudnya. Saya juga tidak tau karena belum pernah melakukan "penelitian lapangan" di alam kubur dan mewawancarai para almarhum dan almarhumah.

Agama hanyalah "meraba-raba" gambaran dunia akhirat. Ilmu pengetahuan juga sama. Kaum teolog hanya "mencandra" keberadaanya. Para agamawan juga sebatas "menerka-nerka". Sementara para ilmuwan, baik kaum teis maupun ateis, hanya sebatas berteori. Ada yg mempercayai "reinkarnasi" dan "kedamaian abadi". Ada pula yang meyakini "realitas" surga-neraka seperti agama-agama Semit.

Tapi semua konsep "dunia pasca-kematian" dari para agamawan maupun kaum sekuler itu, kaum teis maupun ateis itu, hanyalah "imajinasi pemikiran" dan "tafsir kultural" belaka.

Bahkan dalam batas tertentu "bias gender". Coba kalian simak baik-baik gambaran surga agama-agama Semit, Islam khususnya, yang mengonsepkan surga seperti taman rindang penuh pepohonan, aliran sungai yang menyejukan, dan tak lupa bidadari yang bahenol.

Konsep ini seperti sebuah "imajinasi" para penduduk (laki-laki) gurun padang pasir yang panas, gersang, dan kering-kerontang sehingga mendambakan sebuah suasana atau keadaan atau tempat yang adem, sejuk, rindang, penuh air, dan banyak gadis-gadis molek. Atau gambaran surga tadi seperti gambaran sebuah taman putri sebuah kerajaan di zaman dahulu kala yang penuh dengan dayang-dayang yang "siap saji". 

Pernahkah kalian membayangkan bagaimana kira-kira jika orang-orang Eskimo atau Suku Inuit yang tinggal di kawasan kutub utara merumuskun sebuah "surga"?

Apapun "realitas" dunia pasca-kematian itu, tentu saja Anda (sebagaimana saya) boleh meyakini sedalam-dalamnya. Tetapi janganlah Anda memaksakan (apalagi melalui cara-cara kekerasan) keyakinan Anda itu kepada orang lain, agama lain, umat lain, kelompok lain, komunitas lain. Apalagi dibumbui dengan olok-olok terhadap konsep "dunia pasca-kematian" umat agama lain.

Tindakan seperti ini hanyalah mengantarkan kita pada "kesombongan teologis" yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Semua konsep ada batasnya. Semua teori ada limitnya. Agama hanyalah salah satu perantara saja untuk memahami realitasnya. Hanya Tuhan yang tak berbatas dan Maha Tahu tentang dunia-Nya.

Jika manusia berbuat kebaikan (atau kejahatan) di dunia ini, saya yakin pasti kelak ada "balasan" di kemudian hari nanti, tidak penting dalam bentuk apa atau seperti apa balasan itu.