Abdullah Bin Ubay: Tokoh Politik Di Masa Nabi Yang Berdiri Di Atas Dua Kaki

Ilustrasi foto (Media)
Penulis: KH. DR. Miftah el-Banjary, MA 

Atorcator.Com – Masih ingat kisah Abdullah bin Ubay bin Salul? Ya, dialah
tokoh utama munafik yang paling diingat dalam sejarah Islam. Dia pula lah tokoh
sentral salah satu penyebab kekalahan umat Islam pada peperangan Uhud.
Sepanjang hidupnya di masa Rasulullah, Abdullah bin Ubay
selalu menjadi duri dalam daging, menggunting dalam lipatan, lempar batu
sembunyi tangan.
Demikian manakala ayat-ayat terbanyak yang diturunkan pada
periode Madinah selalu berbicara tentang perilaku orang-orang munafik, maka
selalu saja tertuju pada tokoh ini dan kelompoknya.
Tindak tanduk Abdullah bin Ubay lebih tepat disebut sebagai
seorang politisi “cari aman”, ketimbang disebut pejuang dan sahabat
Rasulullah, meski dia bertemu hidup sezaman dan menyatakan beriman pada
Rasulullah.
Keberimanannya semata-mata ingin mencari posisi
“aman” dan dukungan politik dari umat Islam. Pada saat yang sama, dia
bersahabat dekat dengan para penganut agama Yahudi untuk mencari kelemahan dan
mendeskreditkan umat Islam.
Dalam persoalan peperangan, Abdullah bin Ubay selalu enggan
berperang bersama Rasulullah dengan berbagai alasan, dia seakan tampil bijak
menekankan pentingnya rekonsiliasi, kedamaian dan persahabatan antar kelompok
dan suku, namun dibalik itu dia dan kelompoknya lah penghasut utama permusuhan.
Abdullah bin Ubay sangat pintar memanfaatkan kondisi dan
keadaan untuk menutupi sifat munafiknya. Terkadang dia tampak sangat
bersemangat bergabung dalam koalisi persatuan umat Islam.
Terbukti, menjelang perang terbesar kedua setelah perang
Badar di bulan Ramadhan, pada bulan Syawal perang Uhud kembali digelar meski
jumlah pasukan kaum muslimin hanya berkisar 700 orang pasukan dari sahabat di
Madinah.
Kondisi itu dimanfaatkan oleh Abdullah bin Ubay yang berhasil
menghimpun bantuan kekuatan sebanyak 600 orang dari orang Yahudi Bani Qainuqa
untuk membantu kaum muslimin yang tengah membutuhkan kekuatan pasukan.
Meski pada awalnya Rasulullah, tidak menaruh harapan besar
dan terkesan menolak bantuan pasukan dari Yahudi yang telah digalang oleh
Abdullah bin Ubay, akhirnya terbukti pengkhiantannya yang berbuah kekalahan
umat Islam pada perang Uhud.
Manakala tengah berhadapan dengan kafir Quraisy Makkah yang
berkekuatan sejumlah 3.000 orang pasukan, Abdullah bin Ubay bersama pasukannya
mundur melarikan diri dari peperangan dengan mengajak sekitar 300 orang dari
suku Qainuqa Yahudi.
Kekelahan pada perang Uhud, tidak terlepas dari tekanan
psikologis pasukan Abdullah bin Ubay yang justru memecah diri dari pasukan,
sehingga kekuatan melemah, formasi kacau berantakan, musuh dengan mudah
membalikkan serangan.
Belum lagi, hoax dan fitnah yang tersebar bahwa Rasulullah
wafat juga telah melemahkan kekuatan mental pasukan kaum muslimin yang tak
terlepas dari strategi kaum munafik yang sejatinya ingin membuat kekalahan umat
Islam dari dalam.
Kekalahan kaum muslimin pada perang Uhud menjadi duka pada
permukaan orang-orang munafik, akan tetapi menjadi kegembiraan di dalam hati
dan bathin mereka. Mereka sesungguhnya musuh dalam selimut, penebar racun dalam
makanan.
Namun, dalam hal pembagian harta ghanimah peperangan, mereka
selalu tampil di depan. Dalam persoalan bagi-bagi kekuasaan, mereka selalu akan
tampil mengatakan, “Kan kami juga ikut berjuang memenangkan
pertempuran!”
Jika kita melacak dari awal sejarahnya apa motivasi terbesar
dari pengkhianatan Abdullah bin Ubay bin Salul ini, maka kita akan mendapati
satu titik motivasinya yang haus serta ambisinya terhadap syahwat kekuasaan dan
jabatan politik. 
Sebelum kedatangan Rasulullah ke Madinah, Abdullah bin Ubay
hampir saja akan diangkat oleh penduduk Yatsrib kala itu sebagai seorang Raja.
Usai perang Bu’ats, dua suku yang saling bertikai; Ausz dan Kharraj bersedia
menunjuk Abdullah bin Ubay sebagai pemimpin yang akan menyatukan mereka.
Namun, berawal dari 6 orang penduduk Yatsrib yang kembali
dari Makkah membawa kabar tentang risalah yang dibawa oleh seorang Nabi akhir
zaman yang akan datang mempersatukan kaum beriman, maka isu pengangkatan raja
bagi Abdullah bin Ubay menjadi redup.
Masyarakat lebih menyambut harapan akan kedatangan seorang
nabi baru, ketimbang menaruh harapan pada seorang pemimpin politis semata.
Semenjak itulah, Abdullah bin Ubay merasa kepentingan politisnya terganggu dan
terhalang oleh kedatangan Rasulullah.
Meskipun dia beriman, namun hal itu dilakukan semata-mata
agar dia tidak terkucilkan dan masih mendapatkan penghargaan sekaligus demi
mempertahankan status sosialnya di tengah-tengah mayoritas penduduk kaum
muslimin di Madinah.
Pada saat yang sama, dia dan kelompoknya telah menjalin
persahabatan dan keakraban dengan musuh kaum muslimin. Dia bergaul baik dengan
kedua kelompok, menjelekkan satu kelompok dihadapan kelompok lain, lalu memuji
dihadapan kelompok yang dia hadapi.
Abdullah bin Ubay adalah tokoh politisi di masa Nabi yang
pandai bermain di dua kaki. Pada satu kesempatan dia berada di tengah kaum
muslimin, namun pada kali kesempatan lain dia berada di kelompok rival sebagai
musuh Islam.
Manakala Abdullah bin Ubay meninggal dunia pada tahun 9
Hijrah, turunlah ayat yang menegaskan Rasulullah untuk tidak menshalatkan
jenazah orang munafik. Demikianlah al-Qur’an mengajari Nabi-Nya dan kaum
muslimin untuk tegas terhadap perilaku kemunafikan mereka.
Begitulah sejarah mengajari kita.
Demikianlah, sekali lagi, sejarah demi sejarah terus
mengingatkan bahwa dia akan selalu dan senatiasa berulang dan berulang. Tinggal
kita, apakah masih memercayai mereka atau tegas meninggalkan mereka. Semua
pilihan tergantung pada Anda!

Masih adakah tokoh munafik itu di sekeliling kita? Mungkin
kita akan temukan di setiap sisi empang di seluruh negeri ini. Selesai.

  • KH. DR. Miftah el-Banjary, MA Penulis National Bestseller | Dosen | Pakar Linguistik Arab & Sejarah Peradaban Islam | Lulusan Institute of Arab Studies Cairo Mesir.

Related Posts