Sexy Killers: Politik Oligarki Tambang Batubara Dibalik Kedua Capres

jpc
Penulis: Roy Murtadho

Atorcator.Com – Saking banyaknya komunitas, dan masyarakat umum yang membuat nobar
#SexyKillers di berbagai wilayah di Indonesia. Sampai nggak bisa lagi nge-share
satu persatu untuk turut mengabarkannya.
Sejak lama saya merasa akun ini,
tugasnya yang paling utama adalah untuk menyebarkan, atau mengabarkan berbagai
kegiatan dan akivitas kawan-kawan jaringan. Kalaupun pamer, dikit-dikit lah ya.
Namanya juga medsos. Namun jujur, kali ini, saya merasa sudah kuwalahan untuk
turut mengabarkan kegiatan nobar #SexyKillers besutan Watchdoc, wabil khusus
mas Dandhy Dwi Laksono, Tommy Apriando, Merah Johansyah Ismail dkk. Ada banyak
kiriman kegiatan berupa foto kegiatan nobar film ini ke saya dari berbagai
komunitas yang menyelenggarakannya. Saking banyaknya saya cuman bisa bergumam
dalam hati, “ya Tuhan. Ini pertanda apa? antusiasme masyarakat pada semua
film produksi Watchdoc, dan kali ini pada #SexyKillers, menunjukkan satu hal
pada kita bahwa masyarakat membutuhkan suguhan informasi yang benar yang diolah
dari data riset yang dikerjakan secara persisten tapi disuguhkan dengan cara
yang menarik, yang selama ini sulit mereka dapatkan “. #SexyKillers
menjadi salah satu contoh terbaik dari bagaimana informasi yang benar itu
ditampilkan. Dan tentu saja mencerdaskan.
Sejauh ini, masyarakat hanya
disuguhi ilusi dan citra kebajikan penguasa dan pengusaha. Mereka selalu
ditampilkan sebagai–seolah-oleh–penjaga dan penyelamat NKRI. Padahal kalau di
buka. Sesungguhnya merekalah yang membuat cita-cita republik ini porak poranda.
Berantakan dan  menyengsarakan. Ini menjadi tantangan kita di era
keterbukaan. Dimana segala hal boleh untuk dibicarakan, namun tak semua hal
yang dibicarakan tadi mengandung kebenaran. Sebagian besarnya, lagi-lagi
menyuguhkan ilusi dan citra penguasa+penguasaha. Menghadirkan rekaan bukan
realitas sesungguhnya. Namun sialnya inilah yang disuguhkan oleh kebanyakan
media koorporasi dan yang paling banyak dimamah masyarakat. Kebenaran tak
pernah sampai dan ditutupi tudung ilusi tentang narasi kebijakan yang dibangun
penguasa dan pengusaha.
Maka itu, semua kisah tentang akal
sehat seperti dibangun Rocky Gerung atau pesan bijak Romo Magnis Suseno, agar
memilih dengan bijak menjadi ironi di tengah kehidupan demokrasi semu di bawah
selangkangan hasrat ekonomi politik oligarki. Bahkan pesan bijak para filsuf
tersebut menjadi bagian dari persoalan itu sendiri. Alih-alih membongkar ilusi
dan citra penguasa dan pengusaha, tapi justru makin mempertebalnya. Mereka lupa
bahwa dalam konteks pemilu elektoral mereka tidak pernah memilih tapi
dipilihkan. Apa yang dimaksud dengan bijak memilih di sini? Tak ada. Ilusi.
Persis seperti miniatur kehidupan di jaman kapitalisme mutakhir. Di mana semua
orang bebas memilih tapi, mereka tak punya kuasa untuk memilih. Karena faktanya
mereka selalu telah dipilihkan. Bahkan selera hasratnya pun telah dikonstruksi
oleh seperangkat ide dan selera pasar. Bukan pilihan mereka.
Artinya apa. Kita tak mendapat
asupan informasi yang benar di tengah banjir informasi. Yang mereka tangkap
hanyalah citra. Sesuatu yang sifatnya seolah-olah, bukan senyatanya. Semua
omongan elit bisa dipastikan sebagian besarnya adalah hoax. Baik hoax tentang
pembangunan maupun tentang cita-cita khilafah Islam.
Anak saya yang masih usia 11 tahun
saja tahu, bahwa apa yang dikatakan Prabowo dan Jokowi dalam debat pilpres
dengan tema lingkungan beberapa waktu lalu bukanlah pernyataan yang benar.
“Itu kan nggak bener. Ya mana mau mereka menghukum perusahaan perusak lingkungan
seperti yang dikatakan di debat. Lha kalau benar begitu (seperti yang telah
mereka katakan akan menghukum perusahaan perusak lingkungan). Mereka harus
menutup perusahaan milik mereka sendiri. Lha terus siapa nanti yang ngasih duit
buat kampanye? Begitu ya yah?” Demikian katanya dan berusaha meyakinkan
saya. Mengapa Ia bisa berpikir begitu. Sederhana. Karena Ia melatih dirinya
untuk menggali informasi yang benar dengan kritis. Mencari sumber-sumber
informasi yang bisa dipercaya kebenarannya. Tapi apakah itu terjadi bagi semua
masyarakat Indonesia. Tentu tidak. Mereka adalah korban dari informasi yang
tidak benar atas semua isu yang beredar.
Jadi, bagaimana masyarakat bisa
memilih di dengan bijak, dan menggunakan akal sehatnya dengan maksimal sementara
prasyarat untuk memenuhi itu semua tak pernah ada. Semua info yang benar telah
didistorsi oleh penguasa dan pengusaha. Inilah yang dulu di sebut oleh Coen
Pontoh, sebagai hidup di jaman demokrasi pasar. Sekarang kita merasakannya.
Jadi aneh juga kalau ada anak muda sekolah luar negeri ke Eropa masih
mengatakan bahwa film #SexyKillers adalah pesanan donor yang merusak. Lha
kenapa ia nggak bisa mikir kayak anak saya yang SD tadi. Atau jangan-jangan
karena terlaku canggih memamah segala rupa teori sampai nggak mampu lagi
berpikir sederhana, karena saking rumitnya kajiannya. Bisa jadi. Kenapa
orang-orang pintar itu nggak nanya, misalnya, dari mana sumber duit yang
dipakai untuk mendanai semua aktifitas kampanye elit? Dari mana sumber duit
yang dipakai semua kubu untuk membayar elit agama dan membentur-benturkan
mereka semua agar sibuk berantem sendiri? Kira-kira dari mana duit yang dipakai
para elit politik untuk memproduksi hoax dan fitnah, agar sesama rakyat saling
memukul?.
Kadang-kadang, bukan mau menghina.
Sekolah tinggi-tinggi seperti orang-orang hebat itu tapi karena kurang atau
enggan bergaul dengan rakyat, tidak memiliki pengalaman harian dengan mereka
yang di sisihkan dan menjadi korban dari semua cerita agung pembangunan,
bukannya menjadi teman seperjuangan masyarakat justru menjadi juru bicara
perampasan dan perusakan.
Alhasil, sebagai penutup perjalanan
Indonesia Biru, film ini menjadi suguhan yang menarik sebab di dalamnya berisi
kombidansi antara ironi hidup rakyat di Indonesia dan panggung politik oligarki
yang bergelimang uang tambang. Jadi siapapun yang melihat pasti dibuat campur
aduk. Tertawa, sekaligus miris, gemas, dan marah melihat kondisi republik
ini.  Bayangkan saja, ada gubernur seperti gubernur Kaltim, yang konon
katanya terpilih melalui proses demokratis. Setelah melihatnya, Anda akan
dipaksa untuk berpikir ulang tentang demokrasi kita. Ada apa dengan demokrasi
kita, mengapa para pengecut seperti gubernur Kaltim bisa menjadi pemimpin?? Ada
apa dengan demokrasi kita sehingga kita hanya dipaksa memilih antara Jokowi dan
Prabowo.
Lihat saja statemen sang gubernur
Kaltim, Ia dengan enteng mengatakan bahwa kematian anak-anak di lubang tambang
batubara adalah takdir dan nasib yang harus diterima masyarakat. Gimana
perasaan Anda. Bayangkan bagaimana perasaan keluarga korban yang mendengarnya?
Saya sendiri pernah berjumpa dengan para ibu yang anaknya tenggelam di bekas
lubang galian tambang batubara. Salah seorang ibu bercerita tentang kampungnya
yang dihancurkan dan anaknya yang tenggelam di lubang galian tambang, bahkan
sambil menangis sesenggukan di pundak saya. Saya mendengar langsung keluh
kesah, dan kekecewaan mereka. Saya juga pernah lihat langsung bagaimana lahan
petani dan nelayan dirampas tanah dan mata pencahariannya secara sewenang-wenang
yang melibatkan tak hanya aparat, tapi juga elit agama. Saya mendengar langsung
semua kisah penghancuran hidup tersebut. Setelah tanah, dan kampung halaman
milik mereka dirusak, kini sesuatu yang paling berharga dari hidup mereka
yaitu, anak-anaknya pun telah direnggut perusahaan tambang batubara milik para
mantan jenderal yang Jakarta gemar jual omong menjaga NKRI. Dan menjual citra
bahwa dirinyalah penjaga NKRI yang sejati. Bagaimana kira-kira perasaanmu?

Sudah bisa dibayangkan. Bila Anda
ada di dekat sang Gubernur Kaltim. Anda pasti ingin sekali memukul mulutnya
pakai sandal swallow, atau nyeplok telur dadar di atas kepalanya. Gemes, muak,
jengkel, tapi mengambil tindakan benar. Itulah Sexy Killers. Terimakasih
kawan-kawan. Kalian berharga bagi hidup dan pikiranku untuk tetap waras dan
waspada hidup di bumi Indonesia yang secara sosial ekologis telah
porak-poranda.

Related Posts