Abdullah Bin Ubay: Tokoh Politik Di Masa Nabi Yang Berdiri Di Atas Dua Kaki - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Kamis, Mei 23, 2019

Abdullah Bin Ubay: Tokoh Politik Di Masa Nabi Yang Berdiri Di Atas Dua Kaki

Ilustrasi foto (Media)

Penulis: KH. DR. Miftah el-Banjary, MA 

Atorcator.Com - Masih ingat kisah Abdullah bin Ubay bin Salul? Ya, dialah tokoh utama munafik yang paling diingat dalam sejarah Islam. Dia pula lah tokoh sentral salah satu penyebab kekalahan umat Islam pada peperangan Uhud.

Sepanjang hidupnya di masa Rasulullah, Abdullah bin Ubay selalu menjadi duri dalam daging, menggunting dalam lipatan, lempar batu sembunyi tangan.

Demikian manakala ayat-ayat terbanyak yang diturunkan pada periode Madinah selalu berbicara tentang perilaku orang-orang munafik, maka selalu saja tertuju pada tokoh ini dan kelompoknya.

Tindak tanduk Abdullah bin Ubay lebih tepat disebut sebagai seorang politisi "cari aman", ketimbang disebut pejuang dan sahabat Rasulullah, meski dia bertemu hidup sezaman dan menyatakan beriman pada Rasulullah.

Keberimanannya semata-mata ingin mencari posisi "aman" dan dukungan politik dari umat Islam. Pada saat yang sama, dia bersahabat dekat dengan para penganut agama Yahudi untuk mencari kelemahan dan mendeskreditkan umat Islam.

Dalam persoalan peperangan, Abdullah bin Ubay selalu enggan berperang bersama Rasulullah dengan berbagai alasan, dia seakan tampil bijak menekankan pentingnya rekonsiliasi, kedamaian dan persahabatan antar kelompok dan suku, namun dibalik itu dia dan kelompoknya lah penghasut utama permusuhan.

Abdullah bin Ubay sangat pintar memanfaatkan kondisi dan keadaan untuk menutupi sifat munafiknya. Terkadang dia tampak sangat bersemangat bergabung dalam koalisi persatuan umat Islam.

Terbukti, menjelang perang terbesar kedua setelah perang Badar di bulan Ramadhan, pada bulan Syawal perang Uhud kembali digelar meski jumlah pasukan kaum muslimin hanya berkisar 700 orang pasukan dari sahabat di Madinah.

Kondisi itu dimanfaatkan oleh Abdullah bin Ubay yang berhasil menghimpun bantuan kekuatan sebanyak 600 orang dari orang Yahudi Bani Qainuqa untuk membantu kaum muslimin yang tengah membutuhkan kekuatan pasukan.

Meski pada awalnya Rasulullah, tidak menaruh harapan besar dan terkesan menolak bantuan pasukan dari Yahudi yang telah digalang oleh Abdullah bin Ubay, akhirnya terbukti pengkhiantannya yang berbuah kekalahan umat Islam pada perang Uhud.

Manakala tengah berhadapan dengan kafir Quraisy Makkah yang berkekuatan sejumlah 3.000 orang pasukan, Abdullah bin Ubay bersama pasukannya mundur melarikan diri dari peperangan dengan mengajak sekitar 300 orang dari suku Qainuqa Yahudi.

Kekelahan pada perang Uhud, tidak terlepas dari tekanan psikologis pasukan Abdullah bin Ubay yang justru memecah diri dari pasukan, sehingga kekuatan melemah, formasi kacau berantakan, musuh dengan mudah membalikkan serangan.

Belum lagi, hoax dan fitnah yang tersebar bahwa Rasulullah wafat juga telah melemahkan kekuatan mental pasukan kaum muslimin yang tak terlepas dari strategi kaum munafik yang sejatinya ingin membuat kekalahan umat Islam dari dalam.

Kekalahan kaum muslimin pada perang Uhud menjadi duka pada permukaan orang-orang munafik, akan tetapi menjadi kegembiraan di dalam hati dan bathin mereka. Mereka sesungguhnya musuh dalam selimut, penebar racun dalam makanan.

Namun, dalam hal pembagian harta ghanimah peperangan, mereka selalu tampil di depan. Dalam persoalan bagi-bagi kekuasaan, mereka selalu akan tampil mengatakan, "Kan kami juga ikut berjuang memenangkan pertempuran!"

Jika kita melacak dari awal sejarahnya apa motivasi terbesar dari pengkhianatan Abdullah bin Ubay bin Salul ini, maka kita akan mendapati satu titik motivasinya yang haus serta ambisinya terhadap syahwat kekuasaan dan jabatan politik. 

Sebelum kedatangan Rasulullah ke Madinah, Abdullah bin Ubay hampir saja akan diangkat oleh penduduk Yatsrib kala itu sebagai seorang Raja. Usai perang Bu'ats, dua suku yang saling bertikai; Ausz dan Kharraj bersedia menunjuk Abdullah bin Ubay sebagai pemimpin yang akan menyatukan mereka.

Namun, berawal dari 6 orang penduduk Yatsrib yang kembali dari Makkah membawa kabar tentang risalah yang dibawa oleh seorang Nabi akhir zaman yang akan datang mempersatukan kaum beriman, maka isu pengangkatan raja bagi Abdullah bin Ubay menjadi redup.

Masyarakat lebih menyambut harapan akan kedatangan seorang nabi baru, ketimbang menaruh harapan pada seorang pemimpin politis semata. Semenjak itulah, Abdullah bin Ubay merasa kepentingan politisnya terganggu dan terhalang oleh kedatangan Rasulullah.

Meskipun dia beriman, namun hal itu dilakukan semata-mata agar dia tidak terkucilkan dan masih mendapatkan penghargaan sekaligus demi mempertahankan status sosialnya di tengah-tengah mayoritas penduduk kaum muslimin di Madinah.

Pada saat yang sama, dia dan kelompoknya telah menjalin persahabatan dan keakraban dengan musuh kaum muslimin. Dia bergaul baik dengan kedua kelompok, menjelekkan satu kelompok dihadapan kelompok lain, lalu memuji dihadapan kelompok yang dia hadapi.

Abdullah bin Ubay adalah tokoh politisi di masa Nabi yang pandai bermain di dua kaki. Pada satu kesempatan dia berada di tengah kaum muslimin, namun pada kali kesempatan lain dia berada di kelompok rival sebagai musuh Islam.

Manakala Abdullah bin Ubay meninggal dunia pada tahun 9 Hijrah, turunlah ayat yang menegaskan Rasulullah untuk tidak menshalatkan jenazah orang munafik. Demikianlah al-Qur'an mengajari Nabi-Nya dan kaum muslimin untuk tegas terhadap perilaku kemunafikan mereka.

Begitulah sejarah mengajari kita.
Demikianlah, sekali lagi, sejarah demi sejarah terus mengingatkan bahwa dia akan selalu dan senatiasa berulang dan berulang. Tinggal kita, apakah masih memercayai mereka atau tegas meninggalkan mereka. Semua pilihan tergantung pada Anda!


Masih adakah tokoh munafik itu di sekeliling kita? Mungkin kita akan temukan di setiap sisi empang di seluruh negeri ini. Selesai.

  • KH. DR. Miftah el-Banjary, MA Penulis National Bestseller | Dosen | Pakar Linguistik Arab & Sejarah Peradaban Islam | Lulusan Institute of Arab Studies Cairo Mesir.