Berapa Banyak Dosa yang Diperbuat Atas Nama Agama?

Ilustrasi foto
Penulis: Rudi S
Kamri
Atorcator.Com
“Agama dimaksudkan sebagai rahmat bagi semua umat manusia, untuk
bisa menjadi tali penghubung antara semua ciptaanNya. Kita semua bersaudara
bukan karena satu keturunan tapi karena satu Tuhan yang berkuasa di atas sana.
Oh Tuhan,
kadang aku berpikir bahwa agama lebih baik tidak ada saja. Karena justru
agamalah penyebab perselisihan, perpecahan dan pertumpahan darah dan bukan
menjadi tali pemersatu umat manusia.
Aku sering
bertanya pada diriku sendiri: apakah agama merupakan sebuah rahmat kalau
prakteknya malah seperti ini? Kata orang, agama akan menjaga kita dari
perbuatan dosa, namun berapa banyak dosa yang telah diperbuat atas nama agama?”
Jepara, 6
November 1899

RA KARTINI
Ungkapan hati
seorang Kartini 120 tahun lalu ternyata telah melampaui jamannya. Dan memang
benar kenyataannya bahwa apabila agama di tangan orang yang salah membuat dunia
ini goyah dan bubrah. Kita sudah melihat contoh nyata negara-negara di Timur
Tengah. Politisasi agama ternyata membuat rakyat menderita. Agama hanya
digunakan sebagai alat untuk mencari kekuasaan.
Makna agama
yang salah saat ini juga tengah diinfiltrasikan oleh beberapa oknum provokator
ke otak primitif sebagian rakyat Indonesia. Dengan kemasan negara syari’ah,
orang-orang yang berideologi Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin mencoba
mencuci otak rakyat Indonesia. Seolah negara dengan sistem khilafah adalah
satu-satunya solusi kehidupan masyarakat yang Islami. Padahal dari sejarah
tidak ada jejak Rasulullah mendoktrin sistem khilafah untuk urusan kenegaraan.
Doktrin
dogmatis ini yang dicoba dijejalkan oleh orang-orang HTI dan kelompok Islam
radikal ke dalam otak masyarakat. Akibatnya sebagian masyarakat yang terpapar
paham sesat ini menjadi beringas. Mereka menjadi anti pemerintah dan anti
keberagaman. Ideologi negara Pancasila seolah menjadi barang haram di mata
mereka. Di tangan mereka Islam yang sejatinya merupakan rahmatan lil alamin
menjadi berwajah kasar dan sangar. Di muka mereka tidak ada lagi kelembutan
Islam yang sebenarnya.
Ini PR besar
bangsa ini. Kalau tidak segera di atasi kesesatan pola pikir ini akan menular
liar tidak tertahan. Dan ini ancaman serius bagi kelangsungan kebhinekaan
Indonesia. Dan ini akan menjadi bom waktu yang berpotensi meruntuhkan NKRI. PR
besar ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tapi juga menjadi
tanggung jawab para ulama, tokoh masyarakat dan kita semua.
Kartini telah
menulis kecemasannya. Dan ini bisa terjadi kalau kita lalai mengatasinya. Untuk
menjaga Indonesia tetap utuh dan maju, bukan sekedar membangun ekonomi atau
pembangunan fisik semata, tapi lebih penting dari itu adalah membangun watak
manusia Indonesia yang akhlakul kharimah, berbudaya dan mencintai keutuhan
bangsa dan negara.
Dan pembangunan
dengan orientasi “Nation Building” ini sangat mendesak agar di masa
depan tidak ada lagi manusia Indonesia seperti Habib Rizieq Shihab, Felix
Siauw, Tengku Zulkarnain, Solatun, Amien Rais dan lain-lain.
Menurut saya
ini lebih mendesak dilakukan dibanding memindahkan ibukota, Pak Jokowi.
Salam SATU
Indonesia

Related Posts