Kearifan Ulama Berdakwah dan Mengajak Shalawatan di Malam Jumat

Penulis: Kanthongumor




Atorcator.Com – Aku mempunyai tiga anak yang sangat aku cintai. Aku bersyukur karena ketiganya tumbuh menjadi remaja yang baik. Aku berkeinginan agar mereka menjadi anak-anak yang sholih dan sholihah.


Pada suatu kesempatan, Aku membaca hadist yang mengandung makna untuk memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad shollalloohu ‘alaihi wasallam pada hari jum’at karena sholawat tersebut dihaturkan kepada Rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam seperti dalam hadist di bawah ini.


وقال مسدد : حدثنا هشام ، عن أبي حرة ، عن الحسن , قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أكثروا الصلاة علي يوم الجمعة ؛ فإنها تعرض عليه



Kemudian ketika malam jum’at aku memeriksa anak-anakku, kulihat yang sulung sedang asyiknya membaca komik, yang kedua kulihat sedang menonton telivisi dan yang ketiga aku lihat ia asyik menyanyikan lagu dangdut kesukaannya.


Aku menginginkan anak-anakku mengamalkan hadist tersebut. Maka dari itu, aku memanggil ketiga anakku. Aku pun berkata kepada anak-anakku: “Anak-anakku, aku ingin kita sekeluarga mengamalkan hadist yang menjelaskan untuk memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad shollalloohu ‘alaihi wasallam pada hari jum’at”!!.


Anak-anakku menjawab: “Baik ayah”. “Tapi kira-kira berapa kali kita membaca sholawat sehingga dianggap banyak?”. Tanya si sulung.


Aku menjawab: “Menurut bahasa arab tiga sudah dianggap banyak, boleh kita membaca sepuluh kali, empat puluh satu kali, seratus kali atau seribu kali”.


Si sulung: “Ayah, bagaimana kalau seratus kali agar tidak terlalu lelah?”.


Aku: “Begitu juga bagus”.


Si bungsu: “Waktunya kapan kira-kira kapan ayah?.


Aku: “Dalam hadist itu disebutkan hari jum’at, pagi siang sore malam yang penting masih dalam hari jum’at“.


Anak kedua: “Bagaimana kalau malam saja, setelah sholat isya’?”.


Aku: ”Baiklah, mulai jum’at ini dan seterusnya setiap malam jum’at setelah isya’ kita berkumpul membaca sholawat seratus kali”.


Dan begitulah setiap malam jum’at ba’da isya’ kami sekeluarga membaca sholawat seratus kali.


Suatu ketika si bungsu berkata: “Bagaimana kalau ayah menyediakan secangkir teh dan sepiring pisang goreng untuk kita nikmati bersama setelah selesai membaca sholawat?.


Aku: “baiklah kalau begitu”.


Dan setiap malam jum’at ba’da isya’ kami sekeluarga membaca sholawat seratus kali, dan setelah itu kami menikmati secangkir teh dan sepiring pisang goreng, sehingga para tetangga kami pun heran dengan kegiatan yang kami lakukan karena menunjukkan kerukunan antar anggota keluarga kami. Mereka meminta izin kepada kami untuk bergabung bersama. Kami pun mengizinkan tetangga kami.


Minggu berganti minggu sehingga banyak dari penduduk kampung kami yang mengetahui dan berkeinginan bergabung dalam kegiatan kami, sehingga rumah kami tidak cukup untuk menampung warga yang menginginkan untuk bergabung.


Salah satu warga pun mengusulkan agar kegiatan itu untuk dilakukan di Musholla agar lebih banyak menampung anggota.


Setelah beberapa lama, ada salah satu warga yang iri dengan kegiatan ini dan mengatakan bahwa amalan yang kami lakukan tidak berdasarkan hadist dan tidak ada pada zaman Nabi sehingga amalan kami dianggap bid’ah.


Ya jelas saja tidak ada hadist yang menjelaskan ketika malam jum’at berkumpul membaca sholawat seratus kali di musholla kemudian setelah kegiatan selesai menikmati hidangan dan minuman.


Tapi kalau orang itu mau mencari dasar dari amalan yang kami lakukan pasti menemukan yaitu seperti hadist di atas.


Begitulah contoh arifnya ulama dan wali songo dalam berdakwah mengajak masyarakat jawa.

Related Posts