Menyimak Rivalitas: Islam Puritan Dan Islam Tradisional

matapolitik

Penulis:
Nurbani Yusuf

Atorcator.Com –
Pilpres 2019 bukan hanya  persaingan antara Prabowo vs
Jokowi–tapi adalah rivalitas internal santri–isu khilafah dan isu komunis
lebih kuat dibanding social-walfare–
Tak ada masalah
dengan visi kebangsaan antara Jokowi-Prabowo–SBY–Mega. Begitu pula dengan
PDIP, Gerindra dan Demokrat. Mereka ini berada di barisan nasionalis–entah
sekuler atau religius–tak penting. Sebelumnya mereka biasa berkoalisi dan
bekerja sama–sebab platform kebangsaan yang mereka usung sama.
Bukan Jokowi
dan Prabowo yang bertarung–tapi mereka yang ada disekeliling–para pendukung
di dua kubu itulah yang sesungguhnya sedang berebut kekuasaan. Dua aliran Islam
sedang bertarung ketat: Islam Puritan dan Islam Tradisional.
Pertama: Islam
Puritan (bukan modernis) diwakili PKS, PAN, sebagian MUHAMADIYAH, FPI, HTI,
Wahabi dan aliran Islam lainnya yang lebih kecil tapi puritan dan ijtima ulama
yang mengklaim merepresentasi umat Islam secara masif. Kedua: Islam Tradisional
direpresentasi PKB, PPP kemudian NU dan seluruh underbownya, sebagian
MUHAMADIYAH, Al Washiliah, Nahdhatul Ummah dan gerakan tharikat dan ribuan
kyai-kyai kampung yang bertebaran.
James Peacok
dan Nakamura menyebut bahwa persaingan Islam Puritan dan Islam Tradisional
sudah cukup lama berlangsung–bahkan sejak era Wali Songo dan seteru
terbentuknya Kerajaan Islam Pajang. Bahkan di internal Wali Songo pun juga
terbelah antara wali pedalaman yang mendukung Dimas Sutawijaya yang kelak
menjadi Panembahan Senapati dan Wali Pesisir yang mendukung Arya Penangsang.
Juga bisa disimak dari dialog antara Sunan Ampel dan Sunan Kalijogo tentang
model dan strategi dakwah yang mereka praktikkan. Disparitas ini terus terawat
hingga saat ini tulis Fachri Ali.
Menariknya ..
Dikotomi ideologis santri–abangan–priyayi dalam Pilpres kali ini tak nampak
terlihat. Seperti dua dekade sebelumnya. Bahkan terkesan lebih membaur dan
menghilang. Berbanding terbalik  dengan rivalitas internal santri yang
menguat. Bahkan Islam modernis pun kalah, dibenam dengan dua mainstream
fanatik: Islam Puritan dan Islam Tradisional yang siginifikan terus menguat
dengan narasi politik yang kian benderang.
Aroma
Persaingan politik telah bermula sejak era reformasi–meski samar, sebab musuh
mereka adalah rezim Soeharto, rivalitas santri juga masih belum terasa sebab
masih belum masuk ranah teknis bagi kue kekuasaan. Proyek besarnya adalah
Soeharto lengser–itu sudah cukup–kemudian dibarengi dengan euphoria
berdirinya partai-partai yang sebelumnya dilarang.
Baru pada
Pilpres 2019 secara vulgar dan kasat mata mulai tampak terlihat. Konflik BANSER
bukan dengan barisan muda banteng, tapi dengan halaqah-halaqah Islam puritan.
Kerap terjadi konflik dan selisih kecil di akar rumput meski masih dalam taraf sederhana.
Ironisnya–dua
kandidat Presiden terjebak dalam arena konflik itu. Sebab butuh suara dukungan
meski secara tegas keduanya
bersetia pada
Pancasila dan NKRI. Tapi ini politik .. siapa bisa tebak ? Bukankah
masing-masing punya agenda–meski dalam satu koalisi,
Sikap
malu-malu: Islam Puritan yang menggagas Khilafah dan Islam Tradisional yang
mempertahankan Pancasila tercium juga–inilah yang sekarang sedang
bertarung–baik secara politis maupun ideologis. Pilpres hanya area tempur.
Prabowo dan Jokowi hanya martir–bukan tujuan … lantas siapa diuntungkan
ketika dua kelompok santri ber-ikhtilaf ..?

Wallahu taala
a’lam

@nurbaniyusuf
Komunitas
Padhang Makhsyar

Related Posts