Benarkah Nabi Muhammad Hijrah Pada Bulan Muharram?

Penulis: Abdul Adzim
Sabtu 7 September 2019

Ilustrasi: Kumparan

Atorcator.Com – Pertanyaan di atas membagunkan ingatku tentang sejarah agung Hijrah Baginda Nabi ﷺ dari Makkah menuju Madinah bersama sahabat setianya Abu Bakar as-Shiddiq ra yang penuh penderitaan dan perjuangan untuk mempertahankan agama Islam. Lembar demi lembar karya para pakar sejarah Islam dan Tafsir al-Qur’an, aku buka kembali untuk memuaskan ingatanku yang kerap salah terka terbius opini publik dan terhapus oleh masa lalu yang kerap melupakan kebenaran sejarah.


Dalam Sirah an-Nabawiyah, Daru al-Kutub al-Ilmiyah, hal 207, al-Bidayah an-Nahayah, Daru al-Kutub al-Ilmiyah,  hal 187 karya Ibnu Katsir dan Tarikh at-Thabariy, Daru al-Kutub al-Ilmiyah, juz, 2 hal 365 karya Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabriy menjelaskan:


قال أبو جعفر: وقال غير ابن إسحاق: كان مقدم من قدم على النبي ﷺ للبيعة من الأنصار في ذي الحجة، وأقام رسول الله ﷺ بعدهم بمكة بقية ذي الحجة من تلك السنة، والمحرم وصفر؛ وخرج مهاجرًا إلى المدينة في شهر ربيع الأول؛ وقدمها يوم الاثنين لاثنتى عشرة ليلة خلت منه. وقال ابن كثير في سيرة النبوة والبدابة والنهاية: وقد كانت هجرته عليه السلام في شهر ربيع الأول سنة ثلاث عشرة من بعثته عليه السلام وذلك في يوم الاثنين كما رواه الإمام أحمد عن ابن عباس أنه قال: ولد نبيكم يوم الاثنين، وخرج من مكة يوم الاثنين، ونبئ يوم الاثنين، ودخل المدينة يوم الاثنين، وتوفي يوم الاثنين.



Bahwa peristiwa Hijrah Rasulullah ﷺ terjadi pada bulan Rabi’ulawal tahun 13 Bi’tsah (13 tahun setelah pengangkatan sebagai Rasul). Nabi berangkat pada 2 Rabi’ilawal dan tiba di Yatsrib (Madinah) pada tanghal 12 Rabi’ul awal setelah Bi’tsah yang bertepatan dengan hari Senin, 5 Oktober 621. Sebelum peristiwa ini tepatnya di bulan Dzul Hijjah, Rasulullah ﷺ kedatangan orang-orang dari kaum Anshor yang ingin ber-bai’at (janji setia) kepada Nabi ﷺ. Setelah itu, Nabi ﷺ diperkirakan tinggal di Makkah di sisa bulan Dzul Hijjah, lalu bulan Muharram dan Shoffar pada tahun itu sebelum akhirnya hijrah ke Madinah. Ini sesuai dengan pendapat Imam Ahmad dari riwayat Ibnu Abbas yang mengatakan: Rasulullah ﷺ lahir hari Senin, keluar dari Makkah hari Senin, mendapat wahyu hari Senin, masuk ke Madinah hari Senin dan wafat hari Senin.


Lalu bagaimana dengan opini masyarakat yang selama ini beranggapan bahwa kalender Hijriyah identik dengan peristiwa hijrah Nabi ﷺ yang dimulai dari bulan Muharram?


Jawabannya mari kita simak, pemaparan pakar sejarah Islam dan Tafsir al-Qur’an dibawah ini:


LATAR BELAKANG KALENDER


Syihabu ad-Din as-Sayyid Mahmud Al-Lusy dalam Tafsir Ruhu al-Ma’aniy, Ihya at-Turats al-Arabiy, juz 10, hal 19 mengatakan: Semua itu berawal dari surat-surat tak bertanggal, yang diterima Abu Musa Al-Asy-‘Ari ra; sebagai gubernur Basrah kala itu, dari khalifah Umar bin Khatab. Abu Musa mengeluhkan surat-surat tersebut kepada Sang Khalifah melalui sepucuk surat:

إنه يأتينا منك كتب ليس لها تاريخ



“Telah sampai kepada kami surat-surat dari Anda, tanpa tanggal.”


Dalam riwayat lain disebutkan:

إنَّه يأتينا مِن أمير المؤمنين كُتبٌ، فلا نَدري على أيٍّ نعمَل، وقد قرأْنا كتابًا محلُّه شعبان، فلا ندري أهو الذي نحن فيه أم الماضي



“Telah sampai kepada kami surat-surat dari Amirul Mukminin, namun kami tidak tau apa yang harus kami perbuat terhadap surat-surat itu. Kami telah membaca salah satu surat yang dikirim di bulan Sya’ban. Kami tidak tahu apakah Sya’ban tahun ini ataukah tahun kemarin”.


Karena kejadian inilah kemudian Umar bin Khatab ra mengajak para sahabat untuk bermusyawarah; menentukan kalender yang nantinya menjadi acuan penanggalan bagi kaum muslimin.


PENETAPAN AWAL TAHUN


Dalam musyawarah Khalifah Umar bin Khatab ra dan para sahabat, muncul beberapa usulan mengenai patokan awal tahun.


Ada yang mengusulkan penanggalan dimulai dari tahun diutus Nabi ﷺ. Sebagian lagi mengusulkan agar penanggalan dibuat sesuai dengan kalender Romawi, yang mana mereka memulai hitungan penanggalan dari masa raja Iskandar (Alexander). Yang lain mengusulkan, dimulai dari tahun hijrahnya Nabi ﷺ ke kota Madinah. Usulan ini disampaikan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Hati Umar bin Khatab ra ternyata condong kepada usulan ke dua ini:

الهجرة فرقت بين الحق والباطل فأرخوا بها



”Peristiwa Hijrah menjadi pemisah antara yang benar dan yang batil. Jadikanlah ia sebagai patokan penanggalan.” Kata Umar bin Khatab ra mengutarakan alasan.

Akhirnya para sahabat pun sepakat untuk menjadikan peristiwa hijrah sebagai acuan tahun. Landasan mereka adalah firman Allah ﷻ:

لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيه َ

Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. (QS. At-Taubah:108)


Para sahabat memahami makna “sejak hari pertama” dalam ayat, adalah hari pertama kedatangan hijrahnya Nabi ﷺ. Sehingga moment tersebut pantas dijadikan acuan awal tahun kalender hijriyah.


Al Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahillah dalam Fathul Bariy, al-Mausu’ah asy-Syamilah,  juz 7, hal 260 menyatakan:

وأفاد السهيلي أن الصحابة أخذوا التاريخ بالهجرة من قوله تعالى : لمسجد أسس على التقوى من أول يوم لأنه من المعلوم أنه ليس أول الأيام مطلقا ، فتعين أنه أضيف إلى شيء مضمر وهو أول الزمن الذي عز فيه الإسلام ، وعبد فيه النبي – صلى الله عليه وسلم – ربه آمنا ، وابتدأ بناء المسجد ، فوافق رأي الصحابة ابتداء التاريخ من ذلك اليوم ، وفهمنا من فعلهم أن قوله تعالى من أول يوم أنه أول أيام التاريخ الإسلامي ، كذا قال ، والمتبادر أن معنى قوله : من أول يوم أي دخل فيه النبي – صلى الله عليه وسلم – وأصحابه المدينة والله أعلم .

“Dan As-Suhaili memberikan tambahan informasi: Para sahabat sepakat menjadikan peristiwa hijrah sebagai patokan penanggalan, karena merujuk kepada firman Allah ﷻ,

لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيه َ

“Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya.” (QS. At-Taubah: 108)


Sudah suatu hal yang maklum; maksud hari pertama (dalam ayat ini) bukan berarti tak menunjuk pada hari tertentu. Nampak jelas ia dinisbatkan pada sesuatu yang tidak tersebut dalam ayat. Yaitu hari pertama kemuliaan islam. Hari pertama Nabi ﷺ bisa menyembah Rab-nya dengan rasa aman. Hari pertama dibangunnya masjid (red. masjid pertama dalam peradaban Islam, yaitu masjid Quba). Karena alasan inilah, para sahabat sepakat untuk menjadikan hari tersebut sebagai patokan penanggalan.


Dari keputusan para sahabat tersebut, kita bisa memahami, maksud “sejak hari pertama” (dalam ayat) adalah, hari pertama dimulainya penanggalan umat Islam. Demikian kata beliau. Dan telah diketahui bahwa makna firman Allah ﷻ: min awwali yaumin (sejak hari pertama) adalah, hari pertama masuknya Nabi ﷺ dan para sahabatnya ke kota Madinah.


Sebenarnya ada opsi-opsi lain mengenai acuan tahun, yaitu tahun kelahiran atau wafatnya Nabi ﷺ. Namun mengapa dua opsi ini tidak dipilih? Ibnu Hajar ra menjelaskan alasannya,”


لأن المولد والمبعث لا يخلو واحد منهما من النزاع في تعيين السنة ، وأما وقت الوفاة فأعرضوا عنه لما توقع بذكره من الأسف عليه ، فانحصر في الهجرة ، .



“Karena tahun kelahiran dan tahun diutusnya beliau menjadi Nabi, belum diketahui secara pasti. Adapun tahun wafat beliau, para sahabat tidak memilihnya karena akan menyebabkan kesedihan manakala teringat tahun itu. Oleh karena itu ditetapkan peristiwa hijrah sebagai acuan tahun”.


Alasan lain mengapa tidak menjadikan tahun kelahiran Nabi ﷺ sebagai acuan; karena dalam hal tersebut terdapat unsur menyerupai kalender Nashrani. Yang mana mereka menjadikan tahun kelahiran Nabi Isa as sebagai acuan.


Dan tidak menjadikan tahun wafatnya Nabi ﷺ
sebagai acuan, karena dalam hal tersebut terdapat unsur tasyabuh dengan orang Persia (majusi). Mereka menjadikan tahun kematian raja mereka sebagai acuan penanggalan.


PENENTUAN BULAN


Perbincangan berlanjut seputar penentuan awal bulan kalender hijriyah. Sebagian sahabat mengusulkan bulan Ramadhan. Sahabat Umar bin Khatab ra dan Ustman bin Affan ra mengusulkan bulan Muharram.

بل بالمحرم فإنه منصرف الناس من حجهم



“Sebaiknya dimulai bulan Muharram. Karena pada bulan itu orang-orang usai melakukan ibadah haji.” Kata Umar bin Khatab ra.


Akhirnya para sahabatpun sepakat.


Alasan lain dipilihnya bulan muharram sebagai awal bulan diutarakan oleh Ibnu Hajar rahimahullah:

لأن ابتداء العزم على الهجرة كان في المحرم ؛ إذ البيعة وقعت في أثناء ذي الحجة وهي مقدمة الهجرة ، فكان أول هلال استهل بعد البيعة والعزم على الهجرة هلال المحرم فناسب أن يجعل مبتدأ ، وهذا أقوى ما وقفت عليه من مناسبة الابتداء بالمحرم



“Karena tekad untuk melakukan hijrah terjadi pada bulan muharram. Dimana baiat terjadi dipertengahan bulan Dzulhijah (bulan sebelum muharram)


Dari peristiwa baiat itulah awal mula hijrah. Bisa dikatakan hilal pertama setelah peristiwa bai’at adalah hilal bulan muharram, serta tekad untuk berhijrah juga terjadi pada hilal bulan muharam (red. awal bulan muharram). Karena inilah muharram layak dijadikan awal bulan. Ini alasan paling kuat mengapa dipilih bulan muharram”.


So, penetapan awal bulan dalam kalender hijriyah diambil dari tekad awal Nabi ﷺ untuk melakukan hijrah bukan dari awal keberangkatan Nabi ﷺ menuju Madinah.


Waallahu A’lamu


Abdul Adzim Lahir di Surabaya. Domisili Bangkalan Madura. Alumni Pondok Pesantren Sidogir. Aktif mengajara di Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan.

Related Posts